KUPANG, BBC – Sabtu, 29 Agustus 2026, menjadi hari yang menyimpan makna emosional bagi Kanisius Minggu, atau yang akrab disapa Kenzo.

Di tengah kesibukannya sebagai wartawan senior Kabupaten Kupang pada RadarTimor.com, Kenzo memilih kembali ke kampung halamannya di Flores.

Kepulangannya kali ini bukan sekadar perjalanan seorang perantau untuk melepas rindu, melainkan sebuah perjalanan kemanusiaan untuk menyapa sanak saudara dan masyarakat yang sedang menghadapi luka akibat gempa bumi.

Kenzo tidak datang dengan hanya membawa kamera, catatan, dan naluri jurnalistik. Ia datang membawa kecemasan seorang keluarga, kerinduan seorang anak kampung, serta kepedulian seorang manusia terhadap tanah leluhur yang sedang menghadapi masa sulit.

Bersama rombongan Bupati dan Wakil Bupati Kupang, Kenzo turut mendampingi kunjungan untuk melihat kondisi masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi.

Namun, bagi Kenzo, perjalanan tersebut memiliki dimensi personal yang jauh lebih dalam.

Sebab Flores bukan sekadar sebuah wilayah yang menjadi objek pemberitaan. Flores adalah tanah yang menyimpan jejak kehidupan, tempat keluarga berada, tempat kenangan masa kecil tumbuh, dan tempat sebagian dari dirinya selalu tertinggal.

Seorang perantau biasanya pulang ketika rindu memanggil.

Tetapi Kenzo pulang dalam keadaan yang berbeda.

Ia kembali ketika tanah kelahirannya sedang berduka.

Ketika kabar gempa membawa kecemasan kepada banyak keluarga, hati Kenzo seakan tidak memiliki pilihan selain kembali. Ada sanak saudara yang harus dilihat keadaannya. Ada keluarga yang perlu dipastikan keselamatannya. Ada tanah kelahiran yang tidak mungkin hanya disaksikan dari kejauhan melalui berita.

Karena itu, kepulangan Kenzo bukan semata-mata perjalanan fisik.
Ia adalah perjalanan batin.

Perjalanan seorang anak kampung yang kembali melihat rumah besarnya dalam keadaan terluka.

Di tengah perjalanan tersebut, Kenzo tetap menjalankan tanggung jawab profesionalnya sebagai seorang jurnalis. Namun, kali ini, ia berada dalam situasi yang membuat jarak antara profesi dan perasaan menjadi begitu tipis.

Sebagai wartawan, ia terbiasa menyaksikan penderitaan masyarakat dan menuliskannya menjadi berita.

Namun di Flores, penderitaan itu memiliki wajah yang berbeda.
Di sana ada keluarga.
Ada saudara.
Ada kenangan.
Ada tanah leluhur.

Ketika Berita Menjadi Luka yang Dekat
Bagi seorang jurnalis, bencana pada umumnya merupakan sebuah peristiwa yang harus diliput secara objektif, berdasarkan fakta dan kepentingan publik.

Tetapi ketika bencana itu menyentuh kampung halaman sendiri, objektivitas tidak serta-merta menghapus rasa kemanusiaan.

Kenzo memahami bahwa di balik setiap laporan tentang gempa terdapat kehidupan manusia yang sedang berusaha bangkit.
Ada orang tua yang memikirkan keselamatan anak-anaknya.

Ada warga yang masih menyimpan trauma setiap kali mendengar suara atau merasakan getaran.

Dan ada mereka yang hanya membutuhkan satu hal sederhana: seseorang datang dan berkata bahwa mereka tidak sendirian.
Kenzo memilih menjadi orang yang hadir itu.
Ia datang menyapa.
Ia datang melihat.
Ia datang mendengarkan.
Dan ia datang sebagai saudara.

Kepedulian Kenzo menjadi sisi lain dari profesinya sebagai jurnalis.
Jurnalisme pada hakikatnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mencari, mengolah dan menyampaikan informasi.

Jurnalisme juga memiliki dimensi kemanusiaan, terutama ketika seorang wartawan berhadapan langsung dengan masyarakat yang sedang mengalami musibah.

Dalam perjalanan ke Flores, Kenzo tidak sekadar menjalankan fungsi jurnalistik.
Ia menunjukkan bahwa seorang wartawan juga merupakan bagian dari masyarakat.

Bahwa di balik seorang pencari berita terdapat seorang manusia yang memiliki keluarga, tanah kelahiran, kenangan, dan rasa cinta terhadap kampung halamannya.
Kepulangannya menjadi simbol sederhana tentang arti kepedulian.

Terkadang, hadir di tengah orang yang sedang berduka adalah bentuk pertolongan yang paling manusiawi.

Duduk bersama mereka.
Menanyakan keadaan mereka.
Mendengarkan keluh kesah mereka.
Menggenggam tangan mereka.
Dan memberikan keyakinan bahwa kehidupan harus terus berjalan.

Ada Kesedihan yang Tidak Sanggup Ditulis
Mungkin sebagai wartawan, Kenzo terbiasa merangkai kata untuk menggambarkan berbagai peristiwa.

Ada perasaan yang terlalu dalam untuk dijadikan kalimat.
Ada air mata yang lebih jujur daripada sebuah laporan.

Dan ada tatapan keluarga yang mampu menjelaskan seluruh penderitaan tanpa perlu berbicara.

Di kampung halamannya, Kenzo bukan hanya seorang wartawan yang sedang menjalankan tugas.

Ia adalah Kenzo yang kembali menjadi seorang anak kampung.
Seorang saudara.
Seorang keluarga.
Seorang manusia yang ingin memastikan orang-orang yang dicintainya baik-baik saja.

Karena itu, kepulangannya memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar perjalanan.
Ia pulang karena tanah leluhurnya sedang terluka.

Ia pulang karena keluarga sedang membutuhkan kehadiran.
Ia pulang karena di tengah bencana, jarak tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti peduli.

Sabtu, 29 Agustus 2026, mungkin hanya akan tercatat sebagai sebuah tanggal.
Namun bagi Kenzo, hari itu dapat menjadi bagian dari sebuah kenangan panjang tentang bagaimana seorang perantau kembali ketika kampung halamannya sedang menghadapi bencana.

Ia hadir di tengah masyarakat.
Ia menyaksikan keadaan keluarganya.
Dan di antara suasana duka itu, Kenzo membawa sesuatu yang tidak dapat diukur dengan angka: kepedulian.

Sebab pada akhirnya, bencana memang dapat merobohkan bangunan.
Gempa dapat membuat tanah kehilangan ketenangannya.
Tetapi bencana tidak boleh meruntuhkan persaudaraan.

Selama masih ada orang yang mau pulang, masih ada tangan yang bersedia menggenggam, masih ada saudara yang datang menguatkan, maka harapan belum berakhir.

Flores mungkin sedang terluka.
Tetapi Flores tidak sendiri.
Dan kepulangan Kenzo menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun seorang anak kampung pergi, ketika tanah kelahirannya terluka, hatinya akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

Kenzo tidak pulang hanya untuk melihat.
Ia pulang untuk merasakan.
Ia pulang untuk menyapa.
Ia pulang untuk menguatkan.

Dan yang paling penting, ia pulang untuk menunjukkan bahwa di tengah luka sebuah kampung halaman, masih ada hati yang memilih untuk peduli.