Soe, BBC — Bencana tanah longsor kembali mengguncang wilayah selatan Pulau Timor. Kali ini, peristiwa memilukan terjadi di Desa Lobus, Kecamatan Toianas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), ketika hujan berintensitas tinggi yang mengguyur sejak 28 April 2026 memicu pergerakan tanah yang menghancurkan permukiman warga.

Di RT 04 RW 01, Dusun A Baumasu, lima unit rumah dilaporkan rata dengan tanah setelah diterjang longsor. Hingga Kamis (30/4/2026), kondisi di lokasi masih berada dalam status rawan.

Tanah yang belum sepenuhnya stabil dilaporkan terus bergerak, menciptakan retakan yang semakin melebar dan meningkatkan risiko longsor susulan.

Peristiwa ini tidak hanya merenggut tempat tinggal warga, tetapi juga melumpuhkan akses utama di dusun tersebut. Material longsor menutup jalan penghubung, menghambat mobilitas masyarakat serta distribusi bantuan logistik. Situasi ini mempertegas kerentanan wilayah perbukitan di tengah intensitas curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan.

Salah satu warga terdampak, Hepsi Snae, menggambarkan detik-detik mencekam saat bencana terjadi. Ia menyebut, hujan deras yang turun tanpa henti selama beberapa hari membuat struktur tanah menjadi labil hingga akhirnya bergeser secara tiba-tiba.

“Hujan terus-menerus, tanah jadi tidak kuat. Tiba-tiba rumah kami ambruk. Sekarang kami terpaksa menumpang di rumah keluarga,” ujarnya dengan nada lirih.

Kesaksian tersebut merepresentasikan situasi kolektif warga yang kini berada dalam tekanan psikologis dan keterbatasan material. Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian besar harta benda warga turut tertimbun material longsor. Upaya penyelamatan barang dilakukan secara terbatas, namun banyak yang rusak akibat tertutup tanah.

Data sementara di lapangan menunjukkan sebanyak 29 jiwa dari lima kepala keluarga terdampak langsung dan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Kondisi pengungsian masih bersifat darurat, dengan keterbatasan fasilitas dan kebutuhan dasar.

Kaur Pemerintahan Desa Lobus, Hilarius Tiumlafu, menjelaskan bahwa bencana ini merupakan konsekuensi dari curah hujan ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Ia menegaskan bahwa hujan baru berhenti sesaat sebelum tim ditemui di lokasi, menandakan tingginya intensitas cuaca ekstrem yang terjadi.

“Hujan terus mengguyur. Ini baru berhenti sekitar dua jam tadi,” ungkapnya.

Pemerintah desa, lanjut Hilarius, telah mengambil langkah cepat dengan melaporkan kejadian ini kepada Pemerintah Kabupaten TTS melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial. Respons awal pun telah dilakukan dengan penyaluran bantuan darurat kepada para korban.

“BPBD sudah turun sejak semalam dan memberikan bantuan awal. Kami juga sudah mengimbau warga untuk mengosongkan rumah demi keselamatan,” jelasnya.

Kendati demikian, kebutuhan penanganan jangka panjang menjadi perhatian utama. Warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah, khususnya terkait relokasi ke kawasan yang lebih aman, mengingat kondisi tanah di lokasi kejadian masih menunjukkan potensi pergerakan lanjutan.

Secara lebih luas, peristiwa ini kembali menegaskan urgensi penguatan sistem mitigasi bencana di wilayah rawan longsor, terutama di Kabupaten TTS yang secara geografis memiliki karakteristik lereng dan tanah yang rentan terhadap pergeseran saat curah hujan tinggi.

Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih berpotensi berlanjut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan pemerintah setempat.

Sementara itu, bagi para korban di Desa Lobus, perjuangan belum usai—mereka kini menanti tidak hanya bantuan darurat, tetapi juga kepastian akan masa depan yang lebih aman dan layak.