Kupang, BBC — Jumat pagi, 12 Desember 2025, Hotel Sahid T-More Kupang berada dalam ketenangan yang tertib. Namun di balik ruang pertemuan yang terstruktur rapi, berlangsung sebuah percakapan penting tentang masa depan—tentang pendidikan, pesisir dan anak-anak yang tumbuh dalam lanskap krisis iklim.

Dalam forum itulah, suara Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki hadir dengan artikulasi yang tenang, argumentatif dan reflektif.

Aurum secara resmi membuka Kompetisi Pembelajaran “Climate Ed-Hackathon” bertema “Belajar dari Pesisir: Inovasi Pendidikan Iklim dan Bencana untuk Anak-Anak Indonesia”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Generation Ready (GENRE) yang dijalankan Save the Children Indonesia bersama mitra lokal CIS Timor, sebuah program jangka menengah yang dirancang untuk mempertemukan kebijakan pendidikan dengan realitas kerentanan iklim di wilayah pesisir.

Dalam sambutannya, Aurum menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program GENRE yang telah berjalan sejak Agustus 2025 dan direncanakan berlangsung hingga Juli 2027 di Kabupaten Kupang.

Apresiasi tersebut disampaikan bukan sekadar sebagai formalitas birokrasi, melainkan sebagai pengakuan atas pendekatan program yang berpijak pada data kerentanan, konteks lokal dan kebutuhan riil sekolah-sekolah pesisir.

“Wilayah pesisir Kabupaten Kupang menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim dan risiko bencana, seperti banjir pasang laut,” ujar Aurum.

“Karena itu, sekolah-sekolah pesisir harus diperkuat agar tetap menjadi ruang aman, inklusif dan ramah anak.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan cara pandang Aurum yang menempatkan pendidikan bukan semata sebagai sektor administratif, melainkan sebagai instrumen ketahanan sosial.

Dalam kerangka itu, pendidikan di pesisir tidak lagi hanya dimaknai sebagai transmisi pengetahuan, tetapi sebagai proses membangun kapasitas adaptif—agar anak-anak mampu memahami dinamika alam, risiko bencana, serta posisi mereka sebagai subjek yang berdaya di tengah perubahan lingkungan.

Melalui Climate Ed-Hackathon, Aurum menekankan pentingnya inovasi pembelajaran yang responsif terhadap prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) serta berakar pada kearifan lokal.

Ia menilai, pendekatan pedagogis yang kontekstual dan partisipatif merupakan syarat mutlak agar materi pembelajaran kebencanaan tidak terlepas dari realitas sosial anak-anak pesisir.

“Saya percaya pendekatan partisipatif ini akan menghasilkan materi pembelajaran PRB-API yang bukan hanya menarik secara metodologis, tetapi juga relevan secara kontekstual dan efektif diterapkan di sekolah-sekolah pesisir rawan bencana,” ungkapnya.

Namun Aurum menegaskan bahwa legitimasi inovasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh otoritas akademik, melainkan juga oleh penerimaan dan pengalaman belajar anak-anak sebagai pengguna utama materi pembelajaran.

Menutup sambutannya, Aurum menyampaikan ucapan selamat berlomba kepada seluruh peserta. Sebuah penutup yang singkat, namun mencerminkan pemahaman bahwa inovasi pendidikan bukan sekadar hasil lomba, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual bersama.

Di bawah suara Aurum pagi itu, pendidikan tampak seperti perahu rapuh—tidak menjanjikan kepastian absolut, tidak kebal terhadap badai perubahan zaman.

Namun perahu itu tetap diarahkan dengan kesadaran, pengetahuan dan kehati-hatian. Ia berlayar membawa harapan kecil anak-anak pesisir, menembus laut duka, menuju masa depan yang mungkin tidak mudah, tetapi dirancang dengan pikiran jernih dan kepemimpinan yang berpijak pada nalar serta nurani.

Sejalan dengan itu, Project Coordinator Program GENRE Save the Children Indonesia, Ken Djami menjelaskan bahwa hackathon ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan sebagai ruang reflektif untuk menyelaraskan, memodifikasi, dan memperkuat materi pembelajaran perubahan iklim dan kebencanaan yang telah ada.

“Materi yang dikembangkan guru selama dua hari telah diuji-cobakan di sekolah dengan melibatkan pendapat anak-anak. Setelah melalui proses perbaikan, materi tersebut dipresentasikan dan dilombakan hari ini,” jelas Ken.

Ia menambahkan, materi terbaik akan dijadikan role model bagi sekolah-sekolah pesisir, sementara materi lainnya tetap dapat digunakan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.

Pendekatan ini, menurut Ken, sejalan dengan mandat pemerintah daerah untuk menghadirkan inovasi berkelanjutan di sektor pendidikan, tanpa mengabaikan keragaman konteks lokal.

Kompetisi ini melibatkan juri dari berbagai disiplin keilmuan, yakni Drs. Saryaskus Paulus Liu, M.Dev.Admin, Ph.D, Norman Riwu Kaho, James Martin Abineno, Dr. Marsel Robot dan William Fanggidae.