Kupang, BBC – Di tanah Oebelo yang retak oleh panas dan pecah oleh dahaga, rakyat berkumpul dengan mata penuh harapan.
Hari ini mereka tidak hanya menanam cabai dan tomat, tetapi menanam doa agar tanah yang kering kembali berdenyut. Di barisan depan, tampak sosok yang dikenang rakyat, Ayub Titu Eki bersama putri bungsunya Aurum Titu Eki, Wakil Bupati Kupang.
Mereka hadir bukan sebagai pejabat semata, tetapi sebagai sahabat tanah yang sama-sama menanggung getir kemarau panjang.
Kegiatan yang digagas komunitas Lumbung Air Cirma bersama masyarakat desa ini menjadi oase kecil di tengah padang kekeringan. Setiap lubang tanah yang ditutup benih hortikultura adalah tanda bahwa rakyat belum menyerah.
Dalam sekapur sirinya, Ayub Titu Eki menyampaikan pesan sederhana namun mengguncang hati:
“Kemandirian adalah jalan panjang. Jangan hanya menunggu tangan pemerintah. Meski fasilitas terbatas, semangat harus jadi pupuk terbaik bagi tanah ini. Bila rakyat bertahan, investor dan pemerintah akan datang mendukung.”
Kata-kata itu jatuh seperti hujan di padang gersang. Para petani yang terbiasa menimba air di sumur kering, yang berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk seember kehidupan, merasakan bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
Hortikultura bagi rakyat Oebelo bukan sekadar budidaya. Ia adalah ekonomi hijau yang bertunas dari kesetiaan pada tanah. Satu bibit cabai berarti satu harapan dapur terisi. Satu batang tomat berarti peluang pasar desa bergerak. Dari peluh yang menetes, lahirlah ekonomi keluarga; dari doa yang dipanjatkan, lahirlah keyakinan bahwa desa bisa hidup mandiri.
Ekonom akademis menyebut ini sebagai grassroot economy—ekonomi akar rumput yang tumbuh dari kerja kolektif, yang pelan tapi pasti mampu menyokong pembangunan nasional.
Di kesempatan yang sama, Aurum Titu Eki menegaskan peran penting organisasi sipil.
“Kami melihat LSM sebagai mitra sejati pembangunan. Meski APBD masih dalam pembenahan, pemerintah tidak lepas tangan. Pintu kolaborasi tetap terbuka demi rakyat,” ujarnya.
Ucapan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah tidak akan membiarkan petani berjuang sendirian. Kolaborasi antara rakyat, pemerintah dan LSM menjelma sebagai tunas kehidupan baru.
Momen penanaman hortikultura di Oebelo adalah metafora tentang hidup. Rakyat menanam harapan ke dalam tanah yang retak, pemimpin menyiram asa dengan perhatian dan dukungan dan kelak mereka bersama-sama akan menuai kemandirian.
Di balik bibit kecil itu, tersimpan janji besar: dari desa sederhana, dari peluh petani, akan lahir masa depan yang lebih adil dan sejahtera. Hortikultura pun berdiri sebagai puisi bijak—tentang sabar, perjuangan dan iman pada tanah sendiri.
