Kupang, BBC – Forum pemaparan visi dan misi bakal calon Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) periode 2025–2029 menjadi ruang strategis bagi penegasan arah baru pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam forum yang diselenggarakan Senat Undana di Auditorium Graha Cendana, Prof. Dr. Drs. Melkisedek Taneo, M.Si. tampil dengan gagasan yang sarat refleksi akademis, filosofi cinta dan pengabdian tanpa batas.
Sejak pembukaan, Prof. Melkisedek menyampaikan kalimat penuh makna, “Saya ada karena cinta, dan saya akan pergi karena cinta.”
Ucapan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan sebuah moral foundation yang menjadi kerangka dasar dari keseluruhan strategi akademis yang ia rumuskan.
Prof. Melkisedek menegaskan bahwa visi dan misi yang ia tawarkan tidak lahir dari ruang hampa, melainkan berangkat dari analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang komprehensif terhadap dinamika Undana saat ini.
Analisis tersebut mencakup kualitas human resources (SDM akademik), posisi riset institusi dan keterhubungan Undana dengan national higher education policy.
Ia menggarisbawahi bahwa arah pembangunan nasional menuntun Indonesia menuju Generasi Emas 2045. Oleh karena itu, Undana harus tampil sebagai center of excellence, bukan hanya sekadar degree-producing institution, tetapi sebagai universitas yang melahirkan insan berkarakter, unggul, inovatif dan tetap berpijak pada local wisdom (kearifan lokal).
“Potensi Undana harus dikelola sebagai strategic capital untuk menghasilkan perubahan nyata dalam riset, inovasi, serta pengabdian masyarakat,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Melkisedek memperkenalkan empat kata kunci yang menjadi fondasi visi akademisnya:
Unggul (Excellence) – membangun standar mutu akademik yang berdaya saing nasional dan internasional.
Inovatif (Innovation) – memperkuat riset interdisipliner yang relevan dengan global challenges.
Berdampak (Impact) – menghadirkan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Kearifan Lokal (Local Wisdom) – mengintegrasikan nilai budaya daerah sebagai identitas akademis Undana.
Dengan empat pilar tersebut, Prof. Melkisedek menekankan pentingnya menjadikan Undana sebagai impactful university, sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta agenda strategis Presiden Republik Indonesia mengenai pembangunan karakter bangsa.
Untuk mengoperasionalkan visinya, Prof. Melkisedek merumuskan lima misi akademis yang selaras dengan Tridharma Perguruan Tinggi, yakni:
Expanding access to quality higher education – memperluas akses pendidikan tinggi bermutu yang inklusif, unggul dan berdampak.
Developing a research-based university with global competitiveness – mengokohkan Undana sebagai universitas riset yang berdaya saing global namun berakar lokal.
Community-oriented service – melaksanakan pengabdian masyarakat dengan orientasi pada kesejahteraan sosial dan pemberdayaan.
National and international networking – memperkuat jejaring kolaborasi lintas nasional dan internasional sebagai dukungan Tridharma.
Good and clean governance – menciptakan tata kelola universitas yang sehat, transparan dan akuntabel.
Di penghujung pemaparannya, Prof. Melkisedek mengajak seluruh sivitas akademika untuk membangun Undana sebagai
“knowledge-based institution with moral responsibility.” Baginya, keberhasilan universitas tidak cukup diukur dari ranking atau jumlah publikasi, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam membentuk generasi berkarakter, resilient, competitive and community-driven.
“Visi akademis ini bukan hanya dokumen administratif, melainkan komitmen kolektif untuk menjadikan Undana sebagai kampus yang unggul, inovatif, berdampak dan tetap berakar pada nilai kearifan lokal,” pungkasnya.
Dengan demikian, gagasan Prof. Melkisedek Taneo menghadirkan perspektif visioner tentang masa depan universitas: dari NTT menuju Indonesia, dari Indonesia menuju dunia.
