Padahal kebiasaan ini buruk dan menjadi salah satu faktor penyebab diabetes tipe 2.Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 menunjukkan pengeluaran rumah tangga untuk MBDK mencapai Rp 90 triliun.
Jumlah ini meningkat sebesar 9%. dibandingkan dengan perkiraan nilai belanja MBDK pada tahun 2017.
“Penelitian juga menunjukkan bahwa 184.000 kematian di seluruh dunia disebabkan oleh konsumsi minuman manis (SSB), dimana 133.000 di antaranya disebabkan oleh diabetes,” ujarnya.
Prof. Dante berharap kebijakan cukai MBDK yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi bisa diterapkan pada tahun ini. Menurutnya, hal ini bisa memberikan solusi jangka panjang bagi penanganan diabetes di Indonesia.
Selain itu, sudah ada 100 negara di dunia yang telah menerapkan kebijakan ini dan terbukti efektif.
“Pengurangan konsumsi MBDK kemungkinan besar akan membawa perubahan positif pada kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. “Konsumsi MBDK terbukti meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya,” ujarnya.
