Kupang,BBC – Dalam lanskap pembangunan pedesaan yang kerap dihadapkan pada dinamika pasar global dan ancaman ketidakstabilan pangan, Desa Fatusuki, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, menorehkan langkah strategis yang berpadu antara visi modern dan kearifan lokal.

Kepala Desa Fatusuki, Nemuel Nenobahan saat ditemui di Civic Center Oelamasi,(8/8/2025) menyampaikan bahwa pada Tahun Anggaran 2025, lebih dari 20 persen Dana Desa dialokasikan untuk memperkuat ketahanan pangan melalui program unggulan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Fatusuki Bieno.

Inisiatif ini berfokus pada pengembangan budidaya ayam KUB petelur—sebuah langkah yang memadukan fungsi gizi, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Telur, sebagai salah satu sumber protein hewani terjangkau, mengandung asam amino esensial, vitamin B12, serta mineral penting yang menopang kesehatan dan kecerdasan generasi muda.

“Telur adalah pangan yang sederhana tetapi luhur nilainya. Ia memberi makan jasmani, sekaligus menguatkan daya pikir dan daya hidup. Memelihara ayam petelur adalah investasi pada masa depan yang nyata,” tutur Nenobahan.

Dengan produksi telur yang terpusat di desa, jalur distribusi menjadi ringkas, biaya transportasi berkurang dan harga jual menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. Pendapatan yang dihasilkan tidak mengalir keluar, tetapi berputar di antara warga, menghidupkan pasar lokal dan mengokohkan kemandirian ekonomi desa.

Model ini juga melahirkan lapangan kerja baru—mulai dari pemeliharaan ternak, pengumpulan telur, hingga distribusi dan pemasaran. Keuntungan yang diperoleh BumDes akan direinvestasikan pada program pembangunan lain, menciptakan siklus ekonomi yang tahan uji dan berpihak pada rakyat.

Desa Fatusuki memiliki anugerah alam yang mendukung: iklim sejuk dan kering, yang secara alami mengurangi risiko penyakit unggas. Ketersediaan bahan pakan lokal turut menekan biaya operasional, sehingga budidaya ayam petelur dapat berlangsung dengan efisiensi tinggi.

Kebijakan ini mencerminkan prinsip pembangunan berkelanjutan—memanfaatkan kekuatan lingkungan tanpa menguras sumber daya, serta mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu.

Pembangunan kandang ayam telah mencapai tahap akhir, sementara pengadaan bibit ayam KUB petelur sedang berjalan melalui mekanisme yang transparan dan partisipatif. Dukungan tokoh adat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan seluruh lapisan masyarakat menjadi pondasi sosial yang kokoh bagi keberhasilan program ini.

“Visi kami sederhana tetapi tegas: setiap rumah tangga di Fatusuki dapat mengakses pangan bergizi dan memiliki sumber penghasilan yang stabil. Dari desa, untuk desa, dan demi martabat desa,” ujar Nenobahan.

Program budidaya ayam petelur di Desa Fatusuki adalah paradigma pembangunan yang menyinergikan kebutuhan dasar manusia, potensi ekologis dan mekanisme ekonomi berbasis komunitas.

Ia membuktikan bahwa kemandirian pangan tidak lahir dari kelimpahan modal semata, melainkan dari keberanian merancang masa depan dengan sumber daya yang ada.

Dalam pandangan inilah, keberhasilan ini akan menjadi model studi kasus tentang integrasi ekonomi mikro, ekologi adaptif dan gizi berkelanjutan.

Dalam kehidupan kita,ia adalah cermin dari kesadaran kolektif bahwa kesejahteraan sejati berakar pada rasa cukup dan saling menguatkan.

Seperti sebuah adagium bijak yang layak dipegang:

“Pembangunan yang sejati bukanlah sekadar memperbanyak harta, tetapi memastikan setiap insan memiliki pangan, penghidupan dan harga diri yang lestari.

Sejahtera bukanlah ketika kita memiliki banyak, tetapi ketika kita cukup dan saling memberi dari apa yang kita punya.”pungkas Nenobahan sambil tersenyum lepas