KUPANG, BBC – Di tengah dunia yang terus berubah dengan segala tantangan zaman, harapan akan masa depan sesungguhnya tetap bertumbuh dari hati para pemuda yang memilih berjalan bersama Tuhan.

Sebanyak 500 pemuda dari 15 jemaat se-Klasis Amarasi Selatan berkumpul dalam Camp Pemuda Klasis Amarasi Selatan yang dipusatkan di halaman Gedung Gereja Kefas Suit, Kamis (2/7/2026).

Mengusung tema “Aku dan Gambar Diriku”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda persekutuan tahunan, melainkan sebuah ruang pembentukan karakter, pemulihan batin, refleksi spiritual dan penguatan identitas diri bagi generasi muda agar mampu mengenali panggilan hidupnya sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, krisis identitas, serta berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, Camp Pemuda ini hadir sebagai momentum untuk menegaskan kembali bahwa kualitas hidup seseorang tidak ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh karakter, integritas, serta kedekatannya dengan Tuhan.

Dalam sambutannya, Bupati Kupang memberikan motivasi yang membangkitkan optimisme para peserta.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang kuat, tetapi juga sumber daya manusia yang memiliki karakter tangguh, iman yang kokoh, serta semangat melayani.

“Anak muda harus dipacu dengan cara yang tidak biasa. Kita butuh pemuda GMIT yang hebat, pekerja keras dan memiliki mental petarung. Jangan hanya besar dalam jumlah, tetapi harus besar dan kuat dalam persekutuan dengan Tuhan,” tegas Bupati Kupang.

Ia menambahkan bahwa pemuda merupakan aset strategis pembangunan daerah. Oleh sebab itu, setiap ruang pembinaan seperti Camp Pemuda perlu terus didukung karena menjadi investasi jangka panjang dalam membentuk calon pemimpin yang berintegritas, beriman dan mampu menghadapi perubahan global.

Bupati Kupang juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia pelaksana, para pendeta, orang tua, serta seluruh jemaat yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan tersebut sebagai wujud nyata kepedulian terhadap masa depan generasi muda.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Majelis Sinode Harian GMIT, Pdt. Zimrat Karmany, menegaskan bahwa keberadaan pemuda bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan bergereja, melainkan fondasi yang menentukan keberlangsungan pelayanan gereja sekaligus pembangunan masyarakat.

“Tanpa pemuda, gereja dan pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Hidupkan dan kembangkan potensi mereka karena merekalah calon pemimpin masa depan. Jika pemuda bergerak, gereja bisa bernapas lega,” ungkapnya.

Menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab moral dan teologis untuk terus mendampingi generasi muda agar bertumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, emosional dan sosial.

Semangat yang sama juga disampaikan Ketua Pemuda GMIT, Erens Blegur. Ia memberikan apresiasi kepada Klasis Amarasi Selatan yang dinilai mampu menyelenggarakan kegiatan berskala besar meskipun merupakan salah satu klasis termuda di lingkungan GMIT.

Erens menilai bahwa gereja saat ini dituntut mampu membaca perubahan zaman, khususnya karakteristik Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital. Karena itu, pendekatan pelayanan kepada pemuda harus semakin kreatif, inovatif dan relevan.

“Gereja dituntut adaptif terhadap digitalisasi. Berkarya di organisasi pemuda bukan soal usia, melainkan soal kerelaan memberi diri. Yang terpenting adalah seberapa berkualitas hidup kita. Ke depan, kita bahkan sedang merancang program camp terbesar di Kabupaten Kupang dan Wisata Paskah terbesar di NTT,” katanya optimistis.

Menurutnya, transformasi gereja tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan aktif generasi muda sebagai pelayan, inovator, sekaligus agen perubahan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern tanpa kehilangan nilai-nilai Injil.

Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana, Saman Feni, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh orang tua, tokoh jemaat, para pelayan gereja, pemerintah, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun material sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.

Ia berharap Camp Pemuda tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal lahirnya pemuda-pemuda yang mampu membawa perubahan nyata di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat.

“Target kita jelas. Pulang dari camp ini, pemuda harus menghasilkan buah, bertumbuh, dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Mari bersama-sama menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik,” tegas Saman.

Lebih dari sekadar perkemahan rohani, Camp Pemuda Klasis Amarasi Selatan menjadi simbol bahwa masa depan gereja dan Kabupaten Kupang sedang dipersiapkan melalui proses pembinaan yang serius. Ketika seorang pemuda menemukan jati dirinya di dalam Kristus, ia tidak hanya memperoleh arah hidup, tetapi juga menjadi terang bagi sesama.

Di balik tenda-tenda yang berdiri di halaman Gereja Kefas Suit, tersimpan harapan besar tentang lahirnya generasi yang berani bermimpi, setia melayani, rendah hati dalam karakter dan kokoh dalam iman. Sebab bangsa yang besar selalu dimulai dari manusia-manusia yang dibentuk dengan nilai, bukan sekadar dengan pengetahuan.

Acara pembukaan Camp Pemuda ini turut dihadiri Ketua Bawaslu Kabupaten Kupang, KMK Amarasi Selatan, KMK Amfoang Selatan, para pendeta se-Klasis Amarasi Selatan, pimpinan OPD Lingkup Kabupaten Kupang, Kapolsek Amarasi, Sat Radar Buraen, Camat Amarasi Selatan, Lurah Buraen, Lurah Sonraen, para kepala desa, serta jajaran pengurus UPP Klasis Amarasi Selatan, sebagai bentuk dukungan bersama dalam membangun generasi muda yang berkarakter, beriman dan siap menjadi pemimpin masa depan.