BB – Terik menyapa tanah Amfoang,Debu menari di setiap ruang,Tapi dari situ lahir bintang terang,dari lapangan sederhana di Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, tumbuh semangat yang tak tergoyahkan—sportivitas dan persaudaraan.
Itulah yang tergambar dalam penutupan Glory Cup VI Tahun 2025, yang ditutup secara resmi oleh Bupati Kupang, Yosef Lede, Senin (7/7/2025).
Turnamen ini bukan sekadar ajang pertandingan, melainkan panggung pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai sosial.
Diselenggarakan oleh pemuda-pemudi GMIT Glory Manufui, Glory Cup tahun ini diikuti oleh 29 tim dari seluruh daratan Amfoang, menjadikannya sebagai salah satu turnamen bergengsi di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang.
Pertandingan final mempertemukan Kancas FC (Amfoang Barat Laut) dengan Palma FC (Amfoang Utara). Laga yang berlangsung sengit tersebut ditutup dengan kemenangan Kancas FC, yang menorehkan skor akhir 2–1 dan menyabet gelar juara Glory Cup VI Tahun 2025.
“Bukan hanya menang yang jadi tujuan, tetapi nilai-nilai yang ditanam di dalam perjuangan,” ujar Bupati Yosef Lede dengan penuh makna.
Ia menekankan pentingnya sportivitas sebagai pilar utama dalam dunia olahraga. Menurutnya, sportivitas adalah cerminan keadilan, ketulusan dan rasa saling menghargai, yang menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang damai dan berbudaya.
“Kota boleh megah, tapi kampung punya hikmah.”
Ungkapan ini mencerminkan pandangan Yosef Lede yang menilai bahwa masyarakat di wilayah pedalaman mampu menghadirkan penyelenggaraan turnamen yang rapi, bersih dari konflik dan menjunjung tinggi etika pertandingan.
“Sering kali, kota belajar dari kampung. Kita di sini menunjukkan bahwa dengan kebersamaan, sesuatu yang besar bisa diwujudkan tanpa kekisruhan,” tegasnya.
Sebagai bentuk konkret dukungan terhadap pembangunan dunia olahraga, Yosef Lede menyampaikan bahwa Glory Cup akan diintegrasikan dalam agenda rutin PSSI Kabupaten Kupang dan akan didukung secara penuh oleh Pemerintah Daerah, termasuk dari sisi pembiayaan dan pembinaan talenta lokal.
Bupati juga menyampaikan rencana untuk membuka partisipasi turnamen ke tingkat regional, membuka ruang persaingan yang lebih sehat dan kompetitif.
“Bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling setia melatih semangat. Tahun depan, Glory Cup harus jadi ruang tumbuh bagi seluruh NTT, bukan hanya Amfoang.”
Ia juga mencatat beberapa pemain muda dari Amfoang yang menampilkan kualitas permainan yang menonjol, dan berencana mengikutsertakan mereka dalam seleksi PSK Kupang yang akan berlaga pada Eltari Memorial Cup di Ende, Agustus 2025.
Tak lupa, apresiasi disampaikan kepada GMIT Glory Manufui, yang telah membuktikan bahwa gereja mampu berperan sebagai agen pemersatu, bukan hanya dalam aspek spiritual tetapi juga dalam pembangunan sosial dan karakter anak bangsa.
“Gereja kini tidak hanya mengajar dari altar, tetapi menyentuh hati masyarakat dari lapangan bola. Inilah teologi yang membumi—menghimpun semua dalam damai dan keadilan,” tutur Yosef Lede.
Ketua ASKAB PSSI Kabupaten Kupang, Teldi Sanam, menilai bahwa Glory Cup telah menjadi ladang subur bagi lahirnya bibit-bibit unggul sepakbola Kabupaten Kupang.
Dengan penyelenggaraan yang rapi meskipun penuh keterbatasan, turnamen ini dinilainya layak dijadikan model pengembangan olahraga di daerah.
“Di mana ada semangat, di situ ada jalan. Di mana ada sportivitas, di situ lahir masa depan,” ujarnya penuh harap.
Glory Cup VI 2025 telah menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi semangat juang.
Justru dari pinggiran, muncul teladan dan harapan baru bagi olahraga dan persaudaraan di Kabupaten Kupang.
