Kupang,BBC — Fenomena penipuan yang marak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir-akhir ini tidak hanya mengancam stabilitas sosial, tetapi juga menguji iman dan karakter generasi muda Kristen.

Dalam refleksi akademik berjudul “Stop Normalisasi Orang Dalam: Percaya Tuhan atau Percaya Manusia”, mahasiswa Program Studi Pendidikan Musik, Yunus Sanam (NIM 17125163), menyoroti bahwa meningkatnya kasus penipuan dan praktik “orang dalam” merupakan indikator lemahnya iman dan ketergantungan berlebihan manusia pada sesama, bukan kepada Tuhan.

Dalam analisisnya, Yunus menulis bahwa kasus-kasus penipuan di NTT kini semakin kompleks. Penipuan dilakukan oleh sejumlah oknum aparat TNI, Polri dan masyarakat yang tidak bertanggung jawab, dengan memanfaatkan kebutuhan dan kelemahan ekonomi korban.

“Akhir-akhir ini banyak sekali kasus penipuan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Penipuan dilakukan oleh sejumlah oknum TNI/POLRI maupun masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Tindakan ini sangat merugikan banyak pihak dan juga merupakan perilaku yang menyimpang dari ajaran kekristenan,” tulis Yunus.

Ia menambahkan, banyak anak muda saat ini beranggapan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan harus memiliki ‘orang dalam’. Pola pikir ini melahirkan mental ketergantungan dan hilangnya semangat berproses, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah.

“Banyak anak muda di luar sana beranggapan bahwa ketika mencari pekerjaan harus punya orang dalam. Mereka tidak berani meraih mimpi karena keterbatasan ekonomi, bahkan ada yang ingin segalanya serba instan tanpa proses,” tulisnya.

Kondisi ini membuka ruang bagi praktik penipuan oleh calo dan oknum tertentu yang menawarkan pekerjaan atau jabatan dengan imbalan uang.

Sebagai contoh nyata, Yunus mengutip pemberitaan Tribunnews.com tentang kasus yang menimpa Junus Dami, pemuda asal Kabupaten Rote Ndao, yang menjadi korban penipuan oleh oknum polisi berinisial Aipda AA.

“Korban mengalami kerugian sebesar Rp225.000.000. Pelaku menjanjikan korban akan menjadi polisi dengan syarat membayar uang tersebut,” tulis Yunus.

Untuk memenuhi permintaan itu, korban dan keluarganya meminjam uang ke bank dan koperasi dengan jaminan sertifikat tanah dan surat berharga lainnya. Namun janji pelaku tidak terbukti.

Korban dinyatakan gugur pada tahap pemeriksaan kesehatan pertama, dan pelaku tidak mau bertanggung jawab. Akibatnya, keluarga korban mengalami kerugian berat dan melaporkan kasus tersebut ke pihak berwenang.

“Kekecewaan dan kerugian yang dialami korban sangat berat karena harus melunasi semua utang-utang, sementara pelaku tidak mau bertanggung jawab,” tulisnya lagi.

Yunus menilai bahwa peristiwa semacam ini bukan kejadian tunggal, melainkan fenomena berulang yang menandakan rusaknya nilai moral dan spiritual dalam masyarakat.

Dalam bagian reflektif tulisannya, Yunus mengajukan pertanyaan moral yang tajam:

“Bagaimana respon kita sebagai anak muda Kristen agar tidak menjadi pelaku maupun korban penipuan?”

Pertanyaan ini ia jawab dengan mengacu pada firman Tuhan yang menegaskan pentingnya kepercayaan penuh kepada Allah. Ia mengutip Mazmur 118:8:

“Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia.”

Menurut Yunus, ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh menempatkan manusia lain di atas Tuhan dalam urusan hidup dan masa depan. Ia menulis:

“Mazmur Daud mengajarkan kita bahwa lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia. Firman ini menegaskan bahwa kita sebagai anak Allah tidak boleh lebih percaya kepada manusia, tetapi harus percaya kepada Sang Pemberi Jalan Kebenaran dan Kehidupan Kekal.”

Lebih lanjut, ia menambahkan Yesaya 26:3–4 sebagai penguatan iman:

“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal.”

Bagi Yunus, ayat ini menunjukkan bahwa keteguhan hati dan rasa damai sejati hanya datang dari Tuhan, bukan dari bantuan manusia. Ia menilai bahwa akar dari tindakan penipuan, calo dan praktik “orang dalam” adalah kurangnya kepercayaan manusia terhadap penyelenggaraan Tuhan.

Lebih jauh, Yunus menyinggung kecenderungan manusia yang mudah khawatir akan masa depan, terutama mengenai pekerjaan dan ekonomi. Ia mengutip Matius 6:26–27 sebagai dasar teologisnya:

“Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai, namun diberi makan oleh Bapamu di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Ia menegaskan bahwa kekhawatiran tidak menambah nilai kehidupan manusia, justru melemahkan iman dan mendorong manusia mengandalkan sesama lebih daripada Tuhan.

“Khawatir tidak akan membuat anda hidup. Percaya kepada Allah yang peduli terhadap detail kehidupan adalah strategi yang lebih baik,” tulisnya dengan nada reflektif.

Yunus memaparkan sejumlah konsekuensi negatif dari sikap terlalu berharap kepada manusia, di antaranya:

Manusia bisa mengecewakan, namun Tuhan tidak.

Manusia memiliki keterbatasan dan tidak dapat memenuhi semua ekspektasi.

Manusia tidak memiliki kuasa seperti Allah.

Kebencian dapat muncul dari hati karena harapan yang dikhianati.

Ketergantungan membuat seseorang tidak berkembang.

Muncul sifat malas karena terbiasa bergantung pada orang lain.

“Stop terlalu berlebihan berharap kepada manusia,” tulis Yunus secara tegas. “Manusia memang saling membutuhkan, tetapi ada aturan dan batasannya. Jika kita terlalu berharap kepada manusia, kita akan lupa dengan Allah dan jatuh ke dalam dosa.”

Sebagai solusi moral dan spiritual, Yunus menawarkan beberapa langkah penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar manusia tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap sesama:

Percaya kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan lakukan perintah-Nya.

Kenali diri sendiri dan kembangkan kemampuan pribadi.

Latih kemandirian dari hal-hal kecil agar terbiasa berjuang sendiri.

Bersyukur atas apa yang dimiliki tanpa membandingkan diri dengan orang lain.

Cari tahu maksud Tuhan dan serahkan segala pergumulan hidup kepada-Nya.

Yunus menekankan bahwa membaca dan merenungkan Alkitab secara rutin adalah kunci utama untuk membangun iman yang teguh dan karakter yang mandiri.

“Kita harus rajin membaca kitab suci atau Alkitab,” tulisnya menutup refleksi, “karena di dalamnya terdapat petunjuk hidup agar kita tidak terlalu bergantung pada manusia.”

Tulisan Yunus Sanam bukan sekadar opini moral, tetapi juga seruan spiritual dan sosial bagi generasi muda Kristen agar tidak menyerahkan masa depannya kepada sistem dunia yang korup dan penuh tipu daya. Melalui pendekatan iman, ia mengingatkan bahwa satu-satunya sumber pengharapan sejati adalah Tuhan sendiri.

“Percaya Tuhan atau manusia?” tulisnya menantang pembaca. “Kita semua diuji — apakah kita berani mempercayakan masa depan kepada Tuhan, atau tetap terikat pada kuasa dunia yang menyesatkan?”