Kupang, BBC — Di tanah yang kerontang karena kemarau panjang, masyarakat Oenuntono pernah menggantungkan harapan pada satu hal sederhana: air bersih. Di tengah keterbatasan hidup, mereka menyambut proyek sumur bor dengan tangan terbuka.
Tapi sebagaimana janji yang tak ditepati, air tak pernah datang. Yang tersisa hanyalah pipa-pipa kosong, suara mesin yang tak pernah menyala dan hati rakyat yang kian retak oleh dusta.
Di balik proyek yang gagal itu, kini mencuat dugaan korupsi. Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang mengendus adanya penyelewengan anggaran yang merampas hak dasar warga: akses terhadap air.
“Untuk kasus sumur bor Oenuntono, seluruh ekspos telah dilakukan di Kejaksaan Tinggi. Alat bukti sudah cukup. Penetapan tersangka tinggal menunggu waktu. Dan publik akan mengetahuinya,”
ujar Yupiter Selan Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang, pada Kamis (16/10/2025), dengan nada yang pelan namun tegas.
Dalam pernyataan itu, tak ada amarah berlebihan, tapi juga tak ada kompromi. Kalimatnya mengandung satu pesan pasti: keadilan sedang disiapkan dan hukum akan bicara dengan caranya sendiri.
Yupiter tak menyebut nama, tapi ia menyiratkan bahwa jalur hukum sedang dibentangkan dengan cermat. Kasus ini telah melalui tahapan ekspos di Kejaksaan Tinggi NTT dan cukup bukti telah dikantongi untuk menyeret para pelaku ke hadapan publik.
Pernyataan singkat itu menjadi kabar baik sekaligus tamparan keras. Baik bagi mereka yang rindu keadilan. Tamparan bagi mereka yang pernah berdiri di podium janji, lalu bersekongkol di balik meja proyek.
Proyek sumur bor Oenuntono, bagi masyarakat, bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah tetes air kehidupan. Maka ketika harapan itu dirampas oleh kerakusan, luka yang tertinggal tak kasat mata, tapi dalam.
Yupiter menegaskan, penegakan hukum adalah komitmen. Dan dalam kasus ini, komitmen itu akan ditunaikan.
Kini publik menanti: siapa yang akan ditetapkan sebagai tersangka? Siapa yang pernah menari di atas penderitaan, menyedot keuntungan dari proyek yang tak pernah memberi manfaat?
Yupiter tidak menjanjikan sensasi. Ia hanya menjanjikan satu hal: bahwa waktu akan menjawab semuanya.
