BB — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini di Kabupaten Kupang menjadi lebih dari sekadar upacara kenegaraan.
di tengah gegap gempita perayaan, satu sosok mencuri perhatian dan menggugah kesadaran budaya: Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki.
Berbalut sarung tenun bermotif khas Timor Fatuleu, serta perhiasan tradisional “Inu” yang dikenal sebagai Muti dalam bahasa Dawan, Aurum tampil memukau sekaligus menyentuh hati.
Bukan hanya karena penampilannya yang elegan, tetapi karena makna mendalam yang ia bawa—pesan cinta pada budaya, identitas, dan jati diri sebagai anak Timor.
“di era modern seperti ini, kita mudah kehilangan arah. Kita bangga pada hal – hal asing, tetapi lupa bahwa kita punya akar yang dalam, budaya yang luhur, dan warisan yang harus dijaga. Hari ini, saya ingin kita semua mengingat kembali siapa kita,” ujar Aurum dengan suara penuh harap
Aurum bukan hanya dikenal sebagai Wakil Bupati termuda di Indonesia, tetapi juga sebagai simbol perempuan muda yang tidak tercerabut dari tanah leluhurnya.
Putri bungsu dari Ayub Titu Eki—mantan Bupati Kupang dua periode dan tokoh adat yang disegani—ini melanjutkan jejak ayahnya dalam merawat budaya Timor.
Dalam setiap langkah dan kata – katanya, tergambar jelas tekad untuk menjadikan adat dan budaya sebagai landasan pembangunan. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya soal angka dan teknologi, tetapi juga tentang membentuk karakter dan menghargai warisan nenek moyang.
“Fatuleu adalah tanah yang kaya, tidak hanya secara alam tetapi juga budaya. Suatu saat, saya bermimpi membawa budaya Pah Fatuleu ke panggung nasional, agar seluruh Indonesia tahu bahwa kita memiliki sesuatu yang istimewa,” ungkapnya dengan mata berkaca.
Lebih dari sekadar simbolik, penampilan Aurum adalah bentuk nyata pendidikan berbasis budaya. Ia mengajak generasi muda Kabupaten Kupang untuk kembali mencintai tanahnya—mengenakan tenunan lokal, berbicara dalam bahasa ibu, dan menjaga ritus – ritus adat yang mulai ditinggalkan.
“Jangan kita biarkan Pah ma Nifu—tanah dan air kita—hilang dari ingatan. Mari kita jaga, rawat, dan bawa bersama ke masa depan. Pendidikan tanpa budaya adalah pembangunan yang pincang,” tegasnya.
di tengah derasnya globalisasi dan budaya populer yang sering mendikte arah hidup generasi muda, kehadiran figur seperti Aurum menjadi oase yang menyejukkan.
Ia menunjukkan bahwa menjadi perempuan muda tidak menghalangi seseorang untuk berpikir besar, bersikap rendah hati, dan tetap teguh pada akar budaya.
Peringatan Hardiknas 2025 di Kabupaten Kupang bukan hanya mencatat satu perayaan tahunan, tetapi juga menjadi momen reflektif—bahwa pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan cinta pada tanah, budaya, dan jati diri bangsa.
