BB – Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, kembali diguncang konflik antar desa yang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan materiil.
Bentrokan yang terjadi pada Senin (21/10) pagi, melibatkan tiga desa yakni Desa Bugalima, Desa Ile Pati, dan Desa Kimakamak di Kecamatan Adonara Barat.
Dalam upaya meredam ketegangan dan mencegah berulangnya konflik, Penjabat (Pj) Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Andriko Noto Susanto, S.P, M.P, langsung turun tangan bersama jajaran terkait untuk memfasilitasi perdamaian.
Setelah mendengar kabar mengenai terjadinya bentrokan, Pj Gubernur NTT bersama Pj Bupati Flores Timur, Sulastri Rasyid, dan unsur Forkopimda, bertolak ke lokasi kejadian pada Selasa (22/10).
Mereka menggunakan Kapal Fery ASDP KMP Ranaka dari Kupang dan tiba di Pelabuhan Waijarang, Lembata, pada Rabu (23/10) pagi. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan speed boat menuju Pulau Adonara, tepatnya Desa Bugalima, untuk memantau situasi pasca konflik.
Saat bertemu dengan warga yang terdampak di Desa Bugalima, Pj. Gubernur Andriko menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut.
“Ketika mendengar terjadi konflik antar desa di Adonara, terlebih adanya korban jiwa dan banyak rumah yang terbakar, saya memutuskan untuk segera ke sini. Kami meminta maaf kepada keluarga korban atas kelengahan yang mungkin terjadi,” ujar Andriko.
Dalam kesempatan tersebut, Pj Gubernur juga menekankan pentingnya langkah rekonsiliasi dan mediasi antara desa yang bertikai. Ia meminta agar seluruh pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Forkopimda, segera bertindak untuk mencegah konflik serupa terulang.
“Prinsipnya, pemerintah provinsi akan selalu mendukung penyelesaian masalah ini. Kami juga akan memastikan seluruh bantuan bagi korban disalurkan dengan baik,” tambahnya.
Adapun bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Sosial Provinsi NTT meliputi kasur, tenda, selimut, makanan siap saji, serta kebutuhan dasar lainnya.
Total bantuan termasuk mie instan sebanyak 4.800 bungkus dan beras 5.000 kilogram yang akan terus didistribusikan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan warga yang terdampak.
Selain bantuan materiil, Pj Gubernur NTT juga menekankan pentingnya meredam emosi dan menghindari dendam di kalangan warga.
“Jangan menyimpan dendam. Kita harus menyejukkan hati yang panas agar konflik ini tidak terulang di kemudian hari,” tegasnya. Ia juga menegaskan bahwa tindakan anarkis hanya akan menimbulkan penyesalan dan menghambat kemajuan masyarakat.
Andriko mengajak seluruh warga untuk mengganti pola pikir konflik dengan perdamaian. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki desa-desa di Adonara, termasuk hasil bumi yang melimpah, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.
“Kita harus bekerja sama, bukan saling berkonflik. Pertikaian hanya akan membawa kemunduran bagi daerah kita,” pungkasnya.
Dalam upaya mencegah konflik berulang, Pj Gubernur NTT menegaskan bahwa pemerintah akan mengkaji akar masalah secara mendalam untuk menemukan solusi terbaik. Dengan mengedepankan dialog dan koordinasi yang baik antara semua pihak, ia berharap perdamaian bisa kembali tercipta di Pulau Adonara.
