Kupang, BBC – Kehidupan seorang lansia kerap menjadi cermin kesendirian, kesabaran, sekaligus kekuatan hati. Itulah yang tergambar dari sosok Oma Terfina Lake, seorang perempuan renta berusia sekitar 90 tahun yang tinggal seorang diri di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.
Di usia senjanya, Oma Terfina menghuni sebuah gubuk sederhana berdinding bebak, berlantai tanah dan beratap daun. Meski kondisi fisiknya rapuh, senyum tulus masih menyertai wajahnya.
Pada Jumat, 19 September 2025, pukul 14.30 WITA, kebahagiaan sederhana itu kembali hadir ketika ia dijenguk oleh Bhabinkamtibmas Polsek Fatuleu, I Wayan Bagyaartha bersama Sekretaris Desa Tolnaku, Jemi Yanrey Bait.
Di hadapan pintu gubuknya, Oma Terfina ditemani oleh asam yang selalu menjadi sahabat kesepiannya. Saat melihat kedatangan polisi berseragam lengkap, wajah Oma seketika merekah bahagia.
Tanpa ragu, I Wayan Bagyaartha duduk di tanah di samping Oma, disusul Sekretaris Desa Jemi Yanrey Bait. Mereka bertiga larut dalam kebersamaan sederhana: mengupas asam bersama.
Dengan kelembutan, Bhabinkamtibmas bertanya kepada Oma apakah ia sudah makan. Dengan tersenyum, Oma menjawab lirih, “Sudah, Pak.” Sambil mengupas asam, Oma mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Ia menuturkan bahwa sejak zaman Belanda, keluarganya sudah ada di tanah ini, melewati pahit getir kehidupan dengan tabah.
Hidup di gubuk reyot yang hampir roboh, Oma Terfina menjalani hari-hari tanpa keluarga yang mendampingi. Hanya doa, kesabaran dan rasa syukur yang menjadi teman setia.
Ketika ditanya soal persediaan pangan, ia menjawab dengan tenang, “Beras masih ada satu karong.” Jawaban sederhana itu justru menorehkan luka di hati siapa pun yang mendengar, karena mengingatkan betapa rentannya kehidupan di usia senja.
Namun di balik segala keterbatasan itu, Oma tetap menuturkan rasa syukurnya. Dengan bahasa Indonesia yang baik, ia menyampaikan bahwa hanya Tuhan yang mampu membalas segala kebaikan aparat kepolisian yang peduli kepadanya.
Kunjungan sederhana ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata bahwa kepolisian hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, melainkan juga pelindung, pengayom dan sahabat rakyat kecil.
Kehangatan yang dibawa oleh Bhabinkamtibmas dan Sekretaris Desa Tolnaku menjadi bukti bahwa kehadiran negara harus menyentuh mereka yang paling lemah.
Air mata bahagia Oma Terfina adalah kesaksian nyata bahwa perhatian kecil pun dapat menghidupkan kembali harapan.
Dalam senyum tulusnya, tersimpan pesan mendalam: kemuliaan hidup bukan ditentukan oleh materi, melainkan oleh kasih sayang dan kepedulian.
Kisah ini mengajarkan bahwa masih banyak Oma Terfina lain yang tersembunyi di pelosok desa. Mereka menanti uluran tangan, sekadar perhatian atau sebungkus beras untuk bertahan hidup.
Pemerintah, aparat dan masyarakat perlu menjadikan pengalaman ini sebagai panggilan moral untuk lebih peduli terhadap para lansia yang hidup dalam kesendirian.
Karena sesungguhnya, dalam diri seorang lansia seperti Oma Terfina, tersimpan sejarah, pengalaman dan doa yang tak ternilai.
Menyentuh hati mereka adalah menghormati perjalanan panjang kehidupan, serta menegaskan kembali bahwa kemerdekaan dan pembangunan tidak boleh meninggalkan satu pun jiwa yang lemah dan rapuh.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
