πΊππΏπ°π½πΆ, π±π±π² β Ada kalanya seorang pemimpin dikenang bukan karena panjangnya pidato yang disampaikan, melainkan karena kesediaannya berjalan di jalan yang sama, menghirup udara yang sama dan merasakan denyut kehidupan yang sama bersama rakyatnya. Di Desa OβAem, Kecamatan Amfoang Selatan, momen itu hadir dengan begitu sederhana, namun meninggalkan kesan yang mendalam.
Wakil Bupati Kupang yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Kupang, Aurum Obe Titu Eki, datang bukan sekadar memenuhi undangan sebuah kegiatan PKK. Kehadirannya menjelma menjadi bahasa kasih yang tidak memerlukan banyak kata.
Senyum yang dibagikan, sapaan yang hangat dan langkah yang menyatu dengan masyarakat menjadi pesan bahwa seorang pemimpin sejatinya hadir untuk membersamai, bukan hanya memimpin dari kejauhan.
Ketika alunan Tebe mulai menggema, batas antara pemimpin dan masyarakat seakan menghilang. Aurum ikut bergandengan tangan bersama warga, menyatu dalam lingkaran persaudaraan yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur Timor. Di sana tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak kekuasaan. Yang ada hanyalah manusia yang saling menghormati, saling menguatkan dan merayakan kehidupan dalam kebersamaan.
Tarian itu bukan sekadar gerak kaki yang mengikuti irama. Ia adalah bahasa budaya yang mengajarkan bahwa kehidupan hanya akan kokoh ketika setiap orang berjalan seirama. Di tengah lingkaran Tebe itulah kepemimpinan menemukan maknanya yang paling hakiki: hadir, mendengar dan hidup bersama rakyat.
Dalam sambutannya, Aurum mengaku tersentuh ketika mengetahui bahwa program PKK di Desa OβAem bukanlah sebuah kick off atau awal perjalanan, melainkan sebuah gerakan yang telah bertahan selama sepuluh tahun.
βSaya benar-benar mengapresiasi program ini dari hati. Awalnya saya berpikir ini adalah kick off, artinya baru dimulai. Ternyata program ini sudah berjalan selama 10 tahun. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan patut menjadi inspirasi,β ungkapnya.
Kalimat sederhana itu lahir dari rasa kagum yang tulus. Sebab sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Di balik angka itu tersimpan ribuan langkah pengabdian, gotong royong yang tidak pernah lelah, doa-doa yang terus dipanjatkan dan tangan-tangan sederhana yang bekerja tanpa berharap pujian.
Aurum menilai, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi dari kemampuannya bertahan melintasi waktu dan terus memberi manfaat bagi masyarakat. Program yang hidup selama satu dekade adalah bukti bahwa semangat pemberdayaan telah berakar dalam hati masyarakat, bukan sekadar menjadi agenda administratif.
Karena itu, ia berharap pengalaman Desa OβAem tidak berhenti menjadi kebanggaan satu desa saja.
Menurutnya, semangat tersebut layak menjangkau desa-desa lain sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari gerakan yang dibangun atas dasar kebersamaan.
βKe depan saya berharap desa-desa tetangga juga dapat diundang agar semangat baik ini menyebar dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain,β katanya.
Bagi Aurum, pembangunan bukan semata-mata tentang jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, atau angka-angka statistik yang dicatat dalam laporan. Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat merasa dihargai, didengar dan diperlakukan sebagai mitra yang berjalan berdampingan dengan pemerintah.
Itulah sebabnya kebahagiaan yang ia rasakan di Desa OβAem begitu tulus. Kebahagiaan itu bukan karena sambutan yang meriah, melainkan karena ia menyaksikan sendiri bagaimana kebersamaan masih tumbuh subur di tengah masyarakat. Nilai-nilai gotong royong masih hidup, budaya masih dijaga dan persaudaraan masih menjadi fondasi kehidupan.
Dalam perspektif tata kelola pemerintahan modern, pendekatan seperti ini mencerminkan semangat collaborative governance, yaitu pembangunan yang bertumpu pada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Namun di OβAem, teori itu seolah menemukan wajahnya yang paling manusiawi. Ia tidak lahir dari ruang seminar atau dokumen akademik, melainkan dari lingkaran Tebe yang mempertemukan pemimpin dan rakyat dalam satu irama.
Ketika kegiatan usai dan langkah-langkah Tebe perlahan berhenti, sesungguhnya ada pesan yang tetap tinggal di hati banyak orang. Bahwa jabatan hanyalah amanah yang akan berakhir oleh waktu, tetapi ketulusan akan selalu menemukan jalannya menuju ingatan masyarakat.
Dari Desa OβAem, Aurum Obe Titu Eki menunjukkan bahwa kepemimpinan yang paling kuat bukanlah kepemimpinan yang menjaga jarak, melainkan kepemimpinan yang rela mendekat.
Sebab rakyat tidak selalu mengingat apa yang diucapkan pemimpinnya, tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang pernah berjalan bersama mereka, tertawa bersama mereka dan menggenggam tangan mereka dalam lingkaran persaudaraan.
Dan mungkin, dari lingkaran Tebe yang sederhana itulah, harapan tentang Kabupaten Kupang yang semakin kuat, semakin bersatu dan semakin manusiawi terus ditarikan menuju masa depan.
