Kupang, BBC — Suasana haru menyelimuti Dusun Dua, Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Di tengah kesunyian hidup seorang lansia yang bertahan sendiri tanpa suami dan anak, secercah cahaya baru akhirnya hadir pada perayaan Natal tahun ini.
Terfina Lake, perempuan yang hidup sebatang kara, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasakan terang listrik berkat hadiah Natal dari Polsek Fatuleu.
Bantuan ini berupa pemasangan meteran listrik yang sebelumnya tak pernah dimiliki Terfina. Sejak sebelum Indonesia merdeka, hingga delapan dekade setelah kemerdekaan, rumah sederhana tempat ia berteduh tak pernah dialiri listrik. Gelap malam adalah teman setianya, dan lampu minyak menjadi penerang yang ia andalkan sepanjang hidup.
Kini, untuk pertama kalinya, senja di rumah Terfina tidak lagi pekat. Ada cahaya baru yang menyingkap kesendiriannya, menghadirkan harapan di usia senjanya.
Kehadiran listrik bukan hanya memudahkan, tetapi juga menghangatkan batinnya yang selama ini hidup dalam sunyi.
Kapolsek Fatuleu, Maks Tameno menjelaskan kepada media pada Jumat, 5 Desember 2025, bahwa bantuan tersebut adalah bentuk kepedulian terhadap warga yang hidup dalam kesulitan.
“Lebih baik membantu orang yang susah dan lemah. Itu jauh lebih baik daripada kita hidup namun tidak berbuat apa-apa untuk orang lain,” ungkapnya dengan nada penuh ketulusan.
Dalam penjelasan berikutnya, Maks Tameno menegaskan bahwa tugas kepolisian tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan setiap warga merasakan kehadiran negara.
“Kita bukan hanya penjaga ketertiban, kita juga penjaga harapan. Ketika ada warga yang hidup dalam gelap, maka tugas kitalah menyalakan terang bagi mereka,” katanya, menggambarkan betapa pentingnya sentuhan kemanusiaan dalam menjalankan tugas.
Ia juga menambahkan bahwa tindakan kecil dapat memberi dampak besar bagi hidup seseorang.
“Tidak semua orang membutuhkan bantuan besar. Kadang mereka hanya butuh perhatian, sentuhan kecil dan kehadiran kita. Jika satu lampu bisa mengubah hidup seorang ibu tua, maka itu lebih berharga dari apapun,” ucapnya lagi, penuh makna.
Dalam pernyataannya yang lain, Maks Tameno menekankan bahwa momen Natal adalah waktu terbaik untuk berbagi kasih.
“Natal selalu mengajarkan kita untuk memberi, bukan sekadar menerima. Hari ini kita memberi listrik, namun sesungguhnya kita sedang memberikan harapan. Dan harapan adalah hadiah terbaik bagi mereka yang hampir menyerah,” ujarnya, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Kalimat-kalimat itu mengalir bukan sekadar sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai panggilan kemanusiaan. Di tengah rutinitas aparat penegak hukum, tindakan kecil yang membawa dampak besar seperti ini menjadi pengingat bahwa kehadiran negara harus dirasakan oleh seluruh rakyat, terutama mereka yang hampir terlupakan.
Pemasangan listrik bagi Terfina bukan hanya soal fasilitas, melainkan simbol kasih, kepedulian, dan perhatian. Cahaya yang kini menerangi malam-malamnya seakan menjadi doa tak bersuara—bahwa ia tidak benar-benar sendiri, bahwa masih ada tangan-tangan yang ingin mengangkat dan mendukungnya.
Warga sekitar pun ikut merasakan kehangatan momen tersebut. Banyak yang mengakui bahwa bantuan ini menjadi inspirasi untuk lebih saling peduli, terlebih menjelang perayaan Natal yang sarat makna kasih.
Aksi tersebut menjadi pengingat bahwa masih banyak ruang bagi manusia untuk berbuat baik, meski di tengah kesibukan dan keterbatasan.
Hadiah Natal dari Polsek Fatuleu ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu harus besar. Kadang, cukup dengan menyalakan satu lampu di rumah seorang lansia, kita juga tengah menyalakan harapan di hatinya. Cahaya itu bukan hanya menerangi ruang, tetapi juga melunakkan kesunyian yang selama ini menyelimuti hari-harinya.
Di rumah kecil di Desa Tolnaku itu, Natal tahun ini terasa lebih terang—bukan hanya karena listrik yang baru menyala, tetapi karena kasih yang menyertainya.
Dalam terang yang lembut itu, tersimpan harapan baru, bahwa setiap manusia pantas mendapatkan perhatian, cinta dan cahaya dalam hidup mereka.
