KUPANG, BBC – Ada kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang dari hati seorang perantau. Ia mungkin terdiam dalam kesibukan, bersembunyi di balik keberhasilan dan perjalanan hidup yang panjang, tetapi tetap hidup sebagai ingatan tentang akar, leluhur dan kampung halaman.

Kerinduan itulah yang pada Selasa (16/06/2026) menemukan bentuknya di atas sebidang tanah di Kaniti, Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, ketika batu pertama pembangunan Sekretariat Tongkonan Kerukunan Keluarga Toraja Nusa Tenggara Timur resmi diletakkan.

Momentum tersebut bukan sekadar dimulainya pembangunan sebuah bangunan fisik. Ia merupakan penanda sejarah, sebuah titik temu antara masa lalu dan masa depan, antara warisan leluhur dan cita-cita generasi penerus. Di atas tanah itu, masyarakat Toraja di Nusa Tenggara Timur menanam bukan hanya fondasi bangunan, melainkan juga fondasi identitas, persaudaraan dan harapan yang telah dirawat selama puluhan tahun di tanah rantau.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Kupang Yosef Lede menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan strategis yang harus terus dirawat sebagai modal sosial pembangunan daerah.

Dalam pandangannya, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga harmoni sosial dalam keberagaman.

Menurut Yosef Lede, Kabupaten Kupang merupakan miniatur Indonesia yang dibangun di atas fondasi kebhinekaan. Berbagai suku, budaya, bahasa dan tradisi hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan yang sama.

“Kabupaten Kupang adalah rumah bersama dalam bingkai NKRI. Kita hidup dalam keberagaman, ada masyarakat Timor, Rote, Flores, Sabu, Jawa, Sumatra, Kalimantan, termasuk saudara-saudara kita dari Toraja. Semua adalah bagian dari keluarga besar Indonesia,” ujar Yosef Lede.

Pernyataan tersebut mengandung makna yang mendalam dalam perspektif pembangunan sosial. Dalam berbagai kajian akademik, keberagaman yang dikelola melalui dialog, toleransi dan pembauran yang sehat akan melahirkan modal sosial yang kuat, yang pada akhirnya menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan kemajuan daerah. Karena itu, keberagaman bukanlah tantangan yang harus dihindari, melainkan kekayaan yang harus dirawat dan diberdayakan.

Bupati Kupang juga menyampaikan apresiasi atas pembangunan Sekretariat Tongkonan yang menurutnya menjadi simbol nyata eksistensi dan kontribusi masyarakat Toraja dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Kupang.

Kehadiran masyarakat Toraja selama ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya daerah, tetapi juga menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial yang tumbuh harmonis bersama masyarakat lokal.

Menurut Yosef Lede, masyarakat Toraja telah menunjukkan bagaimana identitas budaya dapat tetap dijaga tanpa kehilangan semangat untuk berbaur dan membangun kehidupan bersama.

Karena itu, ia berharap Tongkonan yang akan dibangun tidak hanya menjadi rumah bagi masyarakat Toraja, tetapi juga menjadi ruang sosial yang terbuka bagi seluruh masyarakat.

“Rumah ini jangan hanya menjadi tempat berkumpul orang Toraja semata, tetapi harus menjadi rumah berkat bagi semua. Tempat yang menghadirkan persaudaraan, gotong royong dan semangat membangun bersama,” tambahnya.

Dalam makna yang lebih luas, pesan tersebut menegaskan bahwa rumah budaya tidak boleh menjadi simbol eksklusivitas, melainkan ruang perjumpaan yang mempertemukan perbedaan.

Tongkonan diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan identitas budaya dengan semangat kebangsaan, tempat di mana nilai-nilai luhur diwariskan tanpa membatasi persaudaraan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan nilai persatuan dan pembauran sosial, Pemerintah Kabupaten Kupang, lanjut Yosef Lede, akan memberikan dukungan terhadap pembangunan sekretariat tersebut sesuai kemampuan daerah.

Sementara itu, Ketua Umum Kerukunan Keluarga Toraja NTT, Daud Pulo Mangesa, menjelaskan bahwa pembangunan Tongkonan merupakan pengejawantahan dari cita-cita panjang masyarakat Toraja yang telah hidup dan berproses di Nusa Tenggara Timur sejak tahun 1939.

Menurutnya, sejarah kehadiran masyarakat Toraja di NTT bukan hanya cerita tentang perpindahan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain. Lebih dari itu, sejarah tersebut adalah kisah panjang tentang pembauran, adaptasi dan persaudaraan yang tumbuh dari generasi ke generasi.

“Kami memang keturunan Toraja, tetapi kami juga adalah orang NTT. Kami adalah bagian dari masyarakat Kupang, Flores, Sumba dan seluruh wilayah NTT. Karena itu, Tongkonan ini menjadi simbol rumah kedua kami di tanah rantau,” ungkap Daud.

Ungkapan tersebut mencerminkan sebuah identitas kebangsaan yang matang. Masyarakat Toraja tetap menjaga warisan budaya leluhur, namun pada saat yang sama melebur menjadi bagian yang utuh dari kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Melalui interaksi sosial, pembauran budaya, dan ikatan kekeluargaan yang lahir dari perkawinan antarsuku, masyarakat Toraja telah menjadi bagian tak terpisahkan dari mozaik kebudayaan NTT.

Daud menjelaskan bahwa Tongkonan yang akan dibangun memiliki filosofi yang sangat mendalam. Dalam tradisi Toraja, Tongkonan bukan hanya rumah tinggal, tetapi pusat kehidupan sosial, budaya, spiritual dan kekeluargaan.

Bentuk atapnya yang menjulang ke langit melambangkan doa dan pengharapan yang terus diarahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi simbol hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta sekaligus pengingat bahwa setiap perjalanan hidup harus berpijak pada nilai-nilai luhur dan spiritualitas.

Karena itu, pembangunan Tongkonan tidak semata-mata dimaksudkan sebagai pembangunan fisik, tetapi sebagai pembangunan peradaban budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang.
Tongkonan tersebut dirancang memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai rumah persatuan, rumah budaya dan rumah berkat.

Sebagai rumah persatuan, Tongkonan akan menjadi wadah pemersatu sekitar 23 kelompok keluarga Toraja dari berbagai kampung asal di Tana Toraja. Sebagai rumah budaya, bangunan tersebut akan menjadi pusat pelestarian nilai-nilai luhur budaya Toraja yang diwariskan secara turun-temurun.

Sedangkan sebagai rumah berkat, Tongkonan diharapkan mampu menghadirkan manfaat bukan hanya bagi masyarakat Toraja, tetapi juga bagi seluruh masyarakat NTT.

Lebih lanjut, Daud mengungkapkan bahwa pembangunan sekretariat tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp1,2 miliar. Meski nilai tersebut tidak kecil, ia meyakini bahwa semangat gotong royong yang telah menjadi denyut kehidupan masyarakat Toraja akan mampu mewujudkan pembangunan tersebut.

“Kami yakin, dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, Tongkonan ini akan berdiri sebagai simbol identitas, persatuan dan berkat bagi semua,” tegasnya.

Keyakinan itu lahir dari sejarah panjang masyarakat Toraja yang selalu menjadikan kebersamaan sebagai energi pembangunan.

Dalam kebudayaan Toraja, gotong royong bukan hanya tradisi sosial, melainkan nilai peradaban yang mengajarkan bahwa pekerjaan besar hanya dapat diselesaikan melalui persatuan hati dan tindakan bersama.

Karena itu, peletakan batu pertama ini sesungguhnya bukan hanya tentang pembangunan sebuah sekretariat. Ia adalah pembangunan memori kolektif, pembangunan identitas dan pembangunan ruang kebudayaan yang akan menyimpan jejak perjalanan masyarakat Toraja di Nusa Tenggara Timur.

Di tanah rantau yang selama puluhan tahun telah menjadi rumah kedua, batu pertama itu akhirnya diletakkan. Bersamanya tertanam doa-doa para leluhur, harapan generasi masa kini dan cita-cita anak cucu yang akan datang.

Kelak, ketika Tongkonan itu berdiri megah, ia tidak hanya menjadi bangunan yang terlihat oleh mata, tetapi juga menjadi monumen persaudaraan yang mengajarkan bahwa sejauh apa pun manusia merantau, akar budaya dan nilai-nilai kebersamaan akan selalu menemukan jalan untuk pulang.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Kupang David Daud, Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur Alfred Tasik Palullungan, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang Yupiter Selan, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan NTT Theodorus Widodo, Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Kupang Jane Paoe, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Kupang Benidiktus Selan, Camat Kupang Tengah Yunisthya Padja, Lurah Tarus Beby Lubalu, serta tokoh masyarakat dan warga Toraja dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur.