Kupang, BBC – Sebuah kisah pilu menyelimuti Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Pada Selasa (9/9/2025) sekitar pukul 10.00 WITA, seorang balita berusia sebelas bulan, Selvi Citra Wati Metboki, ditemukan tak lagi bernapas setelah terjatuh ke dalam ember berisi air di samping rumahnya.
Pagi itu, sang balita sempat berada dalam dekapan oma kandungnya, Batceba Lake. Sang ibu, Lediana Tefa, mengambil alih pengasuhan. Namun, hanya dalam hitungan menit, Diana meninggalkan rumah untuk sekadar meminta daun pepaya ke tetangga. Siapa sangka, kepergian sejenak itu berujung pada kehilangan yang tak terbayangkan.
Ketika kembali, Diana mendapati kenyataan pahit. Buah hati yang baru ia timang, sudah terperosok dalam ember berisi air dengan kepala terbenam. Suasana rumah seketika berubah menjadi jerit tangis yang memilukan.
“Kami kaget sekali. Saat ibunya kembali, cucu itu sudah berada di dalam ember. Nyawa kecil itu hilang begitu cepat,” ungkap Batceba dengan suara bergetar, mencoba menahan tangis di wajah tuanya.
Selvi segera dilarikan ke Rumah Sakit Naibonat. Para tenaga medis berupaya keras memberikan pertolongan, namun kehidupan mungil itu hanya bertahan sebentar. Setelah satu jam dirawat, Selvi dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa tragis ini terjadi di Usapililo, RT 07, Dusun II, Desa Tolnaku. Warga setempat terkejut dan berduka. Dalam kesunyian sore, rumah keluarga korban dipenuhi ratapan, menjadi saksi bahwa kehilangan anak di usia satu tahun adalah luka yang sulit dilupakan.
Kisah ini semakin pilu karena ayah korban masih ditahan di Polres Kupang akibat kasus pengeroyokan yang menjeratnya beberapa bulan lalu.
Sehingga, di tengah duka yang mendalam, keluarga harus menerima kenyataan bahwa sang ayah tidak berada di sisi mereka.
Dengan suara lemah, Diana Tefa menyampaikan kerinduannya agar sang suami diizinkan pulang sejenak.
“Saya pergi sebentar ambil daun pepaya, pulang anak saya sudah dalam ember. Saya terima ini sebagai musibah. Saya hanya mohon, biarlah bapak anak ini hadir saat pemakaman,” ucapnya lirih.
Duka itu bukan hanya milik keluarga. Bagi masyarakat sekitar, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengawasan balita harus dilakukan dengan penuh kewaspadaan. Dalam kajian akademis tentang keselamatan anak, faktor kelalaian sekecil apapun dapat berujung pada konsekuensi fatal.
Air, yang sejatinya sumber kehidupan, di kasus ini berubah menjadi penyebab kematian. Kontradiksi inilah yang memberi pelajaran penting bahwa setiap rumah tangga harus memastikan lingkungan aman bagi tumbuh kembang anak.
Pemerintah desa, tokoh adat, dan lembaga sosial masyarakat didorong untuk memperkuat program sosialisasi tentang keselamatan anak di dalam rumah. Sebab, tragedi yang menimpa Selvi bukan sekadar musibah personal, melainkan persoalan kolektif yang menuntut perhatian semua pihak.
Kini, di Desa Tolnaku, gema duka masih terdengar. Sebuah rumah kehilangan tawa riang, sebuah dusun kehilangan cahaya kecil, dan seorang ibu kehilangan masa depan yang baru bersemi. Kehilangan itu bukan hanya angka dalam catatan peristiwa, tetapi luka yang menggores sejarah keluarga.
Tangis menjadi doa yang tak terucapkan,
Air mata menjadi sungai yang tak bertepi,
Seorang anak pergi meninggalkan sunyi,
Membawa serta harapan yang belum sempat tumbuh.
Kisah Selvi Citra Wati Metboki menutup hari dengan luka mendalam. Namun dari duka itu, lahirlah pengingat bersama: bahwa menjaga anak adalah amanah suci yang tak boleh ditinggalkan, walau hanya sekejap.
