KUPANG, BBC — Masa depan pertanian tidak cukup hanya bergantung pada luasnya lahan dan ketekunan petani dalam mengolah tanah. Lebih dari itu, kemajuan sektor pertanian membutuhkan pengetahuan, inovasi, pemilihan benih unggul, serta penerapan teknik budidaya yang tepat agar setiap jengkal tanah mampu memberikan hasil yang produktif dan bernilai ekonomi.

Semangat transformasi pertanian tersebut mulai terlihat di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada Kamis (5/11/2026) siang, Manuel Silvano dari PT BISI International Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang perbenihan, datang mengunjungi lahan pertanian milik Emiritus Pdt. Petrus Bani di Desa Tolnaku.

Kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung kondisi kebun milik Pdt. Petrus Bani yang memiliki luas kurang lebih satu hektare. Peninjauan itu berkaitan dengan proses pengadaan benih untuk persiapan kegiatan penanaman pada musim hujan mendatang.

Kehadiran Manuel Silvano bukan sekadar kunjungan untuk melihat hamparan lahan pertanian. Momentum tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai bagaimana petani dapat mulai meninggalkan pola budidaya yang hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun dan beralih menuju sistem pertanian yang lebih modern, terukur, serta berorientasi pada peningkatan produktivitas.

Screenshot 2026 11 05 22 26 14 965 com.miui .gallery edit

Selama bertahun-tahun, sebagian petani di wilayah pedesaan mengembangkan usaha pertanian berdasarkan pengalaman, kebiasaan dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Pengalaman tersebut merupakan modal penting yang tidak boleh diabaikan. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian menuntut adanya pembaruan cara berpikir dan metode pengelolaan lahan.

Petani masa kini perlu memahami bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh proses menanam dan menunggu hasil panen. Ada sejumlah tahapan penting yang harus diperhatikan, mulai dari pemilihan benih, pengolahan tanah, pengaturan jarak tanam, pemupukan, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman, hingga pengelolaan air serta penanganan hasil panen.

Dengan demikian, pertanian modern bukan sekadar mengganti benih lama dengan benih baru, melainkan membangun keseluruhan sistem budidaya yang lebih baik berdasarkan pengetahuan dan kebutuhan tanaman.

Kehadiran Manuel Silvano di lahan pertanian Emiritus Pdt. Petrus Bani memberikan gambaran bahwa kemajuan pertanian dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni membuka diri terhadap informasi, pendampingan dan inovasi.

Dalam kesempatan tersebut, Manuel Silvano juga menawarkan benih BISI kepada pemilik lahan serta memperkenalkan cara penanaman yang benar.

Pengenalan benih dan teknik budidaya menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kegiatan pertanian, terutama menjelang musim hujan. Sebab, pemilihan benih harus disesuaikan dengan kondisi lahan, karakteristik lingkungan, ketersediaan air, serta tujuan produksi petani.

Petani juga perlu memahami bahwa benih berkualitas harus didukung dengan teknik penanaman yang sesuai. Benih yang baik tidak akan memberikan hasil optimal apabila proses budidayanya tidak dilakukan secara benar.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan petani dalam mengembangkan pertanian modern antara lain:
Pemilihan benih berkualitas. Petani perlu memilih benih yang sesuai dengan kondisi agroklimat, jenis tanah dan kebutuhan budidaya.

Pengolahan lahan secara terencana. Tanah harus dipersiapkan dengan memperhatikan struktur, kesuburan, drainase, serta kemampuan lahan mendukung pertumbuhan tanaman.

Pengaturan jarak tanam. Jarak tanam yang tepat membantu tanaman memperoleh ruang tumbuh, cahaya matahari, air dan unsur hara secara lebih optimal.

Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman. Penggunaan pupuk perlu disesuaikan dengan kondisi tanah dan fase pertumbuhan tanaman, bukan semata-mata berdasarkan kebiasaan.

Pengelolaan air dan musim tanam. Petani perlu memanfaatkan musim hujan secara cermat, termasuk memperhatikan saluran pembuangan air agar lahan tidak mengalami genangan yang merugikan tanaman.

Pengendalian hama dan penyakit. Pengamatan tanaman secara berkala penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini dan menentukan langkah pengendalian yang tepat.

Pencatatan biaya dan hasil produksi. Petani perlu menghitung pengeluaran, kebutuhan sarana produksi, hasil panen, serta potensi keuntungan agar kegiatan pertanian dapat dikelola secara ekonomis.

Penerapan prinsip-prinsip tersebut dapat membantu petani mengembangkan pola usaha tani yang lebih efisien, produktif dan berkelanjutan.

Lahan seluas kurang lebih satu hektare milik Emiritus Pdt. Petrus Bani menjadi ruang awal untuk melihat bagaimana pengelolaan pertanian dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih modern.

Luas lahan memang menjadi salah satu faktor produksi. Namun, kualitas pengelolaan, ketepatan pemilihan komoditas, penggunaan benih, serta penerapan teknologi budidaya juga menentukan keberhasilan usaha pertanian.

Petani tidak harus selalu memiliki lahan yang sangat luas untuk memulai pembaruan. Lahan yang tersedia dapat dikelola secara optimal melalui perencanaan yang baik, penggunaan sarana produksi secara tepat dan evaluasi hasil setiap musim tanam.

Jika pengelolaan dilakukan secara terukur, lahan pertanian dapat menjadi sumber penghidupan yang lebih menjanjikan bagi keluarga petani.

Karena itu, petani perlu mulai membangun kebiasaan baru, yakni tidak hanya bekerja keras di kebun, tetapi juga bekerja berdasarkan pengetahuan, perhitungan dan perkembangan teknologi.

Desa Tolnaku memiliki ruang untuk terus mengembangkan potensi pertaniannya. Perubahan pola pertanian tidak harus dilakukan secara serentak, tetapi dapat dimulai dari individu petani yang bersedia belajar dan menerapkan metode baru.

Kunjungan Manuel Silvano ke kebun Emiritus Pdt. Petrus Bani memperlihatkan pentingnya hubungan antara petani dan pihak yang memiliki pengetahuan serta pengalaman di bidang perbenihan.

Interaksi semacam ini dapat menjadi kesempatan bagi petani untuk memperoleh pemahaman mengenai karakteristik benih, kebutuhan tanaman dan teknik budidaya yang sesuai.

Petani juga perlu memiliki keberanian untuk bertanya, membandingkan metode penanaman, mengikuti perkembangan informasi pertanian, serta mengevaluasi hasil produksi dari setiap musim tanam.

Modernisasi pertanian bukan berarti meninggalkan seluruh pengetahuan lokal. Sebaliknya, pengalaman petani yang telah diwariskan selama bertahun-tahun dapat dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk menghasilkan sistem pertanian yang lebih adaptif.

Di tengah tantangan perubahan iklim, ketidakpastian musim, biaya produksi dan kebutuhan pangan yang terus berkembang, petani dituntut semakin cerdas dalam mengambil keputusan.

Pertanian masa depan membutuhkan petani yang bukan hanya mengenal cangkul dan tanah, tetapi juga memahami benih, teknologi, pengelolaan sumber daya, serta perhitungan ekonomi usaha tani.

Dari kebun seluas kurang lebih satu hektare di Desa Tolnaku, semangat pembaruan itu dapat menjadi awal pembelajaran bahwa tanah yang dikelola dengan ilmu pengetahuan, ketekunan dan perencanaan yang tepat memiliki peluang untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi kehidupan petani.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.