Kupang, BBC — Tanah, dalam tradisi peradaban manusia, tidak pernah sekadar dipahami sebagai bentangan fisik yang diam. Ia adalah ruang kehidupan, sumber keberlanjutan, sekaligus saksi sunyi dari perjalanan sejarah sebuah bangsa.
Di atas hamparan lahan di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, makna filosofis tersebut menemukan bentuk nyatanya ketika butir-butir padi pertama ditanam sebagai simbol dimulainya babak baru pembangunan pertanian yang berorientasi pada kedaulatan pangan berkelanjutan.
Penanaman padi perdana pada percetakan sawah baru seluas sekitar 300 hektar itu dilakukan oleh Bupati Kupang Yosef Lede bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, serta Ketua DPRD Provinsi NTT Emi Nomleni.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi NTT yang dirancang sebagai strategi terintegrasi dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional.
Gerakan tersebut merepresentasikan pendekatan pembangunan pertanian yang bersifat sistemik, yakni menempatkan sektor pangan sebagai pilar fundamental dalam struktur ketahanan nasional.
Penanaman padi bukan sekadar aktivitas produksi, melainkan tindakan peradaban—sebuah upaya menjaga kesinambungan antara manusia, tanah dan masa depan.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, tanah dipandang sebagai aset ekologis dan sosial yang harus dirawat melalui kebijakan yang adaptif, kolaboratif dan berbasis potensi lokal.
Dalam sambutannya, Yosef Lede menegaskan bahwa kepercayaan Pemerintah Provinsi NTT menjadikan Kabupaten Kupang sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan strategis tersebut merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab moral.
Ia menekankan bahwa kepercayaan tersebut harus dijawab dengan peningkatan kualitas kerja yang lebih progresif, kolaboratif dan berorientasi pada keberlanjutan.
“Arah kebijakan pembangunan pertanian Kabupaten Kupang diselaraskan dengan kebijakan nasional serta program pembangunan Pemerintah Provinsi NTT. Kita berada dalam satu visi besar, yakni mewujudkan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional sebagai fondasi kedaulatan bangsa,” ujarnya.
Secara empiris, Kabupaten Kupang memiliki potensi sumber daya lahan pertanian yang luas. Namun, berbagai kendala struktural, seperti keterbatasan infrastruktur irigasi, teknologi produksi, serta akses pendukung lainnya, selama ini menjadi tantangan dalam optimalisasi pemanfaatan lahan.
Meski demikian, melalui konsistensi kebijakan dan partisipasi aktif masyarakat, daerah ini berhasil mencatat peningkatan produksi gabah kering secara signifikan, dari sekitar 21.000 ton pada tahun 2024 menjadi 87.000 ton pada tahun 2025.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas pertanian tidak semata ditentukan oleh luas lahan, melainkan oleh kualitas tata kelola, keberpihakan kebijakan, serta kesadaran kolektif masyarakat dalam merawat tanah sebagai sumber kehidupan.
Dalam filsafat agraria, tanah yang dirawat dengan bijaksana akan selalu memberi kembali dalam bentuk kesejahteraan sosial dan stabilitas ekonomi.
Pemerintah Kabupaten Kupang menargetkan pada tahun 2026 produksi gabah kering dapat melampaui 100.000 ton. Target ini tidak hanya dimaknai sebagai capaian swasembada daerah, tetapi juga sebagai kontribusi strategis dalam mendukung kebutuhan pangan regional.
“Kita masih memiliki keterbatasan yang perlu dijawab melalui kolaborasi. Dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat sangat kami harapkan agar potensi besar yang dimiliki dapat dikelola secara optimal demi kesejahteraan masyarakat,” tambah Yosef Lede.
Di tengah tantangan perubahan iklim global, dinamika ekonomi, serta meningkatnya kebutuhan pangan, penanaman padi di Manusak mengandung pesan kebijaksanaan yang mendalam: bahwa kemajuan suatu bangsa tidak pernah lahir dari tindakan instan, melainkan dari kesediaan untuk menanam dan merawat secara konsisten.
Tanah mengajarkan kesabaran, karena ia tidak pernah menolak benih yang dititipkan kepadanya. Padi mengajarkan kerendahan hati, karena semakin berisi, semakin ia menunduk. Dan dari keduanya, manusia belajar bahwa pembangunan sejati adalah proses menumbuhkan kehidupan—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang belum lahir.
Dengan demikian, setiap butir padi yang tumbuh di Manusak tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga menjadi metafora tentang martabat, kemandirian dan harapan bangsa yang terus ditanam, dirawat dan diwariskan sepanjang zaman.
