KUPANG, BBC – Upaya membangun generasi emas sapi Timor tidak dapat lagi hanya mengandalkan pola pemeliharaan tradisional yang berlangsung secara turun-temurun.

Perbaikan kualitas genetik ternak harus menjadi agenda strategis yang dirancang secara ilmiah, terukur dan berkelanjutan agar peternakan sapi di Pulau Timor mampu menjawab tantangan produktivitas sekaligus mempertahankan keberadaan sapi Bali sebagai salah satu plasma nutfah unggulan Indonesia.

Mahasiswa Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana), Marno Neno Bunda, menegaskan bahwa sistem pemeliharaan sapi secara ekstensif yang masih dominan di Pulau Timor telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peternakan rakyat, namun di sisi lain menyimpan risiko serius berupa terjadinya perkawinan sedarah atau inbreeding yang berlangsung tanpa disadari oleh peternak.

Menurutnya, pola penggembalaan bebas yang memungkinkan sapi jantan dan betina berkembang biak secara alami tanpa pengawasan reproduksi menyebabkan peluang terjadinya perkawinan antar kerabat semakin besar.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas genetik ternak dari generasi ke generasi dan pada akhirnya berdampak terhadap produktivitas peternakan rakyat secara keseluruhan.

Ia menjelaskan bahwa inbreeding merupakan salah satu ancaman biologis yang paling berbahaya dalam pemuliaan ternak karena dapat meningkatkan homozigositas gen-gen resesif yang bersifat merugikan. Dampaknya terlihat pada penurunan bobot lahir pedet, rendahnya tingkat pertumbuhan, menurunnya kemampuan reproduksi, meningkatnya angka kematian anak sapi, hingga berkurangnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.

“Apabila kondisi ini terus berlangsung tanpa intervensi yang tepat, maka sapi Bali yang selama puluhan tahun telah beradaptasi dengan lingkungan Pulau Timor berisiko mengalami degradasi genetik yang dapat mengurangi daya saing peternakan daerah di masa depan,” ujarnya.

Marno menilai bahwa persoalan inbreeding tidak boleh dipandang semata-mata sebagai masalah teknis reproduksi ternak. Lebih dari itu, masalah tersebut memiliki implikasi langsung terhadap kesejahteraan peternak karena produktivitas yang rendah akan berdampak pada rendahnya pendapatan rumah tangga peternakan.

Ia menjelaskan bahwa penurunan bobot badan dan lambatnya pertumbuhan ternak menyebabkan peternak membutuhkan waktu pemeliharaan yang lebih panjang sebelum sapi mencapai bobot jual. Akibatnya, efisiensi usaha menjadi menurun dan keuntungan yang diperoleh peternak menjadi semakin terbatas.

Dalam konteks tersebut, Marno menegaskan bahwa pembangunan peternakan modern harus dimulai dari perbaikan tata kelola reproduksi dan penguatan sistem pemuliaan yang berbasis ilmu pengetahuan.

Salah satu langkah yang dianggap paling penting adalah membangun budaya pencatatan silsilah atau recording pada tingkat peternak. Melalui pencatatan identitas ternak, asal-usul induk dan pejantan dapat diketahui secara jelas sehingga risiko perkawinan sedarah dapat diminimalkan sejak dini.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi identifikasi ternak seperti ear tag maupun sistem digital berbasis data dapat menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pemuliaan sapi yang lebih modern dan akuntabel di Pulau Timor.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penerapan manajemen pemisahan induk dan anak secara terencana. Langkah tersebut dinilai efektif untuk mencegah terjadinya perkawinan dini antara pejantan muda dengan induk atau saudara betinanya yang masih berada dalam kelompok penggembalaan yang sama.

“Pengelolaan reproduksi yang baik bukan hanya mencegah inbreeding, tetapi juga membantu meningkatkan efisiensi reproduksi induk, memperbaiki kesehatan ternak, dan memperpendek jarak beranak sehingga produktivitas peternakan dapat meningkat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Marno menyatakan bahwa teknologi inseminasi buatan (IB) merupakan instrumen paling strategis dalam memutus rantai inbreeding sekaligus mempercepat perbaikan mutu genetik sapi di Pulau Timor.

Ia menjelaskan bahwa melalui inseminasi buatan, peternak dapat memanfaatkan semen dari pejantan unggul yang berasal dari berbagai wilayah tanpa harus mendatangkan ternak jantan secara langsung.

Metode ini memungkinkan peningkatan keragaman genetik sekaligus mengurangi peluang terjadinya perkawinan antar kerabat dekat.

Menurutnya, inseminasi buatan bukan sekadar teknologi reproduksi, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan populasi sapi yang lebih produktif, lebih sehat, dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Marno juga menilai bahwa keberhasilan program inseminasi buatan di Nusa Tenggara Timur selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat peternak semakin terbuka terhadap penerapan teknologi modern dalam usaha peternakan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan yang berkelanjutan melalui peningkatan jumlah inseminator, penyediaan semen beku berkualitas, pendampingan teknis kepada peternak, serta penguatan infrastruktur pelayanan reproduksi ternak hingga ke wilayah pedesaan.

Dalam pandangannya, pembangunan generasi emas sapi Timor tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, penyuluh peternakan dan komunitas peternak untuk menciptakan sistem pemuliaan yang terencana dan berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa kebijakan pengembangan peternakan harus diarahkan pada peningkatan kualitas genetik tanpa mengabaikan keunggulan adaptif sapi Bali yang telah menjadi identitas peternakan Pulau Timor selama puluhan tahun.

“Generasi emas sapi Timor hanya dapat terwujud apabila teknologi reproduksi modern dipadukan dengan kearifan lokal, dukungan kebijakan yang konsisten, serta kesadaran kolektif seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kualitas genetik ternak,” katanya.

Marno meyakini bahwa apabila program inseminasi buatan, pencatatan silsilah, seleksi genetik dan pendampingan peternak dijalankan secara terpadu, maka Pulau Timor memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi pusat produksi sapi unggul nasional yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis peternakan di kawasan Indonesia Timur.

Menurutnya, masa depan peternakan sapi Timor bukan hanya tentang menambah jumlah populasi ternak, tetapi juga tentang membangun kualitas genetik yang unggul.

Sebab, kualitas genetik yang baik akan melahirkan produktivitas yang tinggi, sementara produktivitas yang tinggi akan menjadi fondasi bagi terwujudnya kemakmuran peternak dan keberlanjutan pembangunan peternakan di Pulau Timorhttps://buserbindo.com/tag/buserbindo