KUPANG, BBC – Pembangunan infrastruktur pada hakikatnya tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan anggaran maupun kemampuan teknis pelaksana, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kuatnya modal sosial masyarakat dalam membangun kolaborasi.

Ketika institusi negara dan masyarakat mampu bersinergi dalam semangat kebersamaan, pembangunan tidak sekadar menghasilkan sarana fisik, melainkan juga memperkuat kohesi sosial, meningkatkan partisipasi publik dan memperkokoh fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam pembangunan Jembatan Kali Litsusu di Desa Kiuoni, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Pekerjaan pembangunan jembatan yang menjadi akses vital bagi mobilitas masyarakat tersebut dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melalui pola kerja kolaboratif yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dari seluruh dusun di Desa Kiuoni.

Dalam pelaksanaannya, seluruh kebutuhan material pembangunan disediakan oleh jajaran TNI AD, sedangkan kontribusi tenaga kerja sepenuhnya berasal dari masyarakat melalui mekanisme gotong royong. Model kolaborasi ini mencerminkan implementasi pembangunan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat.

Kepala Desa Kiuoni, Dedi Suan, mengatakan bahwa pembangunan Jembatan Kali Litsusu merupakan wujud nyata sinergi antara negara dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar warga terhadap infrastruktur transportasi yang aman, layak dan berdaya guna.

“Seluruh material pembangunan disiapkan oleh TNI, sedangkan masyarakat memberikan dukungan tenaga melalui kegiatan gotong royong. Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan akan berjalan lebih efektif apabila setiap pihak mengambil peran sesuai dengan fungsi, kewenangan dan kapasitasnya masing-masing. Inilah bentuk kerja sama yang patut dipertahankan dalam setiap agenda pembangunan desa,” ujar Dedi Suan kepada tim media, Selasa (14/7/2026).

Menurut Dedi, keterlibatan masyarakat bukan didorong oleh kewajiban formal, melainkan lahir dari kesadaran kolektif bahwa pembangunan merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat dari empat dusun di Desa Kiuoni terlibat secara sukarela dalam proses pembangunan. Kehadiran mereka mencerminkan masih kuatnya budaya gotong royong yang menjadi identitas masyarakat pedesaan.

“Seluruh masyarakat dari empat dusun hadir memberikan tenaga secara sukarela. Mereka bekerja dengan semangat persatuan karena memahami bahwa jembatan ini merupakan fasilitas publik yang manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh warga. Tidak ada kepentingan pribadi yang dikedepankan. Semua bekerja dengan satu tujuan, yaitu membangun desa demi kepentingan bersama,” katanya.

Lebih lanjut, Dedi menilai bahwa gotong royong merupakan modal sosial yang memiliki nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan.

Menurutnya, keberadaan modal sosial tersebut menjadi faktor penting yang mampu mempercepat pelaksanaan program pembangunan sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap hasil pembangunan.

“Gotong royong bukan sekadar warisan budaya yang perlu dipertahankan, melainkan merupakan instrumen sosial yang mampu memperkuat efektivitas pembangunan. Ketika masyarakat merasa memiliki sebuah program, mereka akan berpartisipasi secara sukarela, menjaga hasil pembangunan, serta memastikan manfaatnya dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi berikutnya,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI AD yang telah menunjukkan kepedulian nyata terhadap masyarakat melalui keterlibatan langsung dalam pembangunan Jembatan Kali Litsusu.

Menurutnya, kehadiran aparat TNI di tengah masyarakat tidak hanya mempercepat penyelesaian pekerjaan, tetapi juga memperkuat hubungan kemitraan antara institusi negara dan masyarakat dalam membangun desa.

“Kami menyampaikan penghargaan dan rasa hormat kepada TNI AD yang telah memberikan dukungan material sekaligus bekerja bersama masyarakat di lapangan. Kehadiran mereka memberikan motivasi yang sangat besar kepada masyarakat sehingga pekerjaan berlangsung dalam suasana kebersamaan, disiplin dan saling mendukung. Kolaborasi seperti ini menjadi contoh praktik pembangunan yang mengedepankan semangat pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.

Dedi menegaskan bahwa keberadaan Jembatan Kali Litsusu memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Desa Kiuoni. Selain meningkatkan konektivitas antarwilayah, infrastruktur tersebut akan memperlancar mobilitas penduduk, mempercepat distribusi hasil pertanian, mempermudah akses menuju fasilitas pendidikan dan pelayanan kesehatan, serta memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

“Setiap pembangunan infrastruktur sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia. Infrastruktur yang memadai akan meningkatkan efisiensi mobilitas masyarakat, menurunkan biaya transportasi, memperluas akses terhadap pelayanan publik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Oleh sebab itu, pembangunan jembatan ini memiliki manfaat yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai sarana penghubung,” ujarnya.

Ia berharap semangat sinergi yang terbangun antara TNI dan masyarakat dapat terus dipelihara sebagai model pembangunan kolaboratif dalam berbagai program pembangunan desa pada masa mendatang.

“Kami meyakini bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi antarlembaga dan tingginya partisipasi masyarakat. Ketika pemerintah, TNI dan masyarakat bekerja dalam satu semangat yang sama, pembangunan akan berlangsung lebih efektif, efisien, akuntabel, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat,” tutup Dedi.

Pembangunan Jembatan Kali Litsusu menjadi representasi bahwa semangat gotong royong tetap menjadi fondasi utama pembangunan pedesaan di Kabupaten Kupang. Sinergi antara TNI dan masyarakat tidak hanya menghasilkan infrastruktur yang memperkuat konektivitas wilayah, tetapi juga membangun kepercayaan publik, memperkokoh solidaritas sosial, serta meneguhkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi, partisipasi dan tanggung jawab bersama.