BB – Badan Pangan Nasional (Bappanas) menggelar Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Lokal sebagai dukungan terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis bagi anak sekolah yang dicanangkan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Kegiatan ini berlangsung di Pantai Wisata Otan, Desa Otan, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, dengan menghadirkan seribu anak sekolah dari Kabupaten Kupang dan Kota Kupang, termasuk anak berkebutuhan khusus,pada Jumat 29/11
Acara ini dihadiri oleh Penjabat Gubernur NTT, Andriko Noto Susanto, serta Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang, Marthen Rahakbaw.
Gerakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan lokal sebagai langkah strategis mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Dalam sambutannya, Andriko Noto Susanto menyoroti potensi sumber daya alam NTT yang melimpah untuk mendukung kemandirian pangan tanpa ketergantungan impor. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan pangan lokal seperti jagung, ubi, sorgum, kelor, dan hasil laut untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
“Anak-anak kita adalah pelaku utama generasi emas Indonesia pada 2045. Meningkatkan gizi mereka saat ini adalah prioritas utama untuk memastikan masa depan bangsa yang cemerlang. Kegiatan ini sangat relevan dengan arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang menginstruksikan memastikan akses pangan sehat untuk anak-anak,” ujar Andriko.
Marthen Rahakbaw menambahkan, kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk mengedukasi masyarakat tentang pola konsumsi sehat dan beragam yang berbasis pada kekayaan pangan lokal.
Ia menyoroti potensi besar Kabupaten Kupang sebagai pusat pangan lokal dengan sumber daya seperti jagung bose, sorgum, dan kelor.
“Pola makan sehat berbasis pangan lokal adalah kunci anak-anak tumbuh kuat, cerdas, dan produktif. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan lokal yang bergizi,” jelas Marthen.
Kepala Bappanas yang diwakili Rachmad Firdaus memaparkan bahwa Bappanas aktif mengenalkan sorgum sebagai alternatif nasi. Sorgum dinilai lebih unggul karena seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan, menjadikannya sumber pangan yang ekonomis dan efisien.
“Dengan dukungan pemerintah daerah, kami optimis masyarakat NTT bisa memanfaatkan sorgum sebagai bahan pangan utama, menggantikan ketergantungan pada nasi. Ini merupakan upaya strategis untuk membangun kemandirian pangan,” ujar Rachmad.
Acara ini juga diramaikan dengan kegiatan edukasi, demo memasak pangan lokal, dan sesi makan bersama menggunakan produk-produk lokal seperti jagung bose dan sorgum.
Penjabat Gubernur NTT berharap kegiatan ini dapat terus digalakkan di daerah lain untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya pangan lokal.
Dengan gerakan ini, Bappanas bersama masyarakat NTT menunjukkan bahwa pangan lokal tidak hanya solusi untuk masalah gizi, tetapi juga langkah strategis untuk kemandirian pangan nasional.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mendukung masa depan Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan mandiri.
