KUPANG,BBC – Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kabupaten Kupang 2025 tercatat sebagai perhelatan monumental yang menandai babak baru dalam sejarah perkembangan seni vokal rohani di wilayah ini.

Untuk pertama kalinya dalam lintasan pemerintahan Kabupaten Kupang, ajang bergengsi ini dihadirkan dengan skala besar, mengundang decak kagum publik, dan memancarkan kesan mendalam bagi peserta maupun penonton.

Sejak hari pembukaan, antusiasme masyarakat mengalir deras. Puncaknya terasa pada hari kedua kompetisi kategori B, ketika Gedung Kantor Bupati Kupang dipadati penonton hingga ke pelataran luar. Menjelang malam, semangat dukungan penonton semakin bergelora.

Mereka dengan penuh kesabaran menanti hasil penilaian dari dewan juri, sebuah cerminan bahwa Pesparawi telah menjadi ruang pertemuan antara seni, iman dan kebersamaan.

Pengumuman pemenang kategori B dilakukan segera setelah proses penjurian rampung. Prosesi penyerahan hadiah dipimpin langsung oleh Bupati Kupang Yosef Lede bersama Wakil Bupati Aurum Titu Eki, menegaskan apresiasi pemerintah daerah atas dedikasi para peserta.

Berikut adalah daftar 10 besar peraih prestasi kategori B:

Talenalain Manulai 1 – Rp20 juta + tambahan Rp10 juta dari Bupati (Total Rp30 juta)
Kasih Karunia Oesao – Rp15 juta + tambahan Rp5 juta dari Bupati (Total Rp20 juta)
Oemathonis Nait – Rp10 juta
Imanuel Oesao – Rp7,5 juta
Emaus Oebelo – Rp5 juta
Sonafhonis Oekabiti – Rp2,5 juta
Betesda Noekele – Rp1,5 juta
Bet’el Lili – Rp1,5 juta
Betesda Buraen – Rp1,5 juta
Elim Naibonat – Rp1,5 juta
Selain itu, peringkat 11 hingga 21 juga menerima penghargaan, mempertegas bahwa Pesparawi di Kabupaten Kupang menjunjung prinsip inklusifitas penghargaan.

Bupati Yosef Lede turut menganugerahkan hadiah khusus senilai Rp5 juta kepada Konduktor Terbaik, Alfa Waris Radja, dari Jemaat GMIT Getsemani Asam Tiga.

Salah satu keunikan ajang ini adalah pencairan hadiah secara langsung setelah pengumuman. Mekanisme ini bukan hanya mempercepat distribusi, tetapi juga memastikan sukacita kemenangan dapat dirayakan seketika.

Adapun kategori A, yang telah dipentaskan pada hari pertama, mencapai babak final pada 14 Agustus 2025. Pada kesempatan ini, penyerahan penghargaan juga akan dilakukan, menandai puncak kompetisi tahun ini.

Dalam sambutannya, Bupati Yosef Lede menyampaikan refleksi bijak yang menekankan esensi Pesparawi sebagai sarana pembelajaran rohani dan peningkatan kapasitas diri.

“Apapun hasil penilaian yang diterima, hendaknya menjadi motivasi untuk terus berkembang. Yang menang, puji Tuhan. Yang belum menang, tetap puji Tuhan sambil belajar dan berlatih menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pernyataan ini mencerminkan filosofi bahwa kemenangan sejati tidak hanya terukur pada trofi, melainkan pada pertumbuhan iman dan kualitas diri.

Tiga dewan juri bersertifikat nasional – Relin Yosi Huka, M.Sn, Max Jacob Bolla, SP, M.Si, dan Paskalis Romy Langgu, S.Sn., M.Ars – memberikan catatan evaluatif yang sarat nilai akademis:

Interpretasi Seni – Pelatih paduan suara perlu dibekali wawasan menyeluruh mengenai teori dan sejarah musik sebelum memandu kelompoknya.
Dikotomi Estetika dan Teknis – Keindahan yang dirasakan penonton belum tentu identik dengan kesempurnaan teknis; kesalahan nada dasar bisa saja terjadi.
Kedisiplinan Ritme – Beberapa penampilan terbilang baik, namun terdapat penambahan ketukan yang tidak sesuai dengan partitur asli.
Para juri mengajak seluruh peserta untuk menjadikan panggung Pesparawi sebagai batu loncatan, bukan titik akhir. “Teruslah berlatih, sebab ajang ini hanyalah awal dari perjalanan panjang berkarya,” pesannya

Diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kabupaten Kupang, ajang ini menjadi model kompetisi musik gerejawi yang mengedepankan transparansi dan pembinaan berkelanjutan.

Dengan total dana pembinaan Rp100 juta bagi 10 besar pemenang, pemerintah daerah menunjukkan komitmen nyata pada pengembangan seni rohani.

Lebih dari sekadar perlombaan, Pesparawi Kabupaten Kupang 2025 hadir sebagai landmark sejarah yang mengikat nada, iman dan identitas dalam satu harmoni.

Ia mempertegas bahwa seni vokal gerejawi bukan hanya bentuk ekspresi budaya, tetapi juga sarana pemersatu yang menguatkan spiritualitas masyarakat.