Di Balik KIP Kuliah, Uang Saku UPG’45 Jadi Penyangga Kehidupan Mahasiswa

Kupang, BBC – Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah tidak hanya membuka pintu akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga menjadi penyangga kehidupan sehari-hari mereka melalui uang saku yang diterima secara rutin.

Di Universitas Persatuan Guru 1945 NTT (UPG’45 NTT), kebijakan ini dirasakan langsung oleh ratusan mahasiswa yang kini dapat menjalani perkuliahan dengan lebih tenang.

Rektor UPG’45 NTT, Uly Jonathan Riwu Kaho, SP., M.Si., mengatakan bahwa uang saku yang menyertai KIP Kuliah memiliki peran penting bagi keberlangsungan studi mahasiswa.

Menurutnya, bantuan tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan dasar yang memungkinkan mahasiswa bertahan dan fokus belajar.

“Banyak mahasiswa kita datang dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Uang saku ini membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan, transportasi, hingga kebutuhan akademik,” ujar Uly kepada media di Kupang, Rabu (4/2).

Menopang Kehidupan Sehari-hari
UPG’45 NTT mencatat sekitar 400 mahasiswa menerima KIP Kuliah. Selain pembiayaan penuh uang kuliah, para penerima juga memperoleh uang saku bulanan yang digunakan untuk menopang kehidupan mereka selama menempuh pendidikan.

Bagi sebagian mahasiswa, bantuan tersebut menjadi satu-satunya sumber pendapatan selama kuliah. Dengan adanya uang saku, mahasiswa tidak lagi harus bekerja paruh waktu secara berlebihan yang berpotensi mengganggu konsentrasi belajar.

“Dulu ada mahasiswa yang harus bekerja hampir setiap hari hanya untuk bertahan hidup. Sekarang mereka bisa membagi waktu lebih baik antara belajar dan kegiatan kampus,” kata Uly.

Menurut pihak kampus, keberadaan uang saku turut berdampak pada ketahanan studi mahasiswa, termasuk menekan angka putus kuliah. Mahasiswa yang kebutuhan dasarnya terpenuhi dinilai lebih mampu mengikuti perkuliahan secara konsisten dan menyelesaikan studi tepat waktu.

UPG’45 NTT menilai, bantuan tersebut selaras dengan komitmen universitas untuk menjadi kampus yang inklusif dan berpihak pada kelompok masyarakat rentan. Pendidikan tinggi, kata Uly, tidak boleh menjadi ruang eksklusif yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu secara ekonomi.

“Kampus harus hadir sebagai ruang harapan. Kita tidak boleh membiarkan mahasiswa pintar berhenti kuliah hanya karena persoalan biaya hidup,” ujarnya.

Tanggung Jawab Mahasiswa Penerima
Meski demikian, Uly menegaskan bahwa bantuan KIP Kuliah dan uang saku harus diimbangi dengan tanggung jawab mahasiswa. Ia mengingatkan agar mahasiswa penerima memanfaatkan bantuan tersebut dengan sebaik-baiknya, menjaga prestasi akademik, serta menyelesaikan studi sesuai waktu yang ditentukan.

“KIP Kuliah adalah kepercayaan negara. Uang saku ini adalah amanah. Mahasiswa harus menjawabnya dengan disiplin, prestasi, dan integritas,” katanya.
Kampus juga secara berkala melakukan pendampingan dan pemantauan terhadap mahasiswa penerima KIP Kuliah guna memastikan bantuan dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Melalui dukungan KIP Kuliah dan uang saku, UPG’45 NTT berharap semakin banyak anak-anak Nusa Tenggara Timur dari keluarga kurang mampu dapat mengenyam pendidikan tinggi dan meningkatkan kualitas hidup mereka di masa depan.

Uly menegaskan, investasi pada pendidikan mahasiswa hari ini merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia di NTT.

“Ketika mahasiswa bisa bertahan kuliah dan lulus dengan baik, dampaknya bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi keluarga dan daerahnya,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang menggabungkan akses pendidikan dan perhatian pada kebutuhan dasar mahasiswa, UPG’45 NTT berupaya memastikan bahwa pendidikan tinggi benar-benar menjadi jalan perubahan sosial bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.