BB — Di tengah angin sepoi khas pegunungan Fatuleu dan suasana haru penuh kebersamaan, masyarakat Dusun Tiga Oelhue, Desa Oelbiteno, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, menandai tonggak sejarah penting, Rabu 02 Juli 2025
peletakan batu pertama pembangunan Polindes (Pondok Bersalin Desa) yang selama ini didambakan.
Gedung berukuran 5×8 meter ini dibangun dengan total anggaran Rp150.841.000 yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025.
Lokasinya strategis, berada di jantung Dusun Tiga Oelhue, menjawab kebutuhan mendesak masyarakat akan fasilitas kesehatan yang dekat, cepat dan manusiawi—khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak-anak.
Acara peletakan batu pertama dimulai dengan ibadah bersama yang khidmat, dipimpin oleh Ketua Majelis Jemaat Efrata Oelhue, Pdt. Selviana Daga Wahi, S.Th.
Doa-doa dan puji-pujian yang dinaikkan menjadi simbol spiritual bahwa pembangunan ini tidak sekadar fisik, melainkan juga menjadi “bangunan iman dan harapan” bagi masyarakat.
Kehadiran Camat Fatuleu Tengah, Amli Bait, Kepala Desa Oelbiteno, Heskial Naben, serta Ketua Majelis Jemaat disambut secara adat melalui tarian tradisional Fatuleu, mempertegas bahwa pembangunan ini bersandar pada nilai budaya, persaudaraan dan gotong royong.

Dalam sambutannya, Camat Fatuleu Tengah, Amli Bait menegaskan bahwa pembangunan Polindes ini adalah manifestasi nyata dari komitmen pemerintah terhadap pelayanan kesehatan yang inklusif dan merata.
“Kondisi geografis dan jalan yang masih sulit dijangkau tak boleh jadi penghalang bagi pelayanan kesehatan. Lewat Dana Desa, kita hadirkan solusi nyata. Tapi ingat, bangunan ini harus dijaga, karena dibangun dari uang rakyat,” tegas Amli Bait dengan nada penuh tanggung jawab.
Sementara itu, Kepala Desa Oelbiteno, Heskial Naben menyampaikan bahwa pembangunan ini merupakan hasil dari proses Musrenbangdus (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa) yang partisipatif dan demokratis.

“Semua ini bukan karena saya sendiri, tapi karena kerja sama seluruh elemen—pemerintah desa, BPD, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat. Sekarang mari kita jaga, rawat, dan manfaatkan fasilitas ini untuk kebaikan bersama,” ungkapnya penuh syukur.
Pembangunan Polindes ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi merupakan bagian dari upaya besar menciptakan kemandirian desa dalam layanan dasar kesehatan.
Ketika akses ke puskesmas atau rumah sakit masih sulit, kehadiran Polindes menjadi penyelamat hidup, terutama bagi ibu dan bayi dalam kondisi darurat.
Secara nyata, pembangunan ini mencerminkan implementasi nyata dari Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, di mana desa diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya, termasuk dalam hal pelayanan kesehatan dasar.
Pembangunan Polindes ini menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana dana desa dapat digunakan secara bijak, tepat sasaran, dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Dusun Tiga Oelhue kini bukan lagi wilayah yang terpinggirkan dari segi pelayanan kesehatan, tapi sedang tumbuh menjadi pusat harapan baru.
Sebagaimana angin Fatuleu yang lembut dan membelai, pembangunan ini membawa pesan: desa bisa bangkit, masyarakat bisa mandiri, dan kesehatan bisa lebih dekat dari sebelumnya.
Dana desa bukan sekadar angka di atas kertas, tapi harapan yang kini berdiri kokoh di tengah masyarakat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
