KUPANG, BBC — Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Fatuleu Tengah yang digelar di Desa Nonbaun pada Jumat, 6 Maret 2026, menyisakan kisah yang tidak sekadar administratif.
Di balik forum perencanaan pembangunan itu, tersimpan cerita tentang keberanian, kesabaran, dan dedikasi seorang pemimpin yang memilih turun tangan menghadapi kerasnya medan demi memastikan negara tetap hadir di tengah rakyat.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, sementara Bupati Kupang Yosef Lede diketahui sedang menjalankan agenda pemerintahan di Jakarta.
Namun perjalanan menuju dan kembali dari lokasi Musrenbang tidaklah mudah. Beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Fatuleu Tengah. Jalan tanah yang menjadi akses utama menuju Desa Nonbaun berubah menjadi hamparan lumpur yang licin, dalam dan sulit dilalui kendaraan.
Mobil dinas yang membawa Wakil Bupati Kupang harus berjuang keras menembus medan tersebut. Ban kendaraan beberapa kali kehilangan traksi, tergelincir di tanah basah, dan nyaris terperosok di jalur yang dipenuhi bebatuan.
Situasi itu menjadi ujian bagi rombongan yang melakukan perjalanan pulang dari kegiatan Musrenbang. Driver kendaraan dinas sempat berupaya melewati jalur yang berlumpur, namun kondisi jalan yang semakin berat membuat kendaraan sulit dikendalikan.
Di titik itulah sebuah keputusan yang tidak biasa diambil.
Ketika sang driver akhirnya menepi karena khawatir kendaraan tidak mampu melewati medan yang semakin berat, Wakil Bupati Kupang memilih mengambil alih kemudi.
Tanpa ragu, Aurum Obe Titu Eki berpindah dari kursi penumpang ke kursi pengemudi. Ia memegang setir mobil dinasnya sendiri, perlahan mengarahkan kendaraan melewati jalan berlumpur yang licin dan menantang.
Keputusan itu bukan sekadar tindakan spontan, melainkan refleksi dari karakter kepemimpinan yang tidak segan turun langsung menghadapi kesulitan.
Mesin kendaraan meraung pelan, roda perlahan berputar di tengah lumpur yang dalam. Dengan kehati-hatian, Wakil Bupati Kupang mengendalikan kendaraan melewati tanjakan, batu-batu kecil dan jalur tanah yang licin.
Di tengah perjalanan yang penuh tantangan itu, alam seakan memberikan pelajaran tentang arti ketekunan.
Angin desa berhembus pelan, pepohonan berdiri diam menyaksikan perjuangan kecil di jalan berlumpur itu. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada kemewahan protokoler. Yang ada hanyalah seorang pemimpin daerah yang berusaha membawa kendaraannya melewati jalan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat desa.
Di tempat-tempat seperti Fatuleu Tengah, jalan bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah simbol harapan masyarakat terhadap pembangunan.
Dan hari itu, harapan itu seolah berjalan bersama roda kendaraan yang dikemudikan langsung oleh wakil bupati.
Peristiwa sederhana itu mengingatkan banyak orang bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditunjukkan dari balik meja atau ruang rapat. Kadang ia hadir di jalan berlumpur, di tengah kesulitan yang nyata, ketika seorang pemimpin memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Sebagaimana petuah lama yang sering diucapkan para orang tua di kampung-kampung Nusa Tenggara:
Pergi ke hutan mencari rotan,
Rotan dipintal menjadi tali.
Jika pemimpin berani berkorban,
Rakyat akan percaya sepenuh hati.
Kisah di jalan Fatuleu Tengah itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi masyarakat yang setiap hari hidup berdampingan dengan kondisi infrastruktur yang terbatas, momen tersebut menjadi pengingat bahwa pemimpin mereka tidak berjarak dengan realitas di lapangan.
Musrenbang sendiri merupakan forum penting dalam sistem perencanaan pembangunan daerah. Melalui forum ini, aspirasi masyarakat desa disampaikan dan dirumuskan menjadi prioritas pembangunan pemerintah daerah.
Namun di balik seluruh proses formal itu, pengalaman di jalan berlumpur Fatuleu Tengah seakan memberi makna baru: bahwa pembangunan bukan sekadar angka dalam dokumen perencanaan, tetapi juga perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan, keberanian dan empati.
Di ujung perjalanan, kendaraan itu akhirnya berhasil melewati medan sulit.
Tidak ada tepuk tangan meriah. Tidak ada perayaan.
Namun di tengah sunyi jalan desa, sebuah pesan sederhana tertinggal: bahwa seorang pemimpin yang berani memegang kemudi di jalan yang sulit, sering kali adalah pemimpin yang memahami perjalanan rakyatnya.
Dan mungkin, dari jalan-jalan berlumpur seperti itulah lahir harapan baru bagi masa depan daerah.
