KUPANG, BBC – Tidak semua pembangunan dimulai dari beton yang menjulang atau jalan yang membentang panjang. Sebagian pembangunan terbesar justru lahir dari hal-hal yang sering dianggap sederhana: setetes air bersih, sebuah wastafel yang berfungsi, toilet yang layak dan lingkungan sekolah yang sehat. Dari sanalah martabat manusia dijaga, kesehatan generasi dipelihara dan masa depan bangsa dipersiapkan.

Kesadaran itulah yang kembali ditegaskan Pemerintah Kabupaten Kupang melalui komitmennya memperkuat program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) di lingkungan sekolah sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul, sehat, inklusif dan berdaya tahan menghadapi perubahan zaman.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, saat membuka Lokakarya Hasil Penilaian Air, Sanitasi, Kebersihan di Sekolah dan Perencanaan Peningkatan Kualitas Fasilitas Air, Sanitasi, Kebersihan yang Inklusif dan Tangguh Iklim di Sekolah Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Kupang, Oelamasi, Rabu (10/6/2026).

Di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks, lokakarya tersebut hadir bukan sekadar sebagai agenda administratif atau forum evaluasi program.

Kegiatan itu menjadi ruang perenungan bersama untuk membaca wajah pendidikan dari sisi yang sering luput dari perhatian publik, yakni akses air bersih, sanitasi yang layak, serta lingkungan belajar yang sehat dan manusiawi.

Karena sesungguhnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan tenaga pengajar. Pendidikan juga ditentukan oleh lingkungan tempat seorang anak belajar, tumbuh dan membangun mimpi-mimpinya.

Dalam sambutannya, Aurum Obe Titu Eki mengajak seluruh peserta untuk terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan-Nya sehingga seluruh pihak dapat hadir dalam keadaan sehat dan penuh semangat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kupang, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh mitra pembangunan yang telah memberikan dukungan nyata bagi terwujudnya program ini di Kabupaten Kupang,” ujar Aurum.

Ucapan tersebut mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar penghormatan seremonial. Sebab pembangunan yang berkelanjutan tidak pernah lahir dari kerja yang berjalan sendiri-sendiri.

Kemajuan selalu bertumbuh dari kolaborasi, dari kesediaan berbagai pihak untuk duduk bersama, menyatukan gagasan dan membangun masa depan secara gotong royong.

Bagi Aurum, fasilitas air bersih, sanitasi dan kebersihan di sekolah tidak boleh dipandang hanya sebagai infrastruktur fisik. Air bersih bukan sekadar kebutuhan teknis. Sanitasi bukan hanya bangunan penunjang. Keduanya merupakan instrumen peradaban yang menentukan kualitas hidup manusia.

Air yang mengalir di sekolah bukan hanya menghilangkan dahaga. Ia menjaga kesehatan anak-anak, melindungi martabat mereka dan memastikan hak-hak dasar mereka terpenuhi secara layak.

“Fasilitas air bersih, sanitasi dan kebersihan di lingkungan sekolah bukan hanya sekadar persoalan pembangunan fisik atau penyediaan infrastruktur semata, tetapi merupakan fondasi utama dalam menjamin kesehatan, martabat dan hak dasar setiap peserta didik,” tegasnya.

Dalam perspektif pembangunan manusia, pernyataan tersebut memiliki makna yang sangat strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas sanitasi dan akses air bersih memiliki korelasi langsung terhadap kesehatan, tingkat kehadiran siswa, produktivitas belajar, hingga kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Karena itu, Aurum menegaskan bahwa sekolah harus dipandang sebagai ruang tumbuh yang mempersiapkan masa depan bangsa.

Di ruang-ruang kelas itulah karakter dibentuk. Di halaman sekolah itulah nilai-nilai kehidupan ditanamkan. Dan di lingkungan belajar yang sehat itulah cita-cita anak-anak mulai menemukan bentuknya.

Namun peran besar tersebut tidak akan berjalan optimal apabila sekolah tidak didukung sarana dan prasarana WASH yang memadai, aman, inklusif, serta mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan lingkungan yang terus berubah.

“Terlebih lagi, di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata dengan kekeringan berkepanjangan, curah hujan ekstrem dan ancaman bencana yang terus meningkat, ketahanan fasilitas WASH sekolah menjadi semakin mendesak untuk segera kita tangani bersama,” tegas Aurum.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman yang berada di cakrawala masa depan. Ia telah hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Musim yang semakin sulit diprediksi, kekeringan yang berkepanjangan, curah hujan ekstrem, serta berbagai ancaman bencana menjadi kenyataan yang harus dihadapi dengan kesiapan dan ketangguhan.

Dalam konteks pendidikan, dampak perubahan iklim tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan fisik sekolah, tetapi juga terhadap kualitas pembelajaran serta kesehatan peserta didik, terutama kelompok rentan seperti anak perempuan dan anak penyandang disabilitas.

Karena itu, menurut Aurum, pembangunan fasilitas WASH yang inklusif dan tangguh iklim bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus menjadi prioritas bersama.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Kupang juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan penilaian yang dilakukan secara komprehensif dan kolaboratif terhadap 53 sekolah di Kabupaten Kupang, yang mencakup asesmen tahap pertama pada 40 sekolah dan asesmen tahap kedua pada 36 sekolah.

Menurutnya, keterlibatan organisasi perangkat daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga mitra pembangunan telah menghasilkan data yang kredibel dan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang tepat sasaran.

Namun data tersebut juga menghadirkan cermin yang jujur mengenai kondisi yang masih dihadapi sekolah-sekolah di Kabupaten Kupang.

“Masih terdapat keterbatasan akses air bersih sepanjang tahun, rasio toilet yang belum memenuhi standar, minimnya sarana cuci tangan pakai sabun, serta rendahnya tingkat inklusivitas fasilitas bagi anak perempuan dan anak penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Bagi Aurum, fakta tersebut bukan alasan untuk pesimis. Sebaliknya, fakta itu harus menjadi energi moral untuk bergerak lebih cepat dan bekerja lebih sungguh-sungguh.
Karena di balik angka-angka statistik tersebut terdapat anak-anak yang sedang belajar, bermimpi dan menyiapkan masa depan mereka.

Oleh sebab itu, Program Water, Sanitation and Hygiene in Schools (WinS) dinilai sangat relevan dan strategis bagi Kabupaten Kupang. Program ini tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas, tetapi tentang pembangunan kualitas hidup manusia.

“Kami akan memastikan bahwa kebijakan, anggaran dan regulasi daerah berpihak pada upaya peningkatan layanan WASH yang berketahanan iklim dan inklusif di sekolah-sekolah kita,” tegas Aurum.

Komitmen tersebut menegaskan bahwa pembangunan pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan menentukan wajah Kabupaten Kupang puluhan tahun ke depan.

Lebih lanjut, Aurum menekankan bahwa keberhasilan Program WinS hanya dapat dicapai melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia pendidikan, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.

Karena itu, forum lokakarya harus menjadi ruang untuk memperkuat kesepahaman, menyatukan komitmen dan merancang langkah-langkah kolaboratif yang realistis serta berdampak nyata bagi masyarakat.

Ia juga mengajak kepala sekolah dan tenaga pendidik untuk terus membuka diri terhadap perubahan dan inovasi.

“Program WinS bukan sekadar instrumen penilaian dan rehabilitasi fisik fasilitas sekolah, melainkan juga panduan untuk mewujudkan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan. Mari manfaatkan program ini untuk membangun lingkungan sekolah yang bersih, aman, inklusif dan tahan terhadap krisis iklim,” ajaknya.

Melalui lokakarya tersebut, Pemerintah Kabupaten Kupang berharap dapat memperdalam pemahaman mengenai konsep WASH yang cerdas iklim dan inklusif, menetapkan 20 sekolah prioritas sebagai fokus intervensi, memperkuat komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, serta membangun sinergi yang lebih kokoh demi terwujudnya sekolah yang sehat dan berketahanan iklim.

Pada bagian akhir sambutannya, Aurum Obe Titu Eki menyampaikan pesan yang menggugah tentang makna pembangunan yang sesungguhnya.

Menurutnya, pembangunan fasilitas sekolah yang layak dan bermartabat merupakan cerminan kualitas peradaban sebuah bangsa. Sebab tidak ada masa depan yang besar yang dibangun di atas lingkungan belajar yang tidak sehat.

“Tidak ada generasi penerus bangsa yang tumbuh cerdas dan berkarakter tanpa lingkungan belajar yang bersih, sehat, inklusif dan tangguh iklim,” tegasnya.

Pesan itu menjadi penutup yang sarat makna. Bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya soal membangun gedung, melainkan membangun manusia. Dan membangun manusia dimulai dari memastikan setiap anak dapat belajar dengan sehat, aman dan bermartabat.

Dengan penuh harapan dan memohon bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa, Wakil Bupati Kupang secara resmi membuka lokakarya tersebut.

Sebab dari ruang-ruang kelas yang bersih lahir pikiran-pikiran yang jernih. Dari lingkungan sekolah yang sehat tumbuh generasi yang kuat. Dan dari setetes air yang mengalir di sekolah-sekolah Kabupaten Kupang, sesungguhnya sedang mengalir pula harapan besar tentang masa depan daerah yang lebih maju, lebih manusiawi dan lebih beradab.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.