KUPANG, BBC – Di sebuah desa yang dikelilingi bentang alam Fatuleu yang kokoh dan teduh, pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung megah atau proyek bernilai besar.

Terkadang, pembangunan hadir dalam wujud yang sederhana namun sangat berarti: sekarung beras yang tiba di rumah warga, pemeriksaan kesehatan yang mencegah penyakit sejak dini, pelayanan publik yang mendekat kepada masyarakat dan seorang pemimpin desa yang memilih berjalan bersama rakyatnya.

Itulah yang tampak di Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Kamis (18/6/2026). Pada hari itu, Pemerintah Desa Kuimasi melaksanakan empat kegiatan strategis sekaligus yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, mulai dari penyaluran bantuan pangan, pemeriksaan kesehatan gratis, pelayanan Samsat, hingga dukungan terhadap pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Di balik pelaksanaan berbagai program tersebut, berdiri sosok Kepala Desa Kuimasi, Maksen Lifu, yang memandang pembangunan bukan sekadar urusan administrasi pemerintahan, melainkan ikhtiar menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh masyarakat hingga ke tingkat keluarga.

Screenshot 2026 06 18 15 42 37 605 com.miui .gallery edit

Saat ditemui tim media di ruang kerjanya, Maksen Lifu menyampaikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan merupakan bentuk nyata dukungan Pemerintah Desa Kuimasi terhadap program pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kabupaten Kupang.

“Terima kasih untuk kesempatan pada hari ini kami Pemerintah Desa Kuimasi melaksanakan empat kegiatan sekaligus,” ujar Maksen Lifu.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan sebuah filosofi kepemimpinan yang berakar pada semangat pelayanan. Sebab bagi seorang pemimpin desa, keberhasilan bukan diukur dari banyaknya program yang diumumkan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Menjaga Dapur Warga Tetap Menyala
Menurut Maksen Lifu, kegiatan pertama yang dilaksanakan adalah penyaluran bantuan pangan untuk periode Februari dan Maret kepada masyarakat penerima manfaat.

“Yang pertama penyaluran bantuan pangan bulan Februari dan Maret yaitu beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter per KK penerima manfaat. Jumlah penerima untuk kegiatan ini sebanyak 210 KK penerima manfaat,” jelasnya.

Dalam perspektif pembangunan sosial, bantuan pangan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar distribusi logistik. Ia merupakan instrumen perlindungan sosial yang menjaga ketahanan keluarga, terutama ketika sebagian masyarakat masih berhadapan dengan berbagai tekanan ekonomi.

Screenshot 2026 06 18 15 43 03 354 com.miui .gallery edit

Di desa-desa, kebutuhan pangan bukan hanya persoalan konsumsi, melainkan menyangkut keberlanjutan kehidupan keluarga. Karena itu, setiap bantuan yang sampai ke rumah warga sesungguhnya membawa pesan bahwa negara hadir dan tidak membiarkan masyarakat berjalan sendiri menghadapi kesulitan.

Atas nama masyarakat Desa Kuimasi, Maksen Lifu menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas bantuan yang telah diberikan.

“Kami juga atas nama masyarakat Desa Kuimasi menyampaikan terima kasih untuk penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng yang cukup membantu perekonomian masyarakat khususnya di tingkat keluarga yang mana bisa mengatasi pemenuhan kebutuhan makan minum dalam beberapa bulan ke depan dalam kondisi seperti ini,” ungkapnya.

Di balik angka 210 keluarga penerima manfaat, tersimpan ratusan cerita tentang dapur yang tetap berasap, anak-anak yang tetap dapat makan dengan layak, serta keluarga yang dapat sedikit bernapas lega di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Tidak hanya memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, Pemerintah Desa Kuimasi juga menaruh perhatian besar terhadap kesehatan warga.

Menurut Maksen Lifu, kegiatan kedua yang dilaksanakan adalah pemeriksaan kesehatan gratis sebagai tindak lanjut program pemerintah pusat.

“Kegiatan yang kedua adalah kegiatan pengecekan kesehatan gratis. Kami Pemerintah Desa Kuimasi menindaklanjuti program pemerintah pusat untuk melaksanakan pengecekan kesehatan gratis kemudian mendeteksi secara dini keluhan-keluhan ataupun potensi penyakit yang diderita oleh masyarakat,” katanya.

Dalam ilmu kesehatan masyarakat, deteksi dini merupakan strategi preventif yang sangat penting karena mampu mengidentifikasi potensi penyakit sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan berisiko.

Karena itu, pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara tentang mengobati penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup masyarakat agar tetap produktif dan sejahtera.

“Sekaligus bisa mengecek keaktifan daripada BPJS ataupun juga yang menerima BPJS bantuan pemerintah,” lanjutnya.

Melalui program tersebut, warga tidak hanya memperoleh layanan kesehatan, tetapi juga mendapatkan kepastian mengenai akses mereka terhadap jaminan kesehatan yang disediakan pemerintah.

Mendekatkan Negara kepada Masyarakat
Kegiatan ketiga yang dilaksanakan adalah pelayanan Samsat yang hadir langsung di Desa Kuimasi.

Bagi sebagian masyarakat pedesaan, akses terhadap layanan administrasi sering kali menjadi tantangan tersendiri karena jarak dan keterbatasan sarana transportasi. Karena itu, kehadiran pelayanan Samsat di tingkat desa menjadi bentuk nyata pendekatan pelayanan publik yang semakin dekat dan semakin mudah dijangkau masyarakat.

“Terkait dengan pelayanan Samsat kami juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah sehingga pelayanan Samsat bisa ada di Desa Kuimasi,” ujarnya putra berdarah Rote ini

Menurut Maksen Lifu, pelayanan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan.

“Untuk itu kami Pemerintah Desa Kuimasi tetap mendukung program pemerintah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, pemerintah desa bahkan telah mengajukan permohonan agar pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan dapat dilaksanakan bersamaan.

“Berhubung dengan kegiatan ini kami juga kemarin bersurat untuk dilakukan juga pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan baik itu pendaftaran baru ataupun pelunasan pajak dan juga tunggakan-tunggakan,” jelasnya.

Bagi Maksen Lifu, pembangunan tidak mungkin berhasil apabila hanya dikerjakan pemerintah. Pembangunan membutuhkan partisipasi masyarakat sebagai kekuatan utama yang menggerakkan perubahan.

“Nah ini semua kami lakukan bersama masyarakat untuk mendukung program pemerintah pusat, program pemerintah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan juga Pemerintah Kabupaten Kupang dalam hal ini untuk meningkatkan pendapatan asli daerah untuk mendukung berbagai pembangunan di daerah,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Desa Kuimasi untuk terlibat aktif dalam setiap program yang telah disiapkan pemerintah.

“Harapan saya sebagai kepala desa mengharapkan tingkat partisipasi daripada masyarakat. Pemerintah sudah punya tujuan baik, program baik untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, memperhatikan juga kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, setiap program yang dihadirkan pemerintah pada dasarnya bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun manfaat tersebut hanya akan optimal apabila masyarakat turut mengambil bagian di dalamnya

“Semua program sudah disediakan. Kami mendorong dan meminta kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap program pemerintah agar masyarakat mendapatkan hak-hak mereka baik itu mendapatkan bantuan pangan, pengecekan kesehatan gratis maupun pelayanan pembayaran pajak,” katanya.

Di akhir keterangannya, Maksen Lifu menegaskan bahwa pembangunan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat.

“Untuk itu kami berharap bahwa dengan bekerja sama berbagai jenis sektor, kolaborasi bersama berbagai dinas dan instansi, semua program pemerintah dapat kami laksanakan,” pungkasnya.

Di Desa Kuimasi, pembangunan hari ini tidak hanya berbicara tentang program dan angka statistik. Ia hadir dalam wajah-wajah masyarakat yang mulai merasakan manfaat pelayanan, dalam keluarga yang terbantu memenuhi kebutuhan pangan, dalam warga yang memperoleh pemeriksaan kesehatan, dan dalam tumbuhnya kesadaran bersama untuk membangun daerah.

Dan di tengah seluruh proses itu, Maksen Lifu memilih berdiri bukan sebagai penguasa desa, melainkan sebagai pelayan masyarakat. Sebab ia memahami bahwa jabatan pada akhirnya bukan tentang seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan tentang seberapa banyak kehidupan yang dapat disentuh dan diubah menjadi lebih baik.

Di sanalah makna sesungguhnya dari kepemimpinan desa ditemukan: ketika kebijakan berubah menjadi manfaat, ketika pelayanan berubah menjadi harapan, dan ketika pembangunan benar-benar terasa hingga ke pintu rumah masyarakat yang paling sederhana.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.