KUPANG, BBC – Di bentangan savana Pulau Timor yang membelah cakrawala dengan warna keemasan setiap musim kemarau, ternak babi telah lama menjadi bagian dari denyut peradaban masyarakat.

Kehadirannya tidak sekadar dipahami sebagai komoditas peternakan yang bernilai ekonomi, melainkan sebagai simbol kehidupan yang melekat dalam struktur sosial, budaya dan spiritual masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Dari ruang-ruang adat hingga halaman rumah sederhana di pelosok desa, ternak babi menjadi bagian dari narasi panjang tentang penghormatan kepada leluhur, pengikat hubungan kekerabatan, simbol mahar perkawinan, hingga penyangga ekonomi keluarga.

Namun, di balik kedudukannya yang demikian mulia dalam kehidupan masyarakat Timor, peternakan babi rakyat kini berada di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, tradisi telah membentuk sistem pemeliharaan yang diwariskan turun-temurun selama puluhan bahkan ratusan tahun. Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi peternakan, dan tuntutan ekonomi modern menuntut adanya perubahan paradigma agar sektor ini mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Mahasiswa Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana), Marno Neno Bunda, dalam kajian ilmiahnya berjudul “Revitalisasi Peternakan Babi di Pulau Timor, NTT melalui Transformasi Manajemen dan Adopsi Teknologi”, menegaskan bahwa masa depan peternakan babi di Pulau Timor tidak dapat lagi hanya bergantung pada pola-pola tradisional yang selama ini dijalankan.

Menurutnya, kebangkitan sektor peternakan babi harus dibangun melalui integrasi harmonis antara kearifan lokal masyarakat dengan inovasi teknologi peternakan modern yang berbasis ilmu pengetahuan.

Pandangan tersebut bukan tanpa alasan. Nusa Tenggara Timur hingga kini masih tercatat sebagai provinsi dengan populasi ternak babi terbesar di Indonesia. Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menunjukkan bahwa pada tahun 2021 populasi babi di NTT mencapai sekitar 2,59 juta ekor. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan betapa strategisnya komoditas ini dalam menopang kehidupan masyarakat.

Meski memiliki populasi yang besar, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingginya jumlah ternak belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat produktivitas yang dihasilkan. Sebagian besar peternakan rakyat di Pulau Timor masih bertumpu pada pemeliharaan babi lokal atau babi kampung yang dikelola secara sederhana dengan pendekatan tradisional.

Marno menjelaskan bahwa babi lokal memiliki keunggulan berupa kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan setempat dan toleransi terhadap keterbatasan pakan. Akan tetapi, dari perspektif genetika dan produktivitas, performa ternak tersebut masih relatif rendah dibandingkan ras unggul maupun hasil persilangan modern.

“Pertumbuhan yang lambat, efisiensi pakan yang rendah, dan bobot panen yang belum optimal merupakan tantangan utama yang harus dijawab melalui pendekatan ilmiah, terukur, dan berkelanjutan,” tulisnya.

Dalam konteks tersebut, ketergantungan terhadap pola pemeliharaan tradisional perlu dievaluasi secara kritis. Ketika kebutuhan ekonomi rumah tangga semakin meningkat dan pasar menuntut produk peternakan yang lebih kompetitif, maka transformasi sistem peternakan tidak lagi dapat dipandang sebagai pilihan alternatif, melainkan sebagai sebuah keniscayaan pembangunan.

Salah satu persoalan mendasar yang masih membelenggu peternakan rakyat di Pulau Timor adalah dominannya sistem pemeliharaan ekstensif. Dalam praktiknya, ternak sering dilepas bebas tanpa kandang yang memadai dan menggantungkan kebutuhan pakan pada limbah rumah tangga maupun sumber daya alam yang tersedia di sekitar lingkungan.

Sekilas, sistem ini terlihat sederhana dan murah. Namun dalam perspektif ekonomi peternakan modern, pola tersebut menyimpan berbagai kerentanan yang berdampak langsung pada rendahnya produktivitas ternak.

Keterbatasan kualitas dan kuantitas pakan menyebabkan kebutuhan nutrisi ternak tidak terpenuhi secara optimal. Akibatnya, pertumbuhan berjalan lambat, konversi pakan menjadi tidak efisien dan waktu panen menjadi lebih panjang dibandingkan standar peternakan modern.

Lebih dari itu, lemahnya penerapan biosekuriti membuka peluang besar bagi muncul dan menyebarnya berbagai penyakit menular. Wabah African Swine Fever (ASF) yang beberapa tahun terakhir melanda berbagai wilayah di NTT menjadi pelajaran berharga tentang betapa rentannya sistem peternakan tradisional terhadap ancaman penyakit yang mematikan.

Dalam perspektif pembangunan peternakan berkelanjutan, kerugian akibat sistem tradisional tidak hanya dihitung dari kematian ternak semata. Kerugian terbesar justru terletak pada hilangnya kesempatan ekonomi, rendahnya produktivitas, serta terhambatnya proses akumulasi pendapatan peternak.

“Biaya yang tampak murah dalam sistem tradisional sesungguhnya menyimpan biaya tersembunyi yang sangat besar. Ketika ternak tumbuh lambat atau mati akibat penyakit, peternak kehilangan peluang ekonomi yang seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” jelas Marno.

Selain persoalan pemeliharaan, kajian tersebut juga menyoroti lemahnya manajemen reproduksi ternak babi rakyat yang selama ini berlangsung secara alami tanpa perencanaan yang jelas.

Praktik perkawinan yang tidak terkontrol berpotensi menyebabkan terjadinya inbreeding atau perkawinan sekerabat. Dalam ilmu genetika ternak, kondisi ini merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan kualitas genetik populasi secara bertahap.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada menurunnya performa pertumbuhan, tetapi juga melemahnya daya tahan tubuh ternak, meningkatnya risiko cacat genetik, serta menurunnya efisiensi reproduksi.

Ironisnya, persoalan tersebut terjadi ketika NTT sebenarnya telah memiliki akses terhadap berbagai inovasi reproduksi modern. Program kemitraan PRISMA yang melibatkan Pemerintah Indonesia dan Australia, misalnya, telah membuka ruang pengembangan teknologi Inseminasi Buatan (IB) melalui berbagai pelatihan yang dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang.

Teknologi ini memungkinkan peternak memperoleh akses terhadap pejantan unggul tanpa harus memiliki ternak pejantan sendiri. Dengan demikian, perbaikan mutu genetik dapat dilakukan secara lebih cepat, sistematis dan efisien.

Namun hingga kini, pemanfaatan teknologi tersebut masih relatif terbatas dan belum menjangkau sebagian besar wilayah pedesaan di Pulau Timor.

“Tanpa pencatatan reproduksi yang baik, tanpa pengaturan kalender kawin yang terencana, dan tanpa program perbaikan genetik yang berkelanjutan, maka peternakan babi rakyat akan terus terjebak dalam lingkaran produktivitas rendah,” tegas Marno.

Transformasi Sebagai Jalan Kebangkitan
Bagi Marno, jalan menuju kebangkitan peternakan babi di Pulau Timor hanya dapat ditempuh melalui transformasi manajemen yang menyeluruh dan terencana.

Transformasi tersebut harus dimulai dari perubahan pola pemeliharaan, yakni beralih dari sistem ekstensif menuju sistem semi-intensif maupun intensif yang lebih terukur.

Dalam sistem ini, ternak dipelihara dalam kandang yang layak, memperoleh pakan berkualitas, mendapatkan pengawasan kesehatan secara rutin, serta berada dalam lingkungan yang memenuhi standar sanitasi dan biosekuriti.

Model peternakan semacam ini terbukti lebih mampu menghadapi ancaman penyakit sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Selain itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan sektor swasta perlu membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam memperluas akses teknologi kepada peternak.

Universitas Nusa Cendana dan Universitas Timor, menurut Marno, memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat menjadi motor diseminasi teknologi pakan fermentasi berbasis bahan baku lokal.

Pemanfaatan teknologi tersebut tidak hanya mampu meningkatkan kualitas nutrisi ternak, tetapi juga menekan biaya produksi yang selama ini menjadi beban peternak kecil.

Pada saat yang sama, program Inseminasi Buatan harus diperluas hingga menjangkau desa-desa terpencil agar akses terhadap bibit unggul tidak hanya dinikmati oleh peternak skala besar.

“Perbaikan genetik tidak boleh berhenti pada proyek percontohan. Teknologi harus hadir di tengah masyarakat desa sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh peternak rakyat,” ujarnya.

Menjaga Warisan, Menjemput Masa Depan
Bagi masyarakat Timor, ternak babi bukan hanya soal ekonomi. Ia adalah bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, revitalisasi peternakan babi tidak boleh dipahami sebagai upaya meninggalkan tradisi, melainkan sebagai proses memuliakan tradisi melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Transformasi yang diperlukan bukanlah menggantikan kearifan lokal, tetapi memperkuatnya dengan fondasi teknologi modern yang mampu meningkatkan produktivitas, ketahanan terhadap penyakit, serta kesejahteraan peternak.

Pada akhirnya, kebangkitan peternakan babi di Pulau Timor bukan semata tentang bertambahnya populasi ternak atau meningkatnya produksi daging.

Lebih jauh dari itu, kebangkitan tersebut merupakan ikhtiar kolektif untuk mengangkat harkat peternak kecil, memperkuat ketahanan pangan daerah, menjaga keberlanjutan budaya lokal dan membangun masa depan pedesaan yang lebih bermartabat.

Di tengah arus perubahan zaman, Pulau Timor sesungguhnya sedang dihadapkan pada sebuah pilihan besar: mempertahankan pola lama yang semakin rapuh atau melangkah menuju transformasi yang menjanjikan keberlanjutan. Dan sebagaimana sejarah selalu mengajarkan, masa depan akan lebih berpihak kepada mereka yang berani berubah tanpa kehilangan jati dirinya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.