KUPANG, BBC — Tidak semua pembangunan dimulai dengan kelimpahan materi. Ada yang berawal dari doa panjang, pergumulan yang tidak sederhana, ketulusan hati dan keyakinan bahwa Tuhan selalu membuka jalan bagi mereka yang tidak menyerah dalam iman.

Di tengah keterbatasan finansial, Jemaat GMIT Oikumene Oekabiti memilih untuk melangkah. Sebuah batu pertama diletakkan, bukan sekadar sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung kebaktian, melainkan sebagai simbol harapan dan kesungguhan jemaat dalam mempersiapkan masa depan pelayanan.

Semangat iman dan persatuan tersebut menjadi bagian penting dalam Ibadah Syukur Hari Ulang Tahun (HUT) Reformasi ke-509, HUT Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ke-79 dan HUT Jemaat Oikumene Oekabiti ke-12 yang dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Kebaktian Jemaat Oikumene Oekabiti, Sabtu (31/10/2026) siang, di Kelurahan Nonbes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang.

Bupati Kupang, Yosef Lede, yang menghadiri kegiatan tersebut, menyampaikan ucapan selamat atas perayaan tiga momentum bersejarah itu.

Ia mengajak seluruh jemaat untuk senantiasa mensyukuri penyertaan Tuhan yang telah menuntun perjalanan gereja dan kehidupan persekutuan jemaat hingga saat ini.

Menurut Yosef, pertumbuhan gereja tidak semata-mata diukur melalui perkembangan bangunan fisik, tetapi juga melalui kemampuan jemaat dalam memelihara semangat pelayanan, memperkuat persaudaraan, serta membangun kebersamaan sebagai fondasi kehidupan bergereja.

Memasuki usia ke-12, Jemaat Oikumene Oekabiti dinilai telah menunjukkan kesungguhan dalam mempersiapkan masa depan pelayanan.

Kerinduan untuk memiliki gedung kebaktian yang lebih representatif merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menyediakan ruang peribadatan yang mampu mengakomodasi pertumbuhan jemaat dari generasi ke generasi.

Bupati Yosef Lede mengapresiasi keberanian dan visi jemaat yang telah memikirkan kebutuhan rumah ibadah untuk 15 hingga 20 tahun mendatang.

Baginya, perencanaan pembangunan jangka panjang menunjukkan adanya kesadaran bahwa pelayanan gereja harus dipersiapkan secara matang, tidak hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk menjawab tantangan kehidupan bergereja pada masa depan.

“Saya melihat semangat jemaat luar biasa. Meskipun baru berusia 12 tahun, sudah memiliki pemikiran untuk mempersiapkan rumah ibadah yang dapat menampung pertumbuhan jemaat 15 sampai 20 tahun ke depan. Ini merupakan bentuk kesungguhan jemaat dalam mempersiapkan masa depan pelayanan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Yosef berharap gedung kebaktian yang dibangun nantinya tidak hanya menjadi tempat untuk melaksanakan ibadah dan persekutuan dengan Tuhan.

Gedung tersebut diharapkan berkembang menjadi rumah berkat, pusat pembinaan iman, ruang edukasi bagi anak-anak, serta tempat tumbuhnya nilai-nilai kehidupan yang memberikan manfaat bagi seluruh jemaat dan masyarakat di sekitarnya.

Dalam perspektif pembangunan sosial dan spiritual, rumah ibadah memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar bangunan fisik. Di dalamnya, generasi muda dibentuk melalui pendidikan iman, anak-anak diperkenalkan pada nilai kasih dan masyarakat diajak untuk memahami arti persaudaraan, kepedulian, serta tanggung jawab bersama.

Yosef Lede: Pembangunan Gereja Bukan Hanya Menunggu Bantuan Pemerintah
Terkait pembangunan Gedung Kebaktian Jemaat Oikumene Oekabiti, Bupati Yosef Lede menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kupang memberikan dukungan terhadap pergumulan jemaat. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh sepenuhnya digantungkan pada bantuan pemerintah.

Menurutnya, partisipasi aktif, keterbukaan, ketulusan dan semangat gotong royong seluruh warga jemaat merupakan unsur penting yang harus terus dipelihara.

Pembangunan rumah Tuhan membutuhkan kesediaan setiap orang untuk mengambil bagian sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing.

Ia secara khusus mengingatkan agar pembangunan tersebut tidak hanya dianggap sebagai tanggung jawab 34 kepala keluarga ataupun semata-mata menjadi beban pemerintah daerah.

“Jangan berpikir bahwa pembangunan ini hanya menjadi tanggung jawab 34 kepala keluarga atau menunggu bantuan dari Bupati. Tuhan dapat menghadirkan berkat melalui siapa saja. Karena itu, jemaat harus tetap bersatu, bekerja dengan sungguh-sungguh, membuka diri dan terus berdoa. Bagian kita adalah bekerja dan berusaha, sementara hasilnya kita serahkan kepada Tuhan,” tegasnya.

Pesan tersebut mengandung makna bahwa keterbatasan finansial tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan harapan. Dalam setiap pergumulan pembangunan, iman perlu berjalan beriringan dengan tindakan nyata. Doa tidak boleh mematikan usaha, sebagaimana usaha tidak boleh membuat manusia melupakan penyertaan Tuhan.

Yosef juga mengajak seluruh jemaat untuk menjaga persatuan, membangun kerja sama, serta berpegang teguh pada kesepakatan bersama agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai target yang telah direncanakan.

Ia meyakini bahwa tekad, keterbukaan, dan kerja keras akan membuka ruang bagi hadirnya dukungan dari berbagai pihak. Sebab, semangat kebersamaan memungkinkan sebuah pergumulan yang awalnya terasa berat untuk dipikul bersama-sama.

Sementara itu, Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur, Pdt. Marsel R. Toean, S.Th., dalam suara gembalanya menyampaikan bahwa penyerahan Akta Iman merupakan wujud keyakinan dan kepercayaan jemaat kepada Tuhan dalam memulai pembangunan gedung kebaktian.

Ia memahami bahwa dukungan finansial yang tersedia saat ini belum mencukupi seluruh kebutuhan pembangunan. Namun, keterbatasan tersebut tidak boleh menghilangkan keberanian jemaat untuk melangkah dengan iman dan pengharapan.

Menurutnya, jemaat perlu tetap percaya bahwa Tuhan akan membuka jalan, mencurahkan berkat, serta menghadirkan pertolongan bagi kelancaran pembangunan rumah ibadah tersebut.

Pdt. Marsel juga menekankan bahwa persatuan dan persekutuan merupakan landasan penting dalam menghadapi setiap tahapan pembangunan.

Dengan berpedoman pada Mazmur 133:1-3, ia mengingatkan bahwa kehidupan dalam persaudaraan dan kebersamaan mendatangkan berkat Tuhan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan gereja tidak boleh justru melahirkan perpecahan. Sebaliknya, setiap prosesnya harus memperkuat ikatan persaudaraan, memperdalam kepedulian dan menumbuhkan kesediaan untuk saling menopang.

Pada kesempatan yang sama, Ketua UPP Pembangunan Jemaat GMIT Oikumene Oekabiti, Penatua Yohanis Ataupah, menyampaikan terima kasih kepada para hamba Tuhan yang selama ini telah melayani dan mendampingi perjalanan jemaat.

Secara khusus, ia memberikan penghargaan kepada Pendeta Emeritus Gabriel Ria yang pernah melayani Jemaat Oikumene Oekabiti selama kurang lebih empat hingga lima tahun, serta Pendeta Risa Petronella Runesi yang telah mendampingi jemaat hampir sepuluh tahun hingga saat ini.

Baginya, perjalanan sebuah jemaat tidak dapat dilepaskan dari pengabdian para pelayan Tuhan yang telah memberikan waktu, tenaga, pemikiran dan pelayanan untuk membangun kehidupan iman warga gereja.

Yohanis juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kupang, Yosef Lede, serta seluruh undangan yang telah hadir dalam perayaan syukur sekaligus mendukung dimulainya pembangunan gedung kebaktian tersebut.

Ia berharap doa, ketulusan dan kebersamaan seluruh pihak dapat menjadi kekuatan bagi jemaat dalam mewujudkan pembangunan rumah ibadah yang selama ini menjadi pergumulan bersama.

Pada akhirnya, batu pertama yang diletakkan di Oekabiti bukan hanya menandai dimulainya pekerjaan konstruksi. Di baliknya terdapat harapan agar generasi berikutnya tetap memiliki tempat untuk berdoa, belajar tentang kasih, memperkuat persaudaraan dan menemukan makna kehidupan dalam persekutuan dengan Tuhan.

Sebab, gedung gereja dapat dibangun dengan batu, pasir, semen dan keringat manusia. Namun, kehidupan gereja hanya dapat terus bertumbuh apabila kasih tetap dipelihara, persatuan tidak dipatahkan dan iman tidak dibiarkan runtuh oleh keterbatasan.

Dana boleh terbatas, tetapi pengharapan jangan kehilangan tempatnya. Sebab, rumah Tuhan yang kokoh bukan hanya berdiri melalui kekuatan bangunan, melainkan juga melalui hati jemaat yang bersedia bersatu, bekerja, berdoa dan saling menguatkan.