BB — Keputusan mengejutkan datang dari Amerika Serikat (AS). TikTok, aplikasi berbagi video populer asal China, resmi menghentikan layanannya di negara tersebut mulai hari ini, Sabtu (18/1/2025).
Langkah ini merupakan buntut dari undang-undang baru yang melarang operasional TikTok di AS.
Dalam sebuah pesan kepada para pengguna di AS, TikTok menyatakan, “Kami menyesalkan bahwa undang-undang AS yang melarang TikTok akan berlaku pada 19 Januari, memaksa kami untuk menghentikan sementara layanan kami.”
Penutupan layanan TikTok ini terjadi setelah Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa undang-undang bipartisan yang disahkan pada April 2024 sah secara konstitusional. Undang-undang tersebut memberikan waktu 270 hari bagi ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di China, untuk menjual aset TikTok ke perusahaan Amerika atau menghadapi larangan total.
Keputusan ini didasarkan pada kekhawatiran mengenai keamanan nasional. Gedung Putih menyatakan bahwa TikTok harus berada di bawah kepemilikan Amerika untuk memastikan data pengguna tidak disalahgunakan.
TikTok, melalui CEO-nya, Shou Zi Chew, menyampaikan komitmennya untuk memulihkan layanan di AS secepat mungkin. Dalam pesannya, TikTok juga mengapresiasi dukungan para pengguna.
“Kami sedang berupaya memulihkan layanan kami di AS sesegera mungkin, dan kami menghargai dukungan Anda. Nantikan informasi selanjutnya,” ungkap perusahaan tersebut.
Menariknya, larangan ini diberlakukan hanya sehari sebelum Presiden terpilih Donald Trump memulai masa jabatan keduanya. Trump sebelumnya dikenal sebagai sosok yang mendukung keberadaan TikTok di AS. Ia bahkan mendesak pengadilan tinggi untuk menunda keputusan ini demi negosiasi.
Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, ByteDance belum memenuhi tuntutan divestasi. Hal ini membuat pemerintah AS melanjutkan larangan tanpa kompromi.
Penutupan TikTok ini tidak hanya berdampak pada jutaan pengguna di AS, tetapi juga memengaruhi ekosistem kreator konten dan pengiklan yang selama ini bergantung pada platform tersebut.
Sejumlah pengguna mengungkapkan kekecewaan mereka di media sosial, sementara kreator konten mulai mencari alternatif platform untuk melanjutkan aktivitas mereka.
Dengan tekanan internasional dan dampak besar pada komunitas digital, banyak pihak berharap ada solusi yang memungkinkan TikTok kembali beroperasi di AS. Namun, tanpa divestasi yang jelas dari ByteDance, jalan menuju pemulihan layanan tampak penuh tantangan.
