KUPANG, BBC – Perkembangan Artificial Intelligence (AI), media sosial, influencer dan buzzer telah membawa perubahan fundamental terhadap ekosistem informasi dan komunikasi publik.

Transformasi digital yang berlangsung sangat cepat tidak hanya mengubah pola konsumsi informasi masyarakat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik dalam menjaga akurasi, kredibilitas dan kepercayaan publik.

Di tengah disrupsi teknologi tersebut, Wali Kota Kupang, Christian Widodo, menegaskan bahwa profesi wartawan tetap memiliki posisi yang tidak tergantikan selama mampu mempertahankan integritas, profesionalisme, independensi, serta komitmen terhadap kebenaran.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka secara resmi Pelatihan Jurnalistik Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Nusa Tenggara Timur yang mengusung tema “Kekuatan Influencer, Buzzer dan AI: Masih Butuhkah Wartawan?”.

Menurut Christian Widodo, pelatihan tersebut merupakan inisiatif strategis dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia bidang jurnalistik sekaligus membangun ekosistem pers yang sehat, profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Ia mengaku sengaja memilih menghadiri kegiatan SMSI meskipun pada waktu yang sama memiliki agenda pemerintahan lainnya.

Baginya, keberadaan media massa merupakan mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel dan partisipatif.

“Hari ini sebenarnya saya memiliki dua agenda. Namun saya memilih hadir di kegiatan SMSI karena saya meyakini bahwa dunia pers memiliki posisi yang sangat penting bagi Pemerintah Kota Kupang. Apa pun caranya, saya harus hadir memberikan dukungan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Christian Widodo juga menyampaikan permohonan maaf karena Pemerintah Kota Kupang belum dapat memfasilitasi penggunaan aula yang sebelumnya direncanakan sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Hal itu disebabkan tempat tersebut telah lebih dahulu digunakan oleh pihak lain.

Dalam Sambutan , Wali Kota Kupang menekankan bahwa keberhasilan suatu pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan yang dirancang, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi publik dalam menyampaikan substansi kebijakan kepada masyarakat.

Menurutnya, kebijakan yang baik sekalipun berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila tidak dikomunikasikan secara tepat, sedangkan kebijakan yang sederhana dapat diterima luas apabila disampaikan melalui strategi komunikasi yang efektif.

“Program pemerintah bisa sangat baik, tetapi apabila penyampaian pesannya tidak tepat, masyarakat bisa salah memahami. Sebaliknya, program yang sederhana pun dapat diterima dengan baik apabila dikomunikasikan secara cerdas. Karena itu, how to deliver menjadi aspek yang sangat menentukan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi publik memiliki prinsip yang hampir sama dengan strategi pemasaran (marketing strategy). Nilai sebuah produk tidak hanya dibangun melalui kualitasnya, tetapi juga melalui narasi yang mampu meyakinkan publik. Demikian pula kebijakan publik memerlukan komunikasi yang tepat agar memperoleh legitimasi, partisipasi, serta dukungan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, media massa memegang peranan penting sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.

“Media bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi memastikan pesan-pesan pembangunan diterima masyarakat secara utuh, objektif dan benar,” katanya.

Christian Widodo juga menilai pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan SMSI merupakan investasi sosial dalam membangun masyarakat yang semakin kritis, cerdas dan memiliki akses terhadap informasi yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menegaskan bahwa setiap organisasi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Organisasi tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul. Organisasi harus menghadirkan solusi, memberikan kontribusi dan membawa manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Untuk memperkuat pesan tersebut, ia mengutip filosofi tentang kapal.

“Kapal memang tampak indah ketika bersandar di dermaga, tetapi kapal tidak diciptakan untuk tetap berada di dermaga. Kapal dibuat untuk mengarungi lautan dan menghadapi gelombang. Begitu pula SMSI. Organisasi ini hadir bukan untuk berdiam diri, melainkan menghadapi tantangan serta memberikan kontribusi nyata bagi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, bahkan Indonesia,” ujarnya.

Christian Widodo menilai tantangan terbesar dunia jurnalistik saat ini bukan semata-mata hadirnya AI, influencer, buzzer, maupun derasnya arus hoaks, disinformasi dan misinformasi. Tantangan yang paling mendasar justru terletak pada kemampuan media menjaga kepercayaan publik.

“Tantangan akan terus berubah. Hari ini AI, besok mungkin teknologi lain. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah kepercayaan masyarakat. Selama pers mampu menjaga kepercayaan publik, profesi wartawan akan selalu dibutuhkan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan media tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan jumlah pembaca (viewers) maupun tingkat keterlibatan (engagement), tetapi terutama pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disajikan.

“Bukan seberapa banyak orang membaca tulisan kita, tetapi seberapa banyak orang mempercayainya. Ada media yang memperoleh jutaan penonton karena menyebarkan sensasi atau hoaks. Mereka mungkin ditonton, tetapi belum tentu dipercaya. Karena itu, quality over quantity. Kredibilitas jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka,” tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen mempererat sinergi antara pemerintah dan media, Christian Widodo menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Kupang memperluas kerja sama dengan SMSI NTT melalui pelibatan lima jurnalis yang memiliki kompetensi, pengalaman, serta sertifikasi untuk mendukung publikasi berbagai program strategis pemerintah daerah.

“Saya berharap SMSI mengusulkan lima jurnalis terbaik yang memiliki kompetensi dan pengalaman agar dapat membantu menyampaikan informasi pembangunan secara akurat dan profesional kepada masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan organisasi pers, ia juga menyatakan kesediaannya memberikan bantuan secara pribadi berupa satu unit laptop bagi Sekretariat SMSI NTT guna menunjang aktivitas jurnalistik.

Mengakhiri sambutannya, Christian Widodo mengajak seluruh elemen masyarakat membangun Kota Kupang melalui semangat kolaborasi.

“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan media, tokoh agama, komunitas, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. Seperti kata bijak, Coming together is a beginning, staying together is progress, and working together is success. Datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap bersama adalah kemajuan, dan bekerja bersama adalah kesuksesan. Mari kita membangun Kota Kupang melalui semangat kolaborasi,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua SMSI NTT, Benny Jahang, mengatakan bahwa insan pers saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat derasnya arus informasi digital yang disertai penyebaran hoaks, disinformasi dan misinformasi melalui berbagai platform media sosial.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut wartawan untuk tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik yang profesional dengan menjadikan Kode Etik Jurnalistik sebagai pedoman utama.

“Kita tidak boleh terjebak pada orientasi mengejar kecepatan publikasi ataupun tingginya jumlah pembaca semata. Tanggung jawab utama seorang jurnalis adalah menjaga integritas profesi melalui proses verifikasi yang cermat serta menyajikan informasi yang akurat, berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” tegas Benny.

Ia menjelaskan bahwa pelatihan jurnalistik tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas wartawan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamental jurnalistik.

“Kami ingin pers di Nusa Tenggara Timur, khususnya Kota Kupang, menjadi mitra strategis pemerintah yang kredibel, independen, kritis, sekaligus konstruktif. Pers memiliki fungsi kontrol sosial dan berperan membangun budaya informasi yang sehat dalam mendukung percepatan pembangunan daerah melalui pemberitaan yang berkualitas,” ujarnya.

Benny juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan pelatihan selama dua hari tersebut sebagai ruang belajar, memperluas jejaring profesional, bertukar pengalaman, serta menyerap pengetahuan dari para narasumber.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan menyerap ilmu dari para narasumber yang sangat kompeten. Saya berharap seluruh materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam praktik jurnalistik sehari-hari sehingga mampu melahirkan karya-karya pers yang berkualitas, berintegritas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pelatihan jurnalistik SMSI NTT tersebut menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman, yakni praktisi pers Pius Rengka, wartawan Kompas Frans Paty Hering, serta praktisi pers sekaligus Ahli Dewan Pers Indonesia Dion DB. Putra.

Kehadiran para narasumber diharapkan mampu memperkaya wawasan peserta mengenai tantangan dan masa depan profesi jurnalistik di era kecerdasan buatan dan transformasi digital.