KUPANG,BBC — Senja kemerdekaan tahun ini menyisakan narasi berbeda di langit Oelamasi.

Di bawah cahaya matahari yang meredup keemasan, Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki tampil sebagai Inspektur Upacara Penurunan Bendera Merah Putih.

Kehadirannya dalam balutan busana adat kebesaran Rote Ndao tidak hanya menghadirkan estetika budaya, melainkan juga merefleksikan otoritas seorang pemimpin perempuan yang berkarakter, anggun, sekaligus berwibawa.

Derap langkah Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) berpadu dengan kesunyian sakral senja, melahirkan suasana yang khidmat.

Senyum Aurum setelah menuntaskan prosesi upacara menggambarkan keyakinan dan optimisme seorang pemimpin muda dalam menata masa depan Kabupaten Kupang.

“Puji Tuhan, seluruh rangkaian penurunan bendera berjalan baik. Paskibraka melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya dengan nada penuh syukur.

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 di Kabupaten Kupang tahun ini menghadirkan dialektika yang menarik antara nasionalisme dan kearifan lokal.

Pada pagi hari, Bupati Yosef Lede mengenakan busana adat Sabu Raijua, sementara pada sore harinya, Aurum Titu Eki tampil dengan kain tenun khas Rote Ndao yang sarat makna filosofi maritim dan kebijaksanaan leluhur.

Rotasi busana adat tersebut bukanlah sekadar hiasan seremonial. Ia merepresentasikan komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang dalam menjadikan tradisi sebagai identitas kebangsaan.

“Ada imbauan kepada seluruh pimpinan OPD untuk mengenakan busana adat. Pagi tadi saya sendiri mengenakan pakaian adat Timor Helong,” jelas Aurum,

menegaskan bahwa kebijakan publik pun dapat berpadu dengan penghargaan pada akar budaya.

Sementara itu, Bupati Yosef Lede memilih busana adat Fatuleu dengan dominasi merah dan putih. Perpaduan tersebut membangun narasi kebudayaan yang mengafirmasi semangat nasionalisme sekaligus memperkaya pluralitas identitas lokal.

Setelah penurunan bendera yang dilaksanakan dengan penuh kehormatan, rangkaian kegiatan berlanjut dengan pengumuman pemenang sayembara desain Patung Kristus di Pulau Semau.

Inisiatif monumental ini diproyeksikan sebagai simbol doa kolektif sekaligus ikon spiritualitas dan kebangkitan daerah.

Alunan musik tradisional menambah nuansa kebersamaan. Civic Center Oelamasi bergema dengan tawa, semangat dan persaudaraan.

Acara ditutup dengan tos kenegaraan di lobi Kantor Bupati Kupang, menghadirkan simbol persatuan lintas generasi dan menegaskan bahwa kemerdekaan harus selalu dirayakan dengan keterlibatan masyarakat secara inklusif.

Dalam refleksi penutupnya, Aurum Titu Eki menekankan bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada seremoni, melainkan harus diisi dengan kerja nyata dan karya kolektif.

“Sebagai generasi penerus, kita harus mengisi kemerdekaan dengan kontribusi positif. Kabupaten Kupang tidak boleh berhenti melangkah.

Kita harus terus menuju Kabupaten Kupang Emas, yakni daerah dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, masyarakat yang sejahtera, serta lingkungan yang lestari,” tegasnya.

Senja 17 Agustus 2025 akhirnya tercatat sebagai momen historis: bukan sekadar perayaan kemerdekaan, tetapi juga pernyataan visi dan komitmen.

Di bawah cahaya matahari yang meredup, Kabupaten Kupang menorehkan tekad untuk menjahit masa depan dengan benang budaya, doa dan harapan bersama.