Kupang, BBC — Pemerintah Kabupaten Kupang membuka ruang kolaborasi internasional melalui penerimaan rombongan mahasiswa dan dosen dari Universitas Maastricht, Belanda di Ruang Rapat Bupati Kupang, Oelamasi, Rabu (5/11/2205).
Kegiatan ini menandai dimulainya program studi lapangan (field study) selama satu bulan di Dusun Sanenu, Desa Bokong, Kecamatan Taebenu, bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Rombongan yang terdiri atas 13 mahasiswa dan dosen dari Universitas Maastricht diterima langsung oleh Bupati Kupang, Yosef Lede bersama Wakil Bupati, Aurum Obe Titu Eki dan Sekretaris Daerah, Mateldius Sanam.
Dalam sambutannya, Bupati Yosef menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan bagian dari transformasi pengetahuan lintas budaya yang membawa nilai strategis bagi daerah.
“Kami memandang kolaborasi ini sebagai proses pembelajaran dua arah. Mahasiswa dari Belanda datang membawa perspektif global, sementara masyarakat Kupang memberikan pelajaran berharga tentang kearifan lokal dan ketahanan sosial,” ujar Yosef Lede.
Program studi lapangan ini bertujuan menciptakan transfer ilmu dan pertukaran budaya antara mahasiswa Belanda dan Indonesia.
Melalui pendekatan partisipatif, para peserta akan terlibat langsung dalam pengamatan sosial, pembangunan masyarakat dan kajian lingkungan di wilayah pedesaan Kabupaten Kupang.
Wakil Bupati Aurum Obe Titu Eki menambahkan bahwa Kabupaten Kupang memiliki keberagaman budaya dan kekayaan tradisi yang tinggi, yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi akademisi internasional.
“Kami tidak hanya menyambut mereka untuk belajar, tetapi juga untuk mengalami kehidupan masyarakat Kupang yang penuh keramahan dan nilai-nilai kebersamaan,” ujarnya.
Dosen pendamping dari Universitas Maastricht, Sasoha Hard menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat Pemerintah Kabupaten Kupang.
Ia menilai bahwa interaksi langsung dengan masyarakat lokal akan memberikan pengalaman empiris yang mendalam bagi mahasiswa, sekaligus memperluas perspektif global mereka tentang pembangunan berkelanjutan.
“Kami merasa terhormat diterima dengan sangat terbuka. Kegiatan ini adalah bentuk nyata dari pembelajaran lintas budaya yang akan memperkaya pemahaman kami tentang konteks sosial di Indonesia,” tutur Sasoha.
Sementara itu, dosen Universitas Nusa Cendana, Jeffry Likadja menjelaskan bahwa kolaborasi antara Undana dan Universitas Maastricht telah berlangsung selama dua tahun, dengan tahun 2025 ini menjadi kali pertama kegiatan tersebut digelar di Kabupaten Kupang.
Sebanyak 28 mahasiswa Undana turut terlibat aktif dalam penelitian lapangan bersama mahasiswa Belanda.
Menurutnya, kegiatan ini membuka ruang bagi integrasi antara teori akademik dan realitas sosial masyarakat, sekaligus memperkuat jejaring ilmiah antara kedua universitas.
Program studi lapangan ini diharapkan mampu menghasilkan model pembelajaran kolaboratif berbasis masyarakat, yang tidak hanya memperkaya pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat konkret bagi masyarakat Dusun Sanenu.
Dengan semangat kolaborasi global dan akar budaya lokal, kegiatan ini menegaskan posisi Kabupaten Kupang sebagai ruang belajar internasional yang inklusif, tempat pengetahuan dan budaya bertransformasi menjadi kekuatan bersama untuk kemajuan masyarakat.
