BB – Pantai Teres, yang berlokasi di Desa Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, pernah menjadi simbol besar untuk kemajuan ekonomi lokal.
Dengan dana investasi fantastis mencapai Rp 40 miliar yang bersumber dari APBD, proyek ini diharapkan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan menjadi daya tarik wisata utama.
Namun, harapan besar ini tampaknya memudar, meninggalkan potret suram dari pengelolaan yang dianggap gagal dan tanpa perhatian.
Tim Media yang mengunjungi Pantai Teres belum lama ini menemukan kondisi yang sangat memprihatinkan. Bangunan utama yang dirancang sebagai aula pertemuan dan kafe justru tak terawat dan terbengkalai.
Aula berdebu, kotor, dan dipenuhi sarang serangga. Sementara itu, bangunan yang seharusnya menjadi kafe terlihat lebih mirip kandang, dengan kotoran sapi berserakan di pintu masuk hingga ke bagian dalam ruangan.
Lebih mengejutkan lagi, kolam renang yang dibangun di samping kafe yang seharusnya menjadi daya tarik utama kini kosong, retak, dan tak terisi air.
Beberapa instalasi kabel juga tampak rusak, sebagian dibiarkan tergeletak di tanah, menambah kesan bahaya dan ketidakpedulian.
Di sekitar bangunan, atap yang terbuat dari daun sudah berlubang di berbagai titik, dan tumbuhan liar tumbuh tak terkendali, menutupi sebagian besar area.
Pantai Teres diresmikan pada 29 April 2023 oleh Bupati Kupang saat itu, Korinus Masneno. Proyek yang diharapkan mampu menggeliatkan perekonomian Kabupaten Kupang kini justru menjadi contoh nyata dari pengelolaan yang dianggap gagal.
Kondisinya yang tak terurus seolah mengabaikan besarnya anggaran yang telah dikucurkan dan harapan masyarakat untuk menikmati manfaat ekonomi dari wisata tersebut.
Ironisnya, proyek yang pernah menjadi kebanggaan ini malah berubah menjadi beban. Tidak adanya pemeliharaan rutin dan pengawasan menyebabkan fasilitas yang seharusnya menjadi penopang wisata ini tampak tak layak dan tak menarik bagi pengunjung.
Padahal, Pantai Teres seharusnya menjadi aset penting yang mendukung ekonomi dan mendatangkan penghasilan bagi masyarakat setempat.
Kondisi Pantai Teres yang terbengkalai ini memicu keprihatinan masyarakat. Banyak yang mempertanyakan arah pengelolaan wisata ini dan komitmen pemerintah daerah terhadap proyek besar seperti Pantai Teres.
Berharapnya ada langkah nyata dari pemerintah untuk memperbaiki fasilitas yang telah rusak, menata ulang kawasan wisata, dan melakukan pemeliharaan rutin agar proyek ini tidak hanya menjadi simbol kemunduran, melainkan aset ekonomi jangka panjang.
Publik mendesak agar pemerintah segera melakukan audit dan penataan ulang untuk menghindari pemborosan dana APBD yang tidak berdampak nyata.
Kolaborasi dengan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata ini juga dapat menjadi solusi jangka panjang agar Pantai Teres bisa berkembang sesuai dengan harapan dan investasi besar yang telah dikeluarkan.
