KUPANG, BBC — Sebuah kegiatan besar tidak seharusnya hanya meninggalkan jejak di sepanjang jalan, tetapi juga harus meninggalkan manfaat dalam kehidupan masyarakat. Ribuan orang yang datang, bergerak dan melintasi suatu wilayah semestinya menjadi peluang untuk menghidupkan pasar rakyat, memperkenalkan kekayaan daerah, serta membuka pintu kesejahteraan bagi masyarakat kecil.
Pesan itulah yang mengemuka dalam penyelenggaraan Tour de EnTeTe 2026. Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, memberikan apresiasi terhadap kegiatan olahraga berskala besar tersebut. Namun, baginya, makna Tour de EnTeTe tidak berhenti pada ribuan pesepeda yang mengayuh sepeda menempuh perjalanan, melainkan bagaimana momentum itu mampu menggerakkan pariwisata, memperkuat Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Apresiasi tersebut disampaikan Aurum saat menghadiri pelepasan 6.000 peserta Tour de EnTeTe Etape I – Daratan Timor Rute III, yang secara resmi dilepas oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, di Kantor Desa Oebelo, Kabupaten Kupang, Jumat (6/11/2026).
Sebanyak 6.000 peserta mengikuti perjalanan dari Desa Oebelo, Kabupaten Kupang, menuju Pantai Lasiana, Kota Kupang. Ribuan pesepeda tersebut menghadirkan momentum yang tidak hanya penting bagi dunia olahraga, tetapi juga membuka ruang promosi bagi potensi ekonomi dan pariwisata daerah.
Menurut Aurum, kegiatan Tour de EnTeTe memiliki nilai strategis karena mampu mempertemukan tiga sektor penting pembangunan daerah, yakni olahraga, pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketiganya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Olahraga dapat menghadirkan keramaian, pariwisata memperkenalkan identitas daerah, sementara UMKM memperoleh kesempatan untuk memasarkan produk dan memperluas jangkauan konsumennya.
“Kegiatan ini bukan sekadar berolahraga, tetapi sekaligus promosi pariwisata, pengembangan sektor UMKM, serta penggerak ekonomi masyarakat,” ungkap Aurum.
Ia berharap kegiatan berskala besar tersebut benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama para pelaku UMKM yang selama ini menjadi bagian penting dalam menggerakkan perekonomian daerah.
Menurutnya, kehadiran ribuan peserta dan pengunjung merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai produk unggulan lokal.
Di balik sebuah lapak sederhana, ada keluarga yang menggantungkan kehidupan. Di balik setiap produk yang dijual, ada tenaga, kreativitas dan harapan pelaku usaha kecil untuk mempertahankan kehidupan ekonominya.
Karena itu, ketika sebuah kegiatan mampu mendatangkan ribuan orang, masyarakat setempat semestinya tidak hanya menjadi penonton kemeriahan.
Mereka perlu memperoleh ruang untuk terlibat, menawarkan produk, memperkenalkan kuliner khas, serta mendapatkan kesempatan ekonomi dari kegiatan tersebut.
Pesan Aurum mengandung makna pembangunan yang penting: keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah peserta dan kemeriahan penyelenggaraan, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa keberhasilan Tour de EnTeTe membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah, DPRD, TNI, Polri, dunia usaha, komunitas olahraga, hingga masyarakat harus mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Gubernur juga meminta para bupati dan wali kota, termasuk Pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemerintah Kota Kupang, agar memfasilitasi keterlibatan pelaku UMKM lokal di setiap titik akhir kegiatan.
Menurut Gubernur, kehadiran ribuan peserta harus menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemasaran berbagai produk lokal, seperti kuliner khas daerah, tenun ikat dan hasil usaha lainnya.
Arahan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan olahraga dapat dikembangkan menjadi instrumen promosi ekonomi daerah apabila disertai keterlibatan masyarakat secara langsung.
Dengan demikian, Tour de EnTeTe tidak hanya menjadi ruang bagi para atlet dan komunitas pesepeda untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga menjadi panggung bagi produk lokal untuk dikenal lebih luas.
Bagi pelaku UMKM, kesempatan memperkenalkan produk kepada ribuan peserta merupakan peluang yang bernilai. Sebab, promosi tidak selalu harus dilakukan melalui ruang pameran besar atau kegiatan perdagangan berskala nasional. Sebuah momentum keramaian yang dikelola dengan baik pun dapat membuka jalan bagi produk lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Ketua Panitia Etape I Rute III, Jhoni Ataupah, dalam laporannya menyebutkan bahwa sebanyak 6.000 peserta ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Selain mendorong budaya hidup sehat melalui olahraga, Tour de EnTeTe juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Pelepasan peserta tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD Provinsi NTT Emelia Nomleni, Pangdam Sobe Sonbai Thevi Zebua, Sekda Provinsi NTT Frans Sales Sodo, jajaran Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Kupang, Pemerintah Kota Kupang, unsur Forkopimda, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Kehadiran berbagai unsur pemerintahan dan pemangku kepentingan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan berskala besar membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Dalam perspektif pembangunan daerah, kolaborasi menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan bahwa sebuah kegiatan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Pemerintah daerah memiliki peran untuk membuka akses, menyediakan ruang partisipasi dan memastikan masyarakat lokal memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi.
Tidak hanya menghadirkan kegiatan olahraga dan promosi ekonomi, rangkaian Tour de EnTeTe 2026 juga diisi dengan kegiatan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT bersama rombongan Forkopimda mengunjungi dua rumah warga penerima bantuan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang.
Secara keseluruhan, terdapat 10 warga yang menerima bantuan pembangunan RTLH, masing-masing lima orang di Kabupaten Kupang dan lima orang di Kota Kupang.
Lima penerima bantuan di Kabupaten Kupang terdiri atas Cripin Da Costa, Yoson Titus Lae, Faustina Dos Anjos, Natalino Dias Marques dan Filipe Ximenes.
Sementara itu, lima penerima bantuan di Kota Kupang adalah Margaretha Kay Illu, Martina Weni, Marselinus Asa, Yakob Laba dan Alexander Eli Da Silva.
Bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian Pemerintah Provinsi NTT dalam meningkatkan kualitas hunian dan kesejahteraan masyarakat.
Kunjungan kepada warga penerima bantuan RTLH memberikan dimensi sosial tersendiri dalam rangkaian kegiatan tersebut. Sebab, pembangunan tidak semata-mata berbicara tentang jalan yang dilalui, kegiatan yang diselenggarakan, atau jumlah orang yang berkumpul, tetapi juga tentang bagaimana kehidupan masyarakat yang membutuhkan perhatian dapat diperbaiki.
Rumah bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Rumah adalah tempat sebuah keluarga berlindung, membesarkan anak-anak, merawat harapan dan menjalani kehidupan.
Karena itu, perhatian terhadap warga penerima bantuan RTLH menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Tour de EnTeTe 2026 memberikan pelajaran bahwa olahraga dapat menjadi pintu masuk bagi pembangunan sektor lainnya. Ketika ribuan peserta hadir, terbuka kesempatan untuk memperkenalkan keindahan alam, kekayaan budaya, kuliner, tenun ikat dan berbagai produk unggulan daerah.
Namun, peluang tersebut membutuhkan pengelolaan yang terarah agar masyarakat lokal benar-benar memperoleh manfaat.
Pelaku UMKM perlu mendapatkan ruang berjualan yang strategis, kemudahan akses, promosi yang memadai, serta kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada peserta dan pengunjung.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi bukan hanya seberapa besar kegiatan diselenggarakan, melainkan seberapa jauh manfaatnya menjangkau kehidupan masyarakat.
Ada pedagang kecil yang menunggu pembeli, ada pengrajin yang berharap hasil tenunnya dikenal, ada keluarga yang menggantungkan penghasilan dari usaha sederhana dan ada masyarakat yang ingin mendapatkan kesempatan lebih baik melalui setiap peluang pembangunan.
Jangan sampai ribuan peserta hanya datang, mengayuh sepeda, lalu pergi tanpa meninggalkan manfaat bagi masyarakat yang wilayahnya mereka lintasi.
Harapan yang disampaikan Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, menjadi pengingat bahwa pembangunan harus memberikan ruang bagi semua orang, termasuk mereka yang selama ini bergerak dalam keterbatasan ekonomi.
Sebab, ketika roda sepeda terus berputar, roda ekonomi masyarakat juga harus ikut bergerak. Ketika pariwisata semakin dikenal, produk lokal harus memperoleh kesempatan untuk tumbuh. Dan ketika sebuah daerah menjadi tuan rumah kegiatan besar, rakyatnya harus ikut merasakan manfaatnya.
Pada akhirnya, Tour de EnTeTe tidak hanya tentang perjalanan dari Oebelo menuju Pantai Lasiana. Lebih dari itu, kegiatan ini membawa harapan agar olahraga, pariwisata, dan ekonomi rakyat dapat berjalan beriringan demi masa depan Nusa Tenggara Timur yang semakin maju, sehat, cerdas, sejahtera dan berkelanjutan.
