Kupang, BBC — Di sebuah rumah kecil di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, sunyi telah lama menjadi sahabat setia seorang perempuan renta bernama Oma Terfina Lake.
Usianya yang sudah melewati delapan dekade tidak membuatnya terbebas dari rasa sepi. Hidup sebatang kara, ia menjalani hari dengan kesendirian yang kerap membuat air mata lebih sering hadir daripada senyum.
Rumahnya sederhana, bahkan terlalu sederhana. Atap dari daun yang rapuh, dinding bebak yang mulai lapuk dan lantai tanah dingin menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang yang penuh luka.
Setiap malam, hanya desir angin dan rintik hujan yang menjadi teman di tengah kesendirian yang tak berujung.
Namun, di balik kesunyian yang menyesakkan itu, Oma Terfina tak pernah berhenti berdoa. Dalam lirih suaranya yang nyaris habis dimakan usia, ia selalu berharap ada secercah kasih yang suatu hari mengetuk pintu rumahnya. Doa yang mungkin terdengar kecil, tetapi lahir dari hati yang hancur dan merindukan pelukan kehidupan.
Doa itu akhirnya dijawab. Polsek Fatuleu datang menyapanya, bukan sekadar dengan langkah tegas aparat berseragam, tetapi dengan hati yang lembut dan penuh kasih.
Kehadiran mereka menghapus sejenak rasa sepi yang telah lama mengikat Oma dalam derita. Bagi Oma, hari itu bukan sekadar kunjungan, melainkan sebuah pelukan Tuhan yang nyata.
Dengan suara bergetar, Oma Terfina menyampaikan syukurnya. “Kira apa yang diberikan kepada saya, hanya Tuhan yang bisa membalas semuanya,” ucapnya lirih, menahan tangis yang perlahan jatuh di pipinya yang renta.
Kata-kata itu sederhana, namun sarat makna, lahir dari hati yang remuk tetapi masih tahu cara berterima kasih.
Air mata Oma jatuh perlahan, membasahi tanah sederhana yang selama ini menemaninya dalam sepi. Tangisan itu adalah bahasa jiwa: campuran antara luka yang tak terucap dan bahagia yang akhirnya datang.
Sebuah tangisan yang membuat setiap orang yang melihatnya terdiam, lalu tersadar bahwa kasih sayang sekecil apa pun mampu menyalakan harapan yang padam.
Kisah Oma Terfina adalah potret nyata tentang kerentanan manusia di usia senja. Betapa hidup yang panjang bisa terasa sangat hampa tanpa kehadiran orang-orang terdekat.
Namun, sekaligus menjadi bukti bahwa setitik cinta mampu mengubah gelap menjadi terang, sepi menjadi nyanyian dan luka menjadi kekuatan untuk bertahan.
Di Desa Tolnaku yang sejuk, momen ini menjadi pelajaran bagi banyak orang. Bahwa dalam hiruk pikuk dunia yang semakin cepat, masih ada jiwa-jiwa rapuh yang menunggu uluran tangan.
Oma Terfina telah menunjukkan, melalui air matanya, bahwa kasih adalah bahasa universal yang mampu menyatukan siapa pun.
Seragam Polri yang biasanya identik dengan ketegasan, hari itu menjadi simbol kelembutan. Bukan tentang hukum, bukan tentang aturan, melainkan tentang cinta.
Dan cinta itu kini tertanam dalam hati seorang oma renta yang akan selalu mengingat bahwa di tengah kesepiannya, masih ada yang peduli.
Kini, Oma Terfina melanjutkan hari-harinya dengan doa yang tak pernah putus. Tangannya terangkat ke langit, suaranya lirih namun penuh kuasa.
Ia tahu, hanya Tuhan yang sanggup membalas setiap kebaikan. Dari rumah kecil yang sunyi itu, sebuah pesan abadi lahir: bahwa kasih yang tulus tak pernah lekang oleh waktu dan air mata syukur adalah puisi paling indah yang ditulis oleh kehidupan.
