KUPANG, BBC — Upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui sektor pertanian terus diperluas melalui pendekatan kolaboratif yang menyentuh langsung kebutuhan petani di lapangan.
Di tengah tantangan pertanian modern yang semakin kompleks, mulai dari keterbatasan modal usaha, rendahnya akses teknologi, hingga ancaman perubahan iklim, sinergi antara lembaga keuangan rakyat dan perusahaan agribisnis dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan.
Semangat pemberdayaan tersebut tampak dalam kegiatan sosialisasi yang digelar Kopdit Citra Hidup Tribuana bersama BISI International pada Selasa, 12 Mei 2026, di wilayah Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian desa yang lebih produktif, modern dan berkelanjutan melalui penguatan akses permodalan dan edukasi teknologi pertanian.
Sosialisasi tersebut dipimpin langsung oleh penanggung jawab Kopdit CHT, Ibu Anche Lyli, bersama tim dari BISI International yang bergerak di bidang pembibitan, obat-obatan pertanian dan penyediaan pestisida.
Turut hadir dalam kegiatan itu Marketing Executive BISI, Gusti Halek bersama tim yang memberikan pemaparan terkait pentingnya penggunaan benih unggul dan produk pertanian berkualitas guna meningkatkan produktivitas usaha tani masyarakat.
Kegiatan pertama dilaksanakan di Kantor Klasis Kupang Timur, Babau, bersama KMK Kupang Timur yang dipimpin Herry Naimasus. Dalam pertemuan tersebut, para peserta yang terdiri dari masyarakat dan petani setempat tampak antusias mengikuti pemaparan mengenai penguatan ekonomi berbasis koperasi dan pengembangan pertanian modern.
Selanjutnya, kegiatan kedua dilaksanakan di kediaman Gabriel Bria selaku Ketua Kelompok Tani Ita Esa di Desa Pukdale. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana dialogis dan partisipatif, di mana masyarakat secara aktif menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petani, terutama terkait keterbatasan modal usaha dan kebutuhan sarana produksi pertanian yang memadai.
Dalam pemaparannya, Gusti Halek menegaskan bahwa sektor pertanian saat ini tidak dapat lagi dijalankan dengan pola tradisional semata, melainkan membutuhkan transformasi menuju pertanian modern yang berbasis kualitas, efisiensi dan keberlanjutan.
Menurutnya, penggunaan benih unggul yang sesuai karakteristik lahan, perlindungan tanaman yang tepat, serta pemanfaatan produk pertanian yang berkualitas menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil panen petani.
Ia juga memperkenalkan sejumlah produk unggulan BISI yang dirancang untuk membantu petani meningkatkan produktivitas pertanian secara optimal.
Produk-produk tersebut dinilai mampu memberikan perlindungan tanaman yang lebih efektif, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama tertentu, serta membantu petani memperoleh kualitas hasil panen yang lebih baik dan bernilai ekonomis tinggi.
Penjelasan tersebut mendapat perhatian serius dari para peserta sosialisasi. Banyak petani mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya penggunaan teknologi pertanian modern sebagai bagian dari strategi meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menjaga keberlanjutan usaha tani di tengah perubahan kondisi lingkungan dan ekonomi global.
Selain aspek teknis pertanian, peserta juga diberikan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan keuangan berbasis koperasi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.
Melalui sistem koperasi, masyarakat dinilai memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh akses pembiayaan yang sehat, terukur dan berkelanjutan tanpa harus bergantung pada sistem pinjaman yang memberatkan.
Kehadiran Kopdit CHT dalam kegiatan tersebut dipandang sangat relevan dalam menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi petani di pedesaan, yakni keterbatasan akses modal usaha.
Tidak sedikit petani yang memiliki lahan produktif dan kemampuan bertani yang baik, namun mengalami hambatan untuk berkembang akibat minimnya dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha.
Karena itu, model kolaborasi antara koperasi dan perusahaan agribisnis seperti yang dilakukan Kopdit CHT dan BISI dinilai menjadi bentuk pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang saling melengkapi.
Di satu sisi koperasi memperkuat akses ekonomi masyarakat, sementara di sisi lain perusahaan agribisnis menghadirkan dukungan teknologi dan inovasi pertanian yang mampu meningkatkan kapasitas produksi petani secara nyata.
Secara akademis, pendekatan pembangunan berbasis kolaborasi seperti ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat yang menempatkan petani sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek penerima bantuan.
Pendekatan tersebut diyakini mampu memperkuat ketahanan ekonomi lokal sekaligus membangun kemandirian sosial masyarakat desa dalam jangka panjang.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Sejumlah peserta bahkan langsung menyatakan keinginan untuk bergabung menjadi anggota koperasi sekaligus menggunakan produk-produk pertanian yang diperkenalkan oleh BISI.
Respons tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sinergi antara kekuatan ekonomi kolektif dan inovasi pertanian modern.
Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan ketidakstabilan ekonomi yang mempengaruhi sektor pertanian, penguatan kapasitas petani menjadi agenda pembangunan yang sangat penting. Karena itu, kehadiran lembaga yang mampu mendampingi petani secara nyata dipandang sebagai kebutuhan mendesak dalam menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat desa.
Kegiatan sosialisasi ini juga memperlihatkan bahwa pembangunan pertanian sejatinya tidak dapat dijalankan secara parsial. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari koperasi, sektor swasta, kelompok tani, tokoh masyarakat, hingga komunitas lokal agar proses pembangunan benar-benar menghadirkan manfaat yang berkeadilan bagi masyarakat kecil.
Melalui semangat kolaborasi dan pemberdayaan tersebut, masyarakat Kupang Timur kini mulai melihat harapan baru bahwa sektor pertanian desa dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang modern, produktif dan bermartabat.
Sebab pada akhirnya, kekuatan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya untuk tumbuh mandiri melalui kerja sama, inovasi dan keberpihakan terhadap ekonomi rakyat kecil.
