Kupang Perkuat Perang Melawan TBC, Serena Francis Gandeng KOWANI dan KRIS Dorong Deteksi Dini hingga Skrining Kanker Payudara

KUPANG, BBC – Pemberantasan tuberkulosis (TBC) tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan medis dan ketersediaan obat. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, kepatuhan pasien menjalani pengobatan, serta dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit tersebut.

Di Kota Kupang, upaya itu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, organisasi perempuan, komunitas relawan, tenaga kesehatan, dan berbagai mitra pelayanan masyarakat. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada penemuan kasus TBC, tetapi juga memperluas perhatian terhadap kesehatan perempuan melalui skrining kanker payudara dan dukungan bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan.

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., menegaskan bahwa pemberantasan TBC membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga, komunitas, organisasi masyarakat, dan lingkungan tempat pasien menjalani kehidupan sehari-hari.

Penegasan itu disampaikan Serena saat menghadiri kegiatan Kolaborasi Kesehatan Masyarakat untuk Pemberantasan TBC di RSUD S.K. Lerik Kota Kupang, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nanny Hadi Tjahjanto, perwakilan organisasi kesehatan dan perempuan, akademisi, tenaga kesehatan, pimpinan perangkat daerah Kota Kupang, kepala UPTD Puskesmas se-Kota Kupang, serta sejumlah mitra pelayanan masyarakat.

Skrining Menjangkau 4.800 Orang, Pemkot Kejar Target 7.100

Salah satu tantangan dalam pemberantasan TBC adalah menemukan kasus sedini mungkin. Sebagian masyarakat masih enggan memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut. Padahal, keterlambatan pemeriksaan dapat membuat penanganan tertunda dan meningkatkan risiko penularan apabila pasien mengalami TBC aktif yang menular.

Pemerintah Kota Kupang terus mendorong perluasan skrining sebagai langkah untuk menemukan kasus dan menghubungkan masyarakat dengan layanan kesehatan.

Serena mengungkapkan, hingga saat kegiatan berlangsung, skrining TBC telah menjangkau sekitar 4.800 orang dan menemukan 230 kasus. Pemerintah Kota Kupang menargetkan jumlah orang yang menjalani skrining meningkat menjadi 7.100 orang hingga akhir November 2026.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya memperluas jangkauan pemeriksaan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan.

Skrining bukanlah akhir dari proses penanganan. Orang yang menunjukkan gejala atau memperoleh hasil pemeriksaan yang mengarah pada TBC perlu menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai prosedur medis. Apabila diagnosis ditegakkan, pasien harus mendapatkan pengobatan dan pendampingan sesuai standar pelayanan kesehatan.

Karena itu, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari banyaknya orang yang diperiksa, tetapi juga dari kesinambungan pelayanan setelah kasus ditemukan.

Serena mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Pasien yang telah didiagnosis juga perlu mengikuti pengobatan secara teratur hingga tuntas sesuai arahan tenaga kesehatan.

“TBC bisa dicegah, diobati, dan disembuhkan. Karena itu, kita perlu melakukan deteksi dini dan memastikan pengobatan dijalani secara teratur sampai tuntas,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan dan pemantauan. Pasien tidak boleh menghentikan atau mengubah pengobatan sendiri hanya karena merasa kondisinya membaik.

Melawan TBC Tanpa Stigma dan Pengucilan

Di balik upaya medis, terdapat persoalan sosial yang tidak kalah penting: stigma terhadap pasien TBC.

Rasa malu, ketakutan terhadap penilaian lingkungan, dan kekhawatiran dikucilkan dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri atau menyembunyikan kondisi kesehatannya. Situasi seperti ini berpotensi menghambat deteksi dini dan keberlanjutan pengobatan.

Serena menegaskan bahwa TBC tidak boleh menjadi alasan untuk menjauhkan seseorang dari lingkungan sosialnya. Pasien membutuhkan dukungan agar dapat menjalani pengobatan secara teratur tanpa dibebani perlakuan diskriminatif.

Keluarga memiliki peran penting untuk mengingatkan jadwal pengobatan, membantu pasien mengakses layanan kesehatan, serta memberikan dukungan emosional. Masyarakat juga perlu memahami cara penularan TBC dan langkah pencegahannya berdasarkan informasi yang benar dari tenaga kesehatan.

Dukungan sosial bukan berarti mengabaikan langkah pencegahan penularan. Sebaliknya, masyarakat perlu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi serta sirkulasi udara, menerapkan etika batuk, dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Dengan pemahaman yang tepat, perlindungan terhadap masyarakat dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat pasien.

Dalam konteks ini, pemberantasan TBC menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan dan pelayanan, tenaga kesehatan menangani aspek medis, sementara keluarga dan komunitas membantu menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan.

Kolaborasi KOWANI dan KRIS Perluas Dukungan Kesehatan

Serena menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Pemerintah Kota Kupang bersama Komunitas Relawan Indonesia Sejahtera (KRIS) dan KOWANI untuk memperluas dukungan terhadap kesehatan masyarakat, terutama perempuan.

Selain edukasi dan deteksi dini TBC, kegiatan itu mencakup pemberian suplemen tambahan bagi pasien serta skrining kanker payudara.

Kehadiran berbagai mitra diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi, membantu masyarakat mengenali kebutuhan pemeriksaan kesehatan, dan memperkuat dukungan bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan.

Namun, Serena menegaskan bahwa pemberian suplemen harus ditempatkan sebagai dukungan tambahan, bukan sebagai pengganti obat TBC maupun standar pengobatan yang ditetapkan tenaga kesehatan.

“Pemerintah sendiri sudah memiliki program penanganan TBC, sementara suplemen yang diberikan ini merupakan tambahan untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh,” jelas Serena.

Penegasan tersebut penting agar masyarakat tidak keliru memahami peran suplemen dalam penanganan penyakit. Pengobatan TBC tetap harus mengikuti regimen yang diresepkan tenaga kesehatan. Suplemen tidak menggantikan obat antituberkulosis dan tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda pemeriksaan atau menghentikan pengobatan.

Serena mengapresiasi keterlibatan seluruh mitra yang turut mendukung perluasan pelayanan dan edukasi kesehatan. Menurutnya, kolaborasi harus terus diperkuat agar kegiatan tidak berhenti pada satu momentum, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menjangkau masyarakat lebih luas.

Kesehatan Perempuan Tidak Berhenti pada Penanganan TBC

Ketua Umum KOWANI, Nanny Hadi Tjahjanto, menyampaikan apresiasi terhadap perhatian Pemerintah Kota Kupang terhadap kesehatan masyarakat, khususnya perempuan.

Menurut Nanny, kerja sama antara organisasi perempuan, pemerintah, dan mitra kesehatan dapat menjadi sarana untuk memperkuat upaya pencegahan penyakit sekaligus memperluas akses perempuan terhadap layanan kesehatan.

Ia berharap dukungan yang diberikan kepada pasien TBC dapat membantu mereka menjaga kondisi tubuh selama menjalani pengobatan. Meski demikian, Nanny kembali menekankan bahwa suplemen bukan pengganti obat dan pasien harus tetap menjalani pengobatan sesuai ketentuan tenaga kesehatan sampai tuntas.

“KOWANI merupakan organisasi penggerak. Kami tidak bisa bekerja sendiri, tetapi bisa membangun harmonisasi dan kolaborasi dengan pemerintah serta berbagai pihak untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Bagi KOWANI, pendekatan kolaboratif memungkinkan organisasi masyarakat berkontribusi sesuai kapasitasnya, mulai dari edukasi, pendampingan, hingga penguatan kesadaran publik.

Perhatian terhadap kesehatan perempuan dalam kegiatan tersebut juga diperluas melalui skrining kanker payudara. Pemeriksaan ini menjadi bagian penting dari edukasi agar perempuan lebih memahami kondisi tubuhnya dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis.

Skrining perlu disertai informasi mengenai tindak lanjut apabila ditemukan kelainan. Hasil pemeriksaan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut harus ditangani melalui layanan kesehatan yang sesuai agar perempuan memperoleh kepastian dan penanganan berdasarkan kondisi medisnya.

Dengan demikian, kegiatan kesehatan tidak hanya menjadi ruang pemeriksaan sesaat, tetapi juga kesempatan untuk membangun kebiasaan menjaga kesehatan secara berkala.

Pembalut Gratis dan Vaksinasi HPV Jadi Perhatian

Dalam kesempatan itu, Nanny turut menyoroti program pembagian pembalut gratis bagi perempuan dari keluarga kurang mampu dan vaksinasi HPV gratis untuk mencegah kanker serviks yang dijalankan Pemerintah Kota Kupang.

Ia menilai pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan perempuan memiliki kaitan erat dengan kenyamanan, kepercayaan diri, dan keberlanjutan pendidikan anak perempuan.

“Saya melihat Pemerintah Kota Kupang memiliki perhatian yang besar terhadap kesehatan perempuan. Program pembagian pembalut gratis ini luar biasa. Kebutuhan tersebut sangat penting, terutama bagi perempuan dari keluarga kurang mampu,” ungkapnya.

Bagi anak perempuan dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kebutuhan menstruasi dapat menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi kenyamanan mereka saat mengikuti kegiatan sekolah. Akses terhadap pembalut dan edukasi kesehatan menstruasi membantu mereka menjaga kebersihan serta menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Nanny menegaskan bahwa keterbatasan ekonomi tidak seharusnya membuat anak perempuan kehilangan kepercayaan diri, merasa malu, atau terhambat mengikuti proses belajar.

Sementara itu, vaksinasi HPV merupakan salah satu langkah pencegahan kanker serviks. Perlindungan melalui vaksin perlu didukung edukasi yang tepat, akses pelayanan kesehatan, dan pemeriksaan sesuai rekomendasi medis.

Kedua program tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kesehatan perempuan tidak hanya berkaitan dengan penanganan penyakit, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar dan pencegahan risiko kesehatan dalam jangka panjang.

Nanny membuka peluang kerja sama lanjutan agar praktik baik yang dijalankan Pemerintah Kota Kupang dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi daerah lain.

Dari Kegiatan Seremonial Menuju Gerakan Berkelanjutan

Kolaborasi antara Pemerintah Kota Kupang, KOWANI, KRIS, dan mitra kesehatan membawa pesan bahwa pemberantasan TBC serta penguatan kesehatan perempuan membutuhkan pendekatan yang saling melengkapi.

Di satu sisi, skrining perlu menjangkau lebih banyak orang agar kasus dapat ditemukan sedini mungkin. Di sisi lain, pasien yang telah terdiagnosis harus memperoleh pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial yang tidak memberikan stigma.

Pada saat bersamaan, perempuan perlu mendapatkan akses terhadap edukasi, skrining kanker payudara, pencegahan kanker serviks, serta kebutuhan kesehatan dasar yang mendukung kualitas hidup mereka.

Nanny berharap kolaborasi ini dapat memperkuat gerakan pemberantasan TBC di Kota Kupang. Ia juga mengajak masyarakat membangun budaya hidup bersih dan tidak mengucilkan orang yang sedang sakit.

“Kita berharap melalui kolaborasi ini, tidak ada lagi masyarakat yang menderita TBC di Kota Kupang. Kita harus membangun budaya hidup bersih dan tidak mengucilkan orang yang sakit, sehingga mereka merasa nyaman untuk berobat,” katanya.

Ia menambahkan, kesehatan perempuan perlu menjadi perhatian bersama karena berhubungan dengan kesejahteraan keluarga dan masa depan generasi berikutnya.

“Perempuan sehat, perempuan berdaya, dan perempuan akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Karena itu, kesehatan perempuan harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.

Pada akhirnya, keberhasilan kolaborasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh terlaksananya kegiatan atau jumlah bantuan yang disalurkan. Ukurannya juga terletak pada perubahan perilaku masyarakat, meningkatnya akses terhadap pemeriksaan, keberlanjutan pengobatan pasien, serta tersedianya layanan yang mampu menjawab kebutuhan perempuan.

Target skrining 7.100 orang hingga akhir November 2026 menjadi salah satu agenda yang perlu dikawal. Lebih dari itu, keberlanjutan kerja sama lintas sektor akan menentukan apakah upaya tersebut benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Bagi Kota Kupang, melawan TBC berarti membangun sistem kesehatan yang tidak hanya hadir ketika seseorang sakit, tetapi juga aktif mencegah penyakit, mendampingi proses pemulihan, dan memastikan tidak seorang pun harus menghadapi penyakit dalam ketakutan atau pengucilan.