BB — Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lontar terus berupaya mengatasi kendala pelayanan air bersih di wilayah Kabupaten dan Kota Kupang, meskipun menghadapi berbagai hambatan teknis dan geografis.

Hal ini terungkap dalam survei lapangan yang dipimpin langsung oleh Direktur Umum PDAM, Joni Sulaiman, pada Kamis, 27 Juni 2025.

Dalam kegiatan tersebut, tim teknis PDAM melakukan peninjauan terhadap sejumlah titik potensi sumber air yang tersebar di wilayah Kabupaten Kupang. Salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah Mata Air Bonen, yang terletak di Kecamatan Taebenu.

Dari hasil pengukuran awal, debit air di lokasi ini tercatat sebesar 8 liter per detik. Namun, angka tersebut diyakini dapat meningkat hingga 16 liter per detik apabila perbaikan pada sistem pompa dan jaringan listrik berhasil diselesaikan.

Kendati demikian, posisi sumber air yang berada sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah menghadirkan tantangan tersendiri. Medan yang curam dan sulit dijangkau menyulitkan proses pengerjaan, baik dari sisi teknis maupun logistik.

Padahal, pasokan air dari Bonen sangat dibutuhkan untuk memperkuat suplai di wilayah Kabupaen Kupang dan sebagian kawasan Kota Kupang yang kerap mengalami gangguan distribusi.

Sementara itu, di Kampung Alor, Kelurahan Oesao, debit air terpantau mencapai 5 liter per detik. Namun, jaringan pipa di kawasan ini mengalami kerusakan parah akibat terjangan badai Seroja beberapa waktu lalu.

Hingga kini, sekitar 150 hingga 200 warga calon pelanggan masih menunggu kepastian atas akses layanan air bersih.

“Kami masih terus berusaha memperbaiki jaringan yang rusak akibat bencana badai beberapa tahun silam. Upaya ini memerlukan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit,” jelas Joni Sulaiman dalam keterangannya kepada awak media pada Jumat, 28 Juni 2025.

Survei juga menyasar wilayah Kotabes, Kecamatan Amarasi, yang memiliki dua titik sumber air dengan potensi debit sekitar 4 liter per detik. Sumber ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi ratusan warga yang hingga kini belum menikmati layanan PDAM secara memadai.

Namun, pemanfaatan sumber ini masih bergantung pada dukungan anggaran serta penyediaan infrastruktur teknis yang memadai.

Joni menegaskan bahwa kendala yang dihadapi PDAM tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga struktural. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih luas, baik dalam bentuk kebijakan, penyediaan peralatan, material, maupun tenaga ahli.

“Kami menyadari keterbatasan yang ada, tetapi kebutuhan masyarakat terhadap air bersih kian mendesak. Kami optimistis, dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif pelanggan, pelayanan air bersih dapat ditingkatkan secara signifikan,” ujar Joni.

Selain fokus pada perluasan jaringan, PDAM Tirta Lontar juga berkomitmen untuk menjaga kepercayaan masyarakat melalui pelayanan yang profesional dan bertanggung jawab.

Meskipun demikian, sorotan publik kini mengarah pada lambannya realisasi proyek penyediaan air bersih, terutama di wilayah yang memiliki potensi wisata, seperti kawasan sekitar Mata Air Bonen.

PDAM Tirta Lontar berharap, dengan kolaborasi multipihak dan penguatan kebijakan publik, hak dasar masyarakat atas air bersih dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.