KUPANG, BBC – Sejarah baru terukir bagi masyarakat Dusun III Oelhue, Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang. Di tengah sukacita perayaan Hari Ulang Tahun ke-67 Jemaat GMIT Efrata Oelhue, Pemerintah Kabupaten Kupang secara resmi meresmikan Pastori Jemaat GMIT Efrata Oelhue sekaligus mengikuti ibadah syukur atas hadirnya jaringan listrik yang untuk pertama kalinya menerangi Kampung Oelhue setelah melalui perjalanan panjang penuh doa, pengharapan dan perjuangan masyarakat.
Momentum bersejarah tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Kupang, Yosef Lede, bersama Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, para pendeta, majelis jemaat, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang memadati halaman gereja.
Peristiwa tersebut tidak sekadar menjadi seremoni peresmian sebuah bangunan maupun penyalaan jaringan listrik, melainkan menjadi simbol transformasi sosial yang memperlihatkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, gereja dan masyarakat mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat pedesaan.
Dalam sambutannya, Bupati Kupang Yosef Lede menegaskan bahwa seluruh capaian pembangunan yang dirasakan masyarakat pada hari ini merupakan wujud nyata kasih dan kemurahan Tuhan yang dinyatakan melalui semangat kebersamaan, gotong royong dan komitmen kolektif seluruh elemen masyarakat.
“Hari ini kita tidak hanya meresmikan sebuah bangunan pastori. Sesungguhnya kita sedang meresmikan sebuah harapan, meresmikan semangat baru, serta meresmikan masa depan pelayanan gereja yang semakin kuat. Semua yang kita saksikan hari ini lahir dari doa yang panjang, pengorbanan yang tulus, kerja keras yang tidak mengenal lelah dan terutama karena penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Yosef Lede.
Menurutnya, setiap pembangunan memiliki dimensi fisik sekaligus dimensi sosial dan spiritual. Karena itu, keberhasilan membangun sebuah pastori bukan hanya diukur dari berdirinya bangunan yang megah, tetapi juga dari manfaatnya dalam memperkuat pelayanan gereja serta meningkatkan kualitas kehidupan rohani masyarakat.
“Pembangunan fisik sesungguhnya hanyalah sarana. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana bangunan itu mampu menghadirkan pelayanan yang berkualitas, membentuk karakter umat, memperkuat persaudaraan, serta melahirkan generasi yang beriman, berintegritas dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” katanya.
Yosef Lede menilai keberadaan pastori memiliki posisi strategis sebagai pusat pembinaan umat, tempat lahirnya berbagai pelayanan pastoral, pendidikan iman, pembinaan keluarga, pendampingan generasi muda, hingga ruang dialog yang memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat.
“Pastori bukan sekadar rumah bagi pendeta. Pastori adalah pusat pelayanan, pusat pembinaan karakter, pusat pendidikan iman, tempat masyarakat memperoleh penguatan moral ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dari tempat inilah nilai-nilai kasih, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab dan persaudaraan terus ditanamkan kepada jemaat.”
Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa pembangunan Kabupaten Kupang tidak semata-mata diarahkan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pembangunan manusia sebagai tujuan utama pembangunan daerah.
“Pemerintah boleh membangun jalan, jembatan, sekolah, puskesmas, jaringan air bersih, maupun gedung-gedung pelayanan publik. Namun apabila manusianya tidak dibangun, maka pembangunan tidak akan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, pemerintah memandang gereja sebagai mitra strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia Kabupaten Kupang.”
Menurut Yosef, gereja memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membentuk masyarakat yang berkarakter, toleran, produktif, dan mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Gereja adalah institusi yang setiap minggu berbicara tentang nilai, moral, kasih, pengampunan, kerja keras, disiplin dan pengabdian. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama pembangunan bangsa. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan gereja merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan.”
Pada kesempatan tersebut, Yosef Lede juga memberikan perhatian khusus terhadap hadirnya jaringan listrik di Kampung Oelhue. Ia menyebut masuknya listrik sebagai tonggak penting dalam mempercepat transformasi pembangunan desa.
Menurutnya, listrik telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat modern karena hampir seluruh aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, komunikasi dan pengembangan teknologi bergantung pada ketersediaan energi listrik.
“Kehadiran listrik bukan sekadar menghadirkan cahaya pada malam hari. Listrik merupakan instrumen pembangunan yang membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, inovasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Desa yang memiliki akses listrik akan lebih cepat berkembang dibandingkan desa yang masih mengalami keterbatasan energi.”
Ia mengatakan bahwa anak-anak Oelhue kini memiliki kesempatan belajar pada malam hari dengan lebih nyaman, memanfaatkan perangkat teknologi sebagai media pembelajaran, serta mengakses informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Listrik akan meningkatkan kualitas pendidikan. Anak-anak kita tidak lagi bergantung pada lampu minyak. Mereka dapat belajar lebih lama, menggunakan komputer, mengakses internet, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif.”
Selain sektor pendidikan, Yosef menjelaskan bahwa keberadaan listrik juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, listrik membuka peluang berkembangnya usaha mikro dan kecil, pengolahan hasil pertanian, peternakan, industri rumah tangga, hingga berbagai aktivitas produktif yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
“Saya meyakini bahwa listrik akan melahirkan peluang-peluang ekonomi baru. Ketika energi tersedia, masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.”
Ia juga menegaskan bahwa pemerataan akses infrastruktur merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang dalam mewujudkan keadilan pembangunan.
“Tidak boleh ada masyarakat yang merasa tertinggal hanya karena berada di wilayah pedesaan. Seluruh warga Kabupaten Kupang memiliki hak yang sama untuk menikmati pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, teknologi dan infrastruktur yang layak. Prinsip pembangunan kami adalah menghadirkan keadilan, bukan sekadar membangun.”
Yosef Lede menambahkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh komponen masyarakat terus memelihara semangat persatuan dan gotong royong.
“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Keberhasilan pembangunan selalu lahir dari kolaborasi. Ketika pemerintah, gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda dan seluruh warga berjalan bersama, maka berbagai tantangan dapat diatasi. Semangat gotong royong adalah modal sosial terbesar masyarakat Kabupaten Kupang.”
Ia mengajak seluruh jemaat untuk menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
“Apa yang sudah dibangun hari ini harus dijaga dengan penuh rasa memiliki. Jangan hanya bersyukur ketika menerima, tetapi tunjukkan rasa syukur itu dengan merawat, memanfaatkan dan mengembangkan seluruh fasilitas yang telah tersedia demi kepentingan generasi yang akan datang.”
Menutup sambutannya, Yosef Lede mengajak seluruh masyarakat menjadikan perayaan HUT ke-67 GMIT Efrata Oelhue sebagai momentum memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan membangun optimisme menuju masa depan yang lebih maju.
“Perjalanan panjang Oelhue mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Apa yang dahulu hanya menjadi doa, kini telah menjadi kenyataan. Saya percaya, apabila masyarakat tetap menjaga persatuan, bekerja dengan sungguh-sungguh, menghargai pendidikan, memelihara semangat gotong royong, serta senantiasa mengandalkan Tuhan, maka Oelhue akan terus bertumbuh menjadi desa yang maju, mandiri, sejahtera dan memiliki sumber daya manusia yang unggul.”
Peresmian Pastori GMIT Efrata Oelhue dan hadirnya jaringan listrik menjadi penanda dimulainya babak baru pembangunan di Kampung Oelhue. Lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur, momentum tersebut mencerminkan hadirnya transformasi yang menyentuh dimensi spiritual, sosial, pendidikan, ekonomi dan kemanusiaan.
Cahaya yang kini menerangi setiap rumah di Oelhue bukan hanya cahaya listrik, melainkan juga cahaya harapan yang diyakini akan mempercepat terwujudnya masyarakat yang maju, berdaya saing, serta berlandaskan nilai-nilai iman dan kebersamaan.
