KUPANG, BBC — Ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada kehilangan harta benda, yakni ketika sebuah generasi kehilangan ingatan tentang asal-usulnya sendiri. Ada sesuatu yang lebih menyayat hati daripada rumah adat yang mulai lapuk dimakan waktu, yakni ketika anak-anak tidak lagi mengenal makna di balik kain tenun, bahasa daerah, tarian dan upacara adat yang dahulu menjadi napas kehidupan para leluhur.
Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Budaya adalah identitas, kehormatan, ingatan kolektif, sekaligus warisan peradaban yang menghubungkan generasi hari ini dengan mereka yang telah lebih dahulu menapaki tanah leluhur.
Pesan tentang pentingnya menjaga warisan kebudayaan itu mengemuka dalam Festival Para Raja bertajuk “FESET USIF MA’NAI” yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kupang melalui parade budaya dan tradisi daerah di Civic Center Oelamasi, Senin (2/11/2026).
Mengusung tema “Lestarikan Budaya dan Jaga Warisan Leluhur”, festival tersebut menjadi momentum untuk mempererat persatuan, memperkuat identitas budaya, serta menghidupkan kembali penghormatan terhadap sejarah kerajaan dan warisan leluhur yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan masyarakat Kabupaten Kupang.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, festival ini menghadirkan sebuah pengingat bahwa kemajuan tidak seharusnya membuat manusia melupakan akar kehidupannya. Sebab, sebuah masyarakat bukan hanya dibangun oleh gedung, jalan, teknologi dan berbagai kemajuan material, tetapi juga oleh nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Salah satu pemandangan yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah kehadiran Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, yang mewakili Bupati Kupang, Yosef Lede.
Aurum tampil mengenakan busana bermotif Amfoang. Penampilannya memperlihatkan bagaimana kain dan motif tradisional dapat menjadi bagian dari ekspresi identitas masyarakat Timor.
Ia juga tampak tidak mengenakan alas kaki dalam kegiatan tersebut. Penampilan itu dapat dibaca sebagai simbol kedekatan dengan tradisi dan tanah leluhur, sekaligus pengingat bahwa kebudayaan tidak selalu harus ditampilkan melalui kemegahan, tetapi juga dapat hadir dalam kesederhanaan dan penghormatan terhadap akar kehidupan.
Bagi masyarakat Timor, pakaian adat bukan sekadar kain yang membungkus tubuh. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai sosial, keterampilan para perempuan, pengetahuan turun-temurun, serta identitas komunitas yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kehidupan masyarakat.
Motif pada kain tenun bukan hanya persoalan keindahan visual. Ia merupakan bagian dari ekspresi kebudayaan yang mengandung pengetahuan, ingatan dan nilai-nilai yang diwariskan melalui proses panjang antargenerasi.
Karena itu, ketika generasi muda mengenakan kain tenun, sesungguhnya mereka sedang membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penampilan. Mereka sedang memperkenalkan sejarah, menghormati keterampilan para penenun dan menjaga agar identitas budaya tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Aurum Obe Titu Eki merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Wakil Bupati Kupang. Ia berasal dari Fatuleu dan dikenal memiliki kedekatan dengan kebudayaan Timor yang diwariskan dalam lingkungan keluarganya, termasuk melalui ayahnya, Ayub Titu Eki.
Identitas sebagai Bife Meto atau perempuan Timor membawa makna kebudayaan yang tidak berhenti pada asal-usul seseorang. Di dalamnya terdapat hubungan dengan bahasa, adat istiadat, nilai kekeluargaan, penghormatan kepada orang tua, hubungan antarsuku, serta tanggung jawab menjaga warisan leluhur.
Dalam kehidupan masyarakat adat Timor, warisan budaya bukan hanya sesuatu yang disimpan untuk dikenang. Ia harus dipelajari, dipraktikkan, dihormati dan diteruskan.
Bahasa daerah, misalnya, bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa merupakan rumah bagi ingatan sebuah masyarakat. Ketika bahasa leluhur semakin jarang digunakan oleh anak-anak, ada kekhawatiran bahwa pengetahuan, ungkapan kebijaksanaan dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya juga perlahan kehilangan ruang.
Demikian pula dengan tenun, tarian, musik tradisional, cerita rakyat, ritual adat, serta berbagai bentuk kearifan lokal lainnya.
Semuanya membutuhkan generasi penerus yang bersedia belajar dan memberikan ruang bagi kebudayaan untuk tetap hidup.
Sebab, warisan yang tidak dipelajari berisiko menjadi benda mati. Tradisi yang tidak diteruskan berpotensi tinggal sebagai dokumentasi. Sementara bahasa yang tidak lagi dituturkan dapat meninggalkan kesunyian yang sulit dipulihkan.
Festival Para Raja melalui parade budaya dan tradisi daerah juga menjadi ruang untuk mengingat perjalanan sejarah masyarakat Kabupaten Kupang.
Sejarah kerajaan dan para pemimpin adat merupakan bagian dari perjalanan sosial masyarakat yang membentuk identitas, hubungan antarkomunitas, serta sistem nilai yang berkembang dari masa ke masa.
Penghormatan terhadap para raja dan pemangku adat bukan berarti generasi sekarang harus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Sebaliknya, sejarah perlu dipelajari agar generasi muda memahami bagaimana masyarakatnya terbentuk, bagaimana nilai persaudaraan dipelihara, serta bagaimana kehidupan bersama dibangun melalui adat dan kesepakatan sosial.
Di sinilah pentingnya pendidikan kebudayaan.
Anak-anak perlu mengetahui mengapa orang tua mereka menghormati para tetua adat. Mereka perlu memahami makna bahasa daerah, filosofi tenun, nilai gotong royong, serta tata krama dalam kehidupan bermasyarakat.
Mereka juga perlu diajarkan bahwa menghormati adat bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Kebudayaan dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan modern, teknologi, ilmu pengetahuan dan inovasi.
Generasi muda boleh menjadi ahli teknologi, sarjana, pengusaha, pemimpin, maupun profesional di berbagai bidang. Namun, setinggi apa pun pendidikan dan sejauh apa pun perjalanan mereka, jangan sampai mereka merasa asing terhadap bahasa dan kebudayaan tanah kelahirannya sendiri.
Sebab, kecerdasan tanpa kesadaran sejarah dapat membuat manusia kehilangan pemahaman tentang akar identitasnya.
Jangan Sampai Kain Tenun Hanya Menjadi Pajangan dan Bahasa Daerah Hanya Menjadi Kenangan
Bagaimana jika suatu hari nanti anak-anak Kabupaten Kupang hanya mengenal kain tenun melalui gambar di buku pelajaran? Bagaimana jika mereka mengetahui tarian adat hanya dari rekaman video? Bagaimana jika bahasa yang dahulu digunakan kakek dan nenek mereka hanya terdengar dalam cerita tanpa lagi dipahami maknanya?
Betapa menyedihkan apabila warisan yang dahulu dijaga dengan penuh pengorbanan justru tidak lagi dikenal oleh keturunan yang seharusnya meneruskannya.
Para perempuan penenun menghabiskan waktu berhari-hari untuk menghasilkan sehelai kain. Para tetua adat menyimpan pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan melalui perjalanan panjang kehidupan. Orang tua mengajarkan bahasa, tata krama dan nilai persaudaraan kepada anak-anak mereka.
Semua itu bukan pekerjaan kecil.
Di balik sehelai kain tenun terdapat ketekunan. Di balik sebuah upacara adat terdapat tata nilai. Di balik bahasa daerah terdapat sejarah. Dan di balik setiap tradisi terdapat pengalaman hidup sebuah masyarakat.
Karena itu, melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan mengadakan festival, mengenakan pakaian adat pada acara resmi, atau menampilkan tarian tradisional ketika ada perayaan.
Pelestarian budaya membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan, keterlibatan keluarga, ruang belajar di sekolah, dukungan pemerintah, serta kesadaran masyarakat untuk menjadikan adat dan tradisi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Festival harus menjadi pintu masuk bagi pendidikan kebudayaan, bukan sekadar menjadi panggung pertunjukan yang selesai ketika acara berakhir.
Ungkapan “Bae sonde bae, Timor lebih bae” menyimpan pesan emosional tentang kecintaan terhadap tanah kelahiran dan kebanggaan terhadap identitas masyarakat Timor.
Ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa mencintai kebudayaan sendiri bukan berarti merendahkan kebudayaan orang lain. Justru, masyarakat yang menghargai identitasnya akan lebih mudah menghormati keberagaman.
Generasi muda perlu memahami bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan adat. Menguasai bahasa asing tidak mengharuskan seseorang melupakan bahasa daerah. Menggunakan teknologi tidak membuat seseorang kehilangan kewajiban menghormati orang tua dan para tetua adat.
Dunia boleh berubah, tetapi nilai kemanusiaan, persaudaraan, penghormatan dan kebijaksanaan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan.
Kebudayaan Timor tidak boleh hanya menjadi kebanggaan ketika ada tamu datang. Ia harus menjadi bagian dari kesadaran masyarakat, terutama generasi muda yang kelak akan memegang tanggung jawab menjaga keberlanjutan warisan tersebut.
Kedekatan Aurum Obe Titu Eki dengan kebudayaan yang diwariskan ayahnya, Ayub Titu Eki, juga menghadirkan refleksi mengenai pentingnya pendidikan budaya di dalam keluarga.
Keluarga merupakan ruang pertama tempat seorang anak mengenal identitasnya. Sebelum belajar tentang sejarah melalui buku, seorang anak mengenal sejarah melalui cerita orang tua. Sebelum memahami makna adat di ruang publik, seorang anak belajar menghormati tradisi melalui kebiasaan di rumah.
Warisan leluhur tidak selalu berbentuk tanah, rumah, atau benda berharga. Ada warisan yang tidak dapat dinilai dengan uang, yakni pengetahuan, bahasa, nilai kehidupan, penghormatan dan kebijaksanaan.
Warisan semacam inilah yang harus dijaga agar tidak terputus ketika generasi berganti.
Kehadiran Aurum dalam Festival Para Raja dengan mengenakan motif Amfoang menjadi salah satu gambaran bagaimana identitas budaya dapat ditampilkan dalam ruang pemerintahan dan kegiatan publik.
Namun, tanggung jawab pelestarian budaya tentu bukan hanya berada di pundak seorang pemimpin. Pemerintah, lembaga adat, sekolah, keluarga, komunitas budaya dan generasi muda memiliki peran masing-masing.
Pemerintah dapat memperkuat ruang pelestarian dan pendidikan budaya. Lembaga adat dapat meneruskan pengetahuan tradisional. Sekolah dapat memperkenalkan sejarah lokal. Keluarga dapat membiasakan penggunaan bahasa daerah. Sementara generasi muda dapat memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan, mempelajari dan memperkenalkan kebudayaan Timor kepada dunia.
Dengan demikian, tradisi tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi berkembang menjadi kekuatan identitas yang hidup.
Pada akhirnya, Festival Para Raja FESET USIF MA’NAI di Civic Center Oelamasi bukan hanya tentang parade, pakaian adat dan pertunjukan kebudayaan.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah cukup mengenal budaya yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur kita? Apakah anak-anak kita masih mengenal bahasa daerahnya? Apakah mereka memahami makna kain tenun yang dikenakan dalam acara adat? Apakah mereka mengetahui sejarah tanah tempat mereka dilahirkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kebudayaan tidak akan bertahan hanya dengan rasa bangga. Ia membutuhkan pengetahuan, kepedulian dan tindakan nyata.
Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita bertanya tentang nama para leluhur, tetapi tidak seorang pun mampu menceritakannya.
Jangan sampai mereka melihat kain tenun hanya sebagai benda indah tanpa memahami tangan-tangan yang dahulu bekerja keras membuatnya. Jangan sampai mereka mendengar bahasa Timor, tetapi tidak lagi mengetahui arti kata-katanya.
Sebab, kehilangan budaya bukan hanya kehilangan sebuah tradisi. Itu juga berarti kehilangan sebagian dari ingatan tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
Kita boleh mewariskan rumah yang besar kepada anak cucu, tetapi jangan lupa mewariskan identitas. Kita boleh meninggalkan kekayaan materi, tetapi jangan membiarkan mereka miskin pengetahuan tentang leluhurnya.
Karena pada akhirnya, generasi yang hebat bukan hanya generasi yang mampu menaklukkan masa depan, melainkan generasi yang tetap menghormati masa lalu tanpa kehilangan keberanian untuk melangkah maju.
Leluhur telah mewariskan akar. Tugas kita adalah menjaga agar pohon kebudayaan Timor tetap hidup, bertumbuh dan menaungi anak cucu, bahkan ketika kita sendiri telah tiada.
