Denpasar, BBC — Transformasi pendidikan menjadi isu sentral dalam forum Google for Education: Transformasi Pembelajaran Ciptakan Pengalaman Belajar yang Efektif, Inklusif dan Relevan, yang berlangsung di Denpasar, Rabu (3/9/2025).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah figur publik nasional dan daerah, antara lain Basuki Tjahya Purnama (Ahok), Gubernur NTT Melki Laka Lena, serta Bupati Kupang Yosef Lede sebagai keynote speakers.
Forum yang digagas Google Indonesia ini menegaskan urgensi penerapan pendidikan digital (digital education) sebagai strategi menghadapi kompleksitas tantangan global.
Di tengah pesatnya perkembangan technology-based learning, pembelajaran berbasis digital dipandang bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah kebutuhan strategis dan fundamental, khususnya di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Dalam presentasinya, Bupati Kupang Yosef Lede menekankan bahwa pembangunan pendidikan unggul (excellent education) telah diposisikan sebagai prioritas utama dalam RPJMD Kabupaten Kupang 2025–2029.
Menurutnya, meskipun keterbatasan fiskal dan kapasitas daerah masih menjadi tantangan, pemerintah daerah berkomitmen penuh menyalurkan alokasi APBD untuk memastikan dunia pendidikan tetap menjadi pilar pembangunan.
“Dalam dokumen RPJMD sudah tertulis jelas komitmen membangun pendidikan unggul di Kabupaten Kupang. Walaupun keterbatasan anggaran adalah realitas, our commitment remains strong. Pemerintah memastikan bahwa transformasi digital di sektor pendidikan akan berjalan sebagai salah satu prioritas pembangunan,” tegas Yosef.
Lebih jauh, Yosef menyoroti pentingnya capacity building bagi para guru dan kepala sekolah. Ia menyebut tenaga pendidik sebagai frontliners yang berperan krusial dalam mengarahkan siswa menghadapi era digital.
Menurutnya, penguasaan digital literacy, pedagogical competence dan learning technology wajib ditingkatkan agar guru tidak tertinggal dari arus perubahan global.
“Akan kita dorong secara bertahap agar setiap sekolah di Kabupaten Kupang mampu menerapkan digital-based learning. Guru dan siswa harus berkolaborasi dalam digital learning environment yang partisipatif, inklusif dan kompetitif,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur NTT Melki Laka Lena mengakui bahwa kesenjangan pendidikan di NTT masih signifikan dibanding daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dengan mitra global seperti Google Indonesia merupakan momentum penting yang tidak boleh disia-siakan. “We cannot move alone. Dukungan dari berbagai stakeholders sangat penting agar transformasi pendidikan di NTT dapat dipercepat,” jelas Melki.
Forum ini juga menggarisbawahi pentingnya dimensi keadilan sosial dalam pembangunan pendidikan. Transformasi digital tidak boleh melahirkan kesenjangan baru, melainkan harus membuka akses pengetahuan yang setara bagi siswa di kota maupun di daerah terpencil.
Prinsip equity in education menjadi pijakan agar semua anak bangsa memperoleh hak yang sama dalam mengakses ilmu pengetahuan.
Selain itu, diskursus akademis dalam forum ini menyinggung aspek policy framework dan sustainability. Digitalisasi pendidikan harus selaras dengan kebijakan daerah dan nasional agar implementasinya tidak berhenti pada proyek jangka pendek.
Dibutuhkan regulasi yang berpihak, anggaran yang memadai serta kemitraan berkelanjutan agar transformasi pendidikan benar-benar memberikan dampak yang signifika
Pendidikan digital adalah jembatan menuju masa depan. Namun, ia tidak hanya berbicara tentang devices dan applications. Ia berbicara tentang keberanian membangun manusia berkarakter, penguatan kapasitas guru serta kebijakan publik yang adil dan berpihak pada semua kalangan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan mitra global, NTT dapat menjadikan pendidikan sebagai the true engine of transformation—sebuah mesin perubahan yang membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju peradaban unggul, inklusif dan berdaya saing global.
