KUPANG, BBC — Di tengah bentang alam yang bersahaja, ketika angin menyapu lembut hamparan sawah dan matahari menggantung jujur di atas kepala para petani, tersimpan sebuah kisah kepemimpinan yang tidak lahir dari gemerlap kekuasaan, melainkan dari kedalaman akar kehidupan.
Kisah itu menjelma dalam diri Aser Tafetin—seorang anak asli Timor yang menapaki jalan sunyi pengabdian, dari lumpur sawah menuju ruang legislatif, tanpa pernah meninggalkan tanah yang membesarkannya.
Namun, ada satu hal yang membuat kisah ini menjadi lebih jujur, lebih utuh dan lebih bermakna: Aser tidak sekadar “kembali” ke sawah, ia bekerja di lahannya sendiri.
Ia bukan hadir sebagai simbol, bukan pula sebagai tamu di kehidupan petani. Ia adalah petani itu sendiri—yang tetap setia mengolah tanah miliknya, menanam, merawat dan memanen hasil dari keringatnya sendiri.
Aser Tafetin bukan sekadar nama dalam struktur politik lokal. Ia adalah representasi dari dialektika antara kekuasaan dan kerendahan hati.
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Kupang dari daerah pemilihan dua melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kehadirannya di panggung politik tidak menjadikannya terpisah dari realitas rakyat.
Jabatan tidak mencabutnya dari akar, tidak pula mengubah identitas dasarnya. Ia tetap berdiri sebagai petani, bahkan ketika ia juga berdiri sebagai wakil rakyat.
Dalam perspektif sosiologis, kepemimpinan yang tidak tercerabut dari basis produksinya—dalam hal ini, tanah dan pertanian—memiliki kedalaman legitimasi yang berbeda. Aser Tafetin menghadirkan model kepemimpinan yang tidak mengalami alienasi.
Ia tidak hanya memahami petani sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai bagian dari dirinya sendiri. Ia bekerja di ladangnya sendiri, menghadapi musim yang sama, risiko yang sama dan harapan yang sama seperti rakyat yang ia wakili.
Setiap butir padi yang ia panen bukan sekadar hasil kerja, melainkan refleksi dari integritas. Di lahannya sendiri, ia membuktikan bahwa jabatan tidak menghapus identitas dan kekuasaan tidak harus menjauhkan seseorang dari asal-usulnya. Justru di situlah letak kekuatan moralnya: ia hidup dalam realitas yang ia perjuangkan.
Di tengah narasi besar tentang elitisme politik, apa yang dilakukan Aser Tafetin menjadi semacam kritik diam. Ia menunjukkan bahwa menjadi pejabat tidak harus berarti meninggalkan kehidupan sederhana.
Bahwa menjadi anggota dewan tidak berarti berhenti menjadi petani. Dalam dirinya, dua dunia itu tidak bertentangan—melainkan saling menguatkan.
Secara filosofis, tindakan ini mengandung makna yang dalam. Ia mengafirmasi bahwa jabatan hanyalah peran sementara, sementara identitas sejati dibentuk oleh nilai dan pengalaman hidup.
Dalam kerangka etika kepemimpinan, ini adalah bentuk nyata dari servant leadership, di mana seorang pemimpin tidak berdiri di atas realitas, tetapi hidup di dalamnya.
Pemandangan Aser Tafetin yang bekerja di sawah miliknya sendiri menghadirkan pesan simbolik yang kuat: bahwa tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyat. Ia tidak sekadar “turun ke lapangan”, tetapi memang tidak pernah benar-benar meninggalkan lapangan itu.
Ia tetap menjadi bagian dari siklus kehidupan agraris—menanam dengan harapan, merawat dengan kesabaran dan memanen dengan rasa syukur.
Kisah ini menjadi sumber inspirasi yang jernih bagi generasi muda. Ia membuktikan bahwa keberhasilan tidak harus mengubah siapa diri kita.
Bahwa seseorang bisa naik tanpa harus melupakan asalnya. Bahwa akar bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijaga agar tetap menguatkan langkah.
Dalam lanskap pembangunan daerah, figur seperti Aser Tafetin menjadi penting sebagai pengingat bahwa kebijakan yang baik lahir dari pengalaman yang nyata.
Ketika seorang pemimpin masih bekerja di ladangnya sendiri, maka keputusan yang ia ambil tidak akan jauh dari kebutuhan riil masyarakat. Di situlah letak relevansi dan kepekaan sosial yang tidak bisa direkayasa.
Di balik bulir-bulir padi yang ia panen dari lahannya sendiri, tersimpan pelajaran yang melampaui ruang dan waktu: bahwa hidup bukan tentang meninggalkan tanah untuk menjadi tinggi, tetapi tentang bagaimana tetap setia pada tanah meski telah berdiri tinggi.
Aser Tafetin hari ini bukan hanya perpanjangan tangan rakyat, tetapi juga simbol dari kesetiaan pada asal-usul. Ia adalah bukti bahwa jabatan tidak harus memisahkan manusia dari jati dirinya. Bahwa seorang petani bisa menjadi anggota dewan dan seorang anggota dewan tetap bisa menjadi petani.
Pada akhirnya, kisah ini menghadirkan satu pesan yang sederhana namun mendalam: bahwa tanah tidak pernah meminta kita untuk memilih antara menjadi besar atau tetap membumi.
Ia hanya meminta satu hal—kesetiaan. Dan Aser Tafetin telah menjawabnya, dengan bekerja di lahannya sendiri, di tengah padi yang ia tanam, sebagai pemimpin yang tidak pernah meninggalkan akarnya.
