BB – Desa Kuimasi, yang terletak di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, hanya sepelemparan batu dari pusat pemerintahan Kabupaten Kupang di Oelamasi. Namun, kondisi infrastruktur di desa ini masih jauh dari layak. Akses jalan yang rusak parah dan krisis air bersih menjadi keluhan utama warga yang seolah terabaikan.
Yesaya Manu, seorang warga Desa Kuimasi, menyampaikan keluhannya kepada media ini melalui rilis resmi pada Jumat (27/6). Dengan nada penuh keprihatinan, ia menceritakan bagaimana anak-anak di desanya harus berjibaku dengan lumpur saat pergi ke sekolah, terutama saat musim hujan tiba.
“Anak-anak kami ke sekolah berlumpuran lumpur. Jalan belum pernah diperbaiki dengan benar. Saat hujan, jalanan berubah jadi kubangan. Kami hanya bisa menangis melihat perjuangan mereka,” ungkap Yesaya lirih.
Tak hanya soal jalan, penderitaan warga Kuimasi juga datang dari ketiadaan air bersih. Efrasina Nomleni, ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah tersebut, mengaku keluarganya terpaksa mengandalkan air tengki yang dibeli dengan harga mahal.
“Kami selalu beli air tengki Rp120.000 per isi, dan itu hanya cukup untuk beberapa minggu. Tidak sampai satu bulan sudah habis. Kami mandi, cuci, bahkan minum dari air beli. Ini bukan hidup yang kami harapkan di negeri sendiri,” tutur Efrasina dengan nada penuh harap
Desa Kuimasi seolah terpinggirkan di tengah gencarnya pembangunan. Padahal, letaknya sangat dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Kupang.
Hal inilah yang menjadi keprihatinan besar Kepala Desa Kuimasi, Maksen Lifu. Dalam wawancara terpisah, Maksen menjelaskan bahwa hingga saat ini masih ada sekitar lima kilometer jalan di desa mereka yang belum diaspal.
“Kami mohon kepada pemerintah daerah, khususnya Dinas PUPR Kabupaten Kupang, agar membuka mata. Kuimasi hanya ditiris dari kota Oelamasi, tapi kami seperti tak terlihat. Lima kilometer jalan itu sangat menentukan akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga kami,” jelas Maksen yang juga dikenal sebagai putra berdarah Rote.
Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan air bersih menjadi persoalan serius yang tak kunjung menemukan solusi. Maksen berharap PDAM Kabupaten Kupang segera mengintervensi agar distribusi air bersih dapat menjangkau seluruh warga desa.
“Ini bukan hanya soal fasilitas, tapi soal martabat warga. Jangan biarkan kami terus membeli air seakan kami hidup di padang tandus,” lanjutnya.
Warga Desa Kuimasi kini hanya bisa berharap — berharap agar keluhan mereka tidak berhenti di tengah berita ini, tidak hilang dalam rapat-rapat pemerintahan yang terlalu formal, dan tidak larut dalam janji-janji politik yang kering makna. Mereka menanti kehadiran negara di tengah kesulitan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
