KUPANG, BBC – Sore itu, di Panti Asuhan Bhakti Luhur Kupang, Rabu (12/8/2026), waktu seakan berjalan lebih perlahan. Di antara ruang-ruang sederhana tempat anak-anak berkebutuhan khusus dan anak terlantar menambatkan harapan, sebuah lagu mengalun dengan lembut. “Indah Rencana-Mu” dinyanyikan bersama, membawa suasana yang bukan sekadar meriah, melainkan hangat oleh persaudaraan dan bening oleh rasa kemanusiaan.
Lagu itu dilantunkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama perwakilan pimpinan perangkat daerah dan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Provinsi NTT.
Kehadiran mereka merupakan bagian dari kegiatan anjangsana sosial Pemprov NTT untuk mengawali rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tempat yang selama ini menjadi rumah bagi mereka yang membutuhkan perhatian lebih, pesan Gubernur Melki terdengar sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna:
“Di ALMA, kita semua satu.”
Kalimat itu seperti menjelma menjadi jembatan yang mempertemukan banyak hati. Pemerintah, para suster, pegawai dan anak-anak panti berdiri dalam satu ruang yang sama—ruang kemanusiaan, tempat perbedaan tidak menjadi jarak dan keterbatasan tidak menjadi alasan untuk kehilangan harapan.
Kunjungan tersebut tidak berhenti pada seremoni. Gubernur Melki Laka Lena menyerahkan secara simbolis bantuan sembako dan alat tulis, sebagai dukungan terhadap kebutuhan operasional panti sekaligus aktivitas pendidikan anak-anak.
Namun, mungkin yang paling berharga dari sebuah kunjungan bukanlah apa yang dibawa dalam bentuk bantuan, melainkan kesediaan untuk hadir. Sebab bagi mereka yang hidup dalam ruang pelayanan sosial, kehadiran sering kali memiliki bahasa yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata.
Ketika Anak-Anak Menyanyikan Harapan
Suasana kemudian berubah menjadi lebih hangat ketika anak-anak Bhakti Luhur mempersembahkan bakat seni mereka.
Ignas tampil membawakan lagu solo. Setelah itu, suara paduan suara anak-anak panti mengalun melalui lagu “Doa Seorang Anak”.
Suara-suara itu mungkin tidak sempurna dalam ukuran panggung profesional.
Tetapi di sana terdapat sesuatu yang jauh lebih bernilai: keberanian untuk tampil, kegembiraan untuk berbagi, serta keyakinan bahwa setiap anak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada dunia.
Lagu menjadi bahasa yang tidak membutuhkan penjelasan panjang. Di balik setiap bait yang dinyanyikan, tersimpan kerinduan sederhana seorang anak: untuk dicintai, didampingi, dididik, dihargai dan diberi kesempatan untuk memandang masa depan tanpa rasa takut.
Di situlah makna anjangsana menemukan kedalamannya. Negara tidak sekadar datang melihat, tetapi berusaha mendengar; tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi menyapa manusia di balik setiap kebutuhan.
Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan penghargaan kepada Susteran ALMA yang selama ini secara konsisten mengambil bagian dalam pelayanan sosial di NTT.
“Sebagai Gubernur, saya mengapresiasi Suster ALMA yang telah merawat anak-anak NTT. Tentu sebagai pemerintah, kami berterima kasih,” ujar Melki.
Apresiasi tersebut sekaligus merupakan pengakuan bahwa pelayanan kesejahteraan sosial tidak mungkin ditanggung pemerintah seorang diri. Ia membutuhkan kerja bersama, ketekunan para pengasuh, kepedulian masyarakat, serta keberpihakan negara terhadap mereka yang berada dalam posisi rentan.
Kepada anak-anak, Melki menitipkan pesan agar mereka tidak kehilangan semangat dalam menapaki kehidupan.
“Kepada anak-anak sekalian tetap semangat, percaya bahwa di ALMA kita semua satu,” katanya.
Ia memastikan pemerintah akan terus memberikan dukungan agar melalui pelayanan para suster, anak-anak dapat terus bersekolah, memperoleh perawatan dan menjalani kehidupan dengan baik.
Pesan itu memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar pernyataan dukungan. Pembangunan kesejahteraan sosial pada hakikatnya bukan hanya persoalan membangun fasilitas atau menyalurkan bantuan. Lebih dari itu, pembangunan adalah usaha memastikan setiap manusia memperoleh kesempatan untuk hidup bermartabat.
Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Sekadar Penerima, tetapi Pemilik Potensi
Perhatian Gubernur Melki juga diarahkan pada potensi anak-anak berkebutuhan khusus yang berada di Bhakti Luhur.
Hal tersebut menjadi semakin relevan karena NTT akan menjadi tuan rumah dua agenda olahraga nasional besar, yakni Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) II 2026 dan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk menemukan bakat-bakat yang selama ini mungkin tumbuh dalam diam.
Anak berkebutuhan khusus tidak semestinya hanya dipandang dari keterbatasannya. Di balik keterbatasan selalu mungkin terdapat kemampuan yang belum menemukan ruang untuk tumbuh. Dengan pendampingan, pendidikan, latihan, dan lingkungan yang mendukung, potensi itu dapat menjadi prestasi.
Karena itu, perhatian terhadap mereka bukanlah bentuk belas kasihan. Ia merupakan bagian dari penghormatan terhadap martabat manusia dan pengakuan bahwa setiap anak memiliki hak untuk berkembang sesuai kemampuan yang dimilikinya.
Pengasuh Panti Asuhan Bhakti Luhur, Suster Floreta, menyambut kehadiran Gubernur Melki Laka Lena bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTT dengan penuh sukacita.
“Selamat datang kepada Bapak Gubernur dan jajaran. Kunjungan ini menjadi kehadiran yang membawa berkat, kasih, sukacita dan motivasi bagi anak-anak di tempat ini,” tutur Suster Floreta.
Bagi Suster Floreta, pelayanan terhadap anak-anak tidak dapat berjalan seorang diri.
“Dalam pelayanan ini kami tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk pemerintah,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kerja-kerja kemanusiaan memiliki wajah yang kolektif. Pemerintah memiliki tanggung jawab, lembaga sosial memiliki pengabdian, masyarakat memiliki kepedulian, sementara anak-anak adalah pusat dari seluruh ikhtiar tersebut.
Panti Asuhan Bhakti Luhur yang dikelola Susteran ALMA saat ini merawat 28 anak berkebutuhan khusus dan anak terlantar.
Mereka didampingi oleh tujuh suster dan lima pegawai, yang setiap hari menjalankan pelayanan dengan ketekunan dan kesabaran.
Pelayanan di panti tersebut juga tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan dasar.
Tersedia layanan terapi, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai bagian dari upaya mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
Lebih dari itu, anak-anak juga dibekali keterampilan produktif.
Mereka terlibat dalam produksi tempe harian yang disebut selalu habis terjual. Selain itu, mereka juga belajar membuat kerajinan tangan berupa rosario.
Di balik aktivitas sederhana tersebut terdapat pendidikan yang penting: tentang kerja, ketekunan, tanggung jawab, kemandirian dan penghargaan terhadap kemampuan diri.
Panti bukan hanya tempat untuk berteduh. Ia menjadi ruang pendidikan, ruang pemulihan, ruang pembentukan karakter, sekaligus rumah tempat harapan dipelihara agar tidak padam.
Kunjungan Pemerintah Provinsi NTT ke Bhakti Luhur dalam rangkaian awal peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada akhirnya memiliki makna yang melampaui agenda seremonial.
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang sejarah perjuangan bangsa. Kemerdekaan juga tentang memastikan setiap warga negara, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus dan anak terlantar, memperoleh hak untuk tumbuh, belajar, dicintai, dilindungi dan dihormati martabatnya.
Di sanalah negara menemukan wajahnya yang paling manusiawi: ketika kekuasaan tidak hanya berbicara dari podium, tetapi bersedia turun, duduk, mendengar, menyapa, dan hadir di tengah mereka yang membutuhkan.
Lantunan “Indah Rencana-Mu” yang bergema di Bhakti Luhur pun seakan menjadi metafora perjalanan kehidupan. Tidak semua jalan dapat diprediksi, tidak semua masa depan dapat dibaca, tetapi harapan selalu memiliki alasan untuk dipelihara.
Dan ketika Melki Laka Lena mengatakan, “Di ALMA, kita semua satu,” pesan itu menjadi lebih dari sekadar kalimat.
Ia adalah penegasan bahwa di hadapan kemanusiaan, tidak boleh ada anak yang merasa sendiri; tidak boleh ada keterbatasan yang menghapus kesempatan; dan tidak boleh ada jarak yang membuat kepedulian kehilangan arah.
Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah pemerintahan bukan hanya tentang seberapa banyak yang dibangun, tetapi juga tentang seberapa dalam ia menyentuh kehidupan manusia.
Di Bhakti Luhur, sore itu, sebuah lagu telah selesai dinyanyikan. Namun pesannya masih tinggal: bahwa kasih tidak membutuhkan banyak suara untuk terdengar, dan harapan tidak selalu hadir dalam kemegahan.
Kadang, harapan tumbuh dalam suara seorang anak.
Kadang, ia hadir dalam tangan seorang suster.
Kadang, ia datang melalui kehadiran seorang pemimpin.
Dan sore itu, semuanya bertemu dalam satu nada: “Indah Rencana-Mu.”
Turut hadir mendampingi Gubernur NTT dalam kegiatan tersebut, antara lain Sekretaris DPRD Provinsi NTT, Kepala Biro Umum Setda Provinsi NTT, perwakilan Dinas Sosial Provinsi NTT, Plt. Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, serta perwakilan ASN Pemerintah Provinsi NTT.
