Kupang, BBC — Karang Taruna Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, menyelenggarakan ibadat bersama di Gereja Siloam Oelbioin dengan tema reflektif “Ayo Bersatu, Topang Pembangunan Desa Camplong II.”
Kegiatan ini melampaui dimensi ritual keagamaan; ia menjelma sebagai ruang pembelajaran kolektif, di mana doa dipadukan dengan refleksi dan persaudaraan dijahit dalam bingkai kebersamaan demi masa depan desa yang lebih beradab.
Salah satu bagian paling menyentuh adalah fragmen (drama rohani) yang diperankan anak-anak katekisasi Gereja Siloam. Fragmen ini menghadirkan simbolisme mendalam: kemajuan suatu komunitas tidak lahir dari perbedaan yang dipertajam, melainkan dari keberanian untuk menempatkan toleransi di atas segala perbedaan.
Pesan moralnya tegas—bahwa perbedaan suku, agama dan ras bukanlah sekat, melainkan sumber energi kreatif yang, bila dikelola dengan bijaksana, mampu melahirkan gagasan besar untuk kepentingan bersama.
Sekertaris Karang Taruna Camplong II, Charles Bones, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya acara seremonial, melainkan bentuk investasi sosial yang menyiapkan generasi muda memahami makna persatuan.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kebersamaan generasi muda agar mereka memahami makna persatuan. Kami percaya pembangunan desa tidak semata ditopang oleh jalan dan jembatan, tetapi oleh solidaritas, toleransi dan kekompakan masyarakat sebagai modal sosial yang abadi,” ungkap Charles.
Ia menambahkan, generasi muda perlu diasah dengan nilai moral, sosial,L dan budaya sehingga mereka memiliki daya tahan menghadapi arus globalisasi sekaligus kebijaksanaan untuk tetap menjaga harmoni lokal.
Kegiatan ibadat bersama ini mengajarkan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun fisik, melainkan membangun jiwa kolektif masyarakat.
Sebagaimana pepatah bijak menyebutkan, “Sebuah desa tidak akan maju jika warganya berjalan sendiri-sendiri; kemajuan lahir dari langkah yang diayunkan bersama.”
Generasi muda, melalui Karang Taruna, dipanggil untuk menjadi penjaga persaudaraan sekaligus pionir perubahan. Dengan menghidupi nilai toleransi dan solidaritas sejak dini, mereka dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur dalam budi dan kokoh dalam kebersamaan.
Dalam perspektif ini, toleransi adalah pilar modal sosial (social capital) yang menentukan arah pembangunan. Modal sosial ini mencakup kepercayaan, jaringan kebersamaan, serta norma yang mengikat masyarakat dalam satu ikatan harmoni.
Desa Camplong II, melalui Karang Taruna, telah menghadirkan praktik nyata bagaimana modal sosial ditanamkan dalam kerangka pendidikan moral-keagamaan yang berbasis komunitas.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa modal sosial bukan konsep abstrak, melainkan realitas yang bisa dihidupkan. Dengan modal sosial yang kuat, desa memiliki kapasitas sosial (social capacity) untuk merencanakan pembangunan inklusif, melaksanakan program dengan partisipasi, serta mengevaluasi kemajuan dengan kesadaran kritis.
Ibadat bersama Karang Taruna Camplong II di Gereja Siloam Oelbioin adalah sebuah laboratorium kebersamaan yang merangkai doa, seni dan refleksi sosial menjadi satu kesatuan.
Ia mengajarkan bahwa toleransi bukan hanya pilihan, tetapi keharusan moral bagi sebuah desa yang mendambakan kemajuan.
Nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan kekompakan yang ditanamkan dalam kegiatan ini adalah investasi sosial jangka panjang.
Dengan fondasi tersebut, Desa Camplong II diyakini mampu menapaki jalan pembangunan yang inklusif, harmonis, partisipatif dan berkelanjutan. Sebab, sebagaimana kalimat bijak menyebutkan:
“Pembangunan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi bangunan berdiri, melainkan seberapa dalam hati masyarakat saling memahami.”
