KUPANG ,BBC — Curah hujan dengan intensitas cukup tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Sulamu selama kurang lebih tiga hari berturut-turut menyebabkan debit air Kali Bo’Oen meningkat secara signifikan hingga meluap ke area persawahan masyarakat.
Peristiwa tersebut mengakibatkan sekitar 100 hektare lahan padi milik warga di Desa Pantulan, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, terendam banjir.
Luapan air dari Kali Bo’Oen dilaporkan menggenangi hamparan persawahan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat desa.
Genangan air yang memasuki lahan pertanian tidak hanya menghambat aktivitas pertanian masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan potensi kerusakan tanaman padi yang saat ini sedang dalam fase pertumbuhan.
Kepala Desa Pantulan, Buce Pah, dalam keterangannya kepada media melalui pesan WhatsApp pada Selasa (10/3/2026) pagi menjelaskan bahwa peningkatan debit air Kali Bo’Oen terjadi sebagai akibat dari curah hujan yang berlangsung secara terus-menerus dalam beberapa hari terakhir di wilayah Sulamu dan sekitarnya.
Menurutnya, intensitas hujan yang relatif tinggi menyebabkan kapasitas aliran sungai tidak lagi mampu menampung volume air secara optimal, sehingga air meluap dan memasuki kawasan persawahan milik masyarakat.
“Curah hujan di wilayah Sulamu sudah berlangsung kurang lebih tiga hari. Kondisi ini menyebabkan Kali Bo’Oen meluap dan airnya masuk ke area persawahan Bo’Oen. Saat ini sekitar 100 hektare sawah milik masyarakat terendam banjir,” ujar Buce Pah.
Ia menjelaskan bahwa genangan air yang berlangsung dalam waktu cukup lama berpotensi menimbulkan kerusakan terhadap tanaman padi yang ditanam oleh masyarakat.
Apabila kondisi tersebut tidak segera teratasi, maka risiko penurunan hasil panen bahkan kegagalan panen sangat mungkin terjadi.
Situasi ini tentu akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi keluarga petani yang sebagian besar menggantungkan kehidupan mereka pada sektor pertanian.
Oleh karena itu, keberlanjutan produksi pertanian di kawasan tersebut menjadi perhatian penting bagi masyarakat setempat.
Buce Pah menambahkan bahwa kawasan persawahan Bo’Oen selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi bagi masyarakat Desa Pantulan.
Keberadaan lahan pertanian tersebut memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat sekaligus menopang perekonomian rumah tangga petani.
Dalam konteks tersebut, ia berharap agar pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi Kali Bo’Oen yang kerap meluap pada saat intensitas curah hujan meningkat.
Salah satu solusi yang diharapkan masyarakat adalah pembangunan infrastruktur pengendalian aliran sungai, seperti pemasangan bronjong atau penguatan tebing sungai, guna meminimalisasi risiko luapan air yang berulang setiap musim hujan.
“Saya mewakili para petani di persawahan Bo’Oen berharap agar kondisi Kali Bo’Oen ini dapat memperoleh perhatian dari pemerintah. Kami sangat membutuhkan pembangunan bronjong di sepanjang aliran kali agar ketika curah hujan meningkat, air tidak lagi meluap dan merusak persawahan warga,” ungkapnya.
Menurutnya, upaya mitigasi tersebut sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap lahan pertanian masyarakat dari potensi banjir yang berulang.
Tanpa adanya penanganan yang memadai, setiap musim hujan akan terus menghadirkan ancaman kerugian bagi para petani.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pengendali banjir juga dipandang sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di wilayah Sulamu.
Mengingat sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat pedesaan di Kabupaten Kupang.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengelolaan daerah aliran sungai secara berkelanjutan serta pembangunan infrastruktur pengendali air merupakan bagian penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
Tanpa dukungan sistem pengelolaan sumber daya air yang memadai, potensi pertanian yang dimiliki masyarakat akan terus berada dalam bayang-bayang ancaman bencana hidrometeorologi yang dapat mengganggu produktivitas pertanian.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat Desa Pantulan berharap agar perhatian pemerintah dapat segera diwujudkan melalui langkah-langkah konkret yang berpihak pada perlindungan lahan pertanian rakyat.
Bagi masyarakat setempat, sawah bukan sekadar hamparan lahan yang ditanami padi, melainkan ruang kehidupan yang menjadi sandaran ekonomi keluarga sekaligus harapan bagi keberlangsungan masa depan generasi mereka.
