BB – Dalam suasana tenang di bawah langit mendung Desa Nonbaun, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, mantan Kepala Desa Nehemia Tfuakan mengenang kembali salah satu momen paling menyakitkan dalam perjalanan kepemimpinannya.
Suaranya lirih, namun sarat dengan emosi yang sulit disembunyikan. Ia bercerita tentang harapan yang dikhianati dan luka yang belum sembuh hingga hari ini.
Pada tahun 2019, Nehemia bersama warga Desa Nonbaun datang langsung ke ruang kerja Bupati Kupang kala itu. Mereka datang dengan penuh hormat, membawa niat tulus dalam balutan adat, untuk memohon pembangunan akses jalan vital yang menghubungkan Desa Nonbaun dengan Desa Passi. Jalan itu adalah nadi kehidupan, penghubung ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
Namun apa daya, harapan mereka pupus dalam sekejap, saat sang bupati menjawab dingin:
“Desa Nonbaun? Saya hanya dapat empat suara di sana.”
Kalimat itu mengguncang hati mereka.
“Kami terdiam. Saat itu saya tahu, perjuangan kami sia-sia. Kami bukan dilihat sebagai rakyat, tapi sebagai angka dalam kotak suara,” ucap Nehemia dengan mata berkaca-kaca.
Ia menuturkan bahwa meskipun pilihan politik boleh berbeda, setelah pemilu usai, seharusnya semua warga diperlakukan setara. Namun kenyataannya, Nonbaun terasa seperti desa yang diasingkan — dipinggirkan karena berbeda pilihan.
“Kami pikir itulah demokrasi — bebas memilih. Tapi ternyata, beda pilihan berarti beda perlakuan,” katanya dengan penuh sesal.
Sudah bertahun-tahun jalan itu rusak parah. Saat musim hujan, tanah menjadi lumpur licin. Saat kemarau, debu mengepul memenuhi paru-paru.
Anak-anak harus berjalan kaki melewati medan berat untuk sampai ke sekolah. Ibu hamil kesulitan dibawa ke puskesmas. Hasil pertanian sulit dijual karena akses nyaris tak bisa dilewati kendaraan.
“Kami merasa seolah bukan bagian dari Kabupaten Kupang. Kami hanya ingin diperhatikan, bukan dikasihani,” ungkap Nehemia.
Meski dikecewakan, warga Nonbaun tidak tinggal dalam luka. Mereka bangkit dan menaruh harapan baru pada pasangan pemimpin terpilih saat ini, Yosef–Aurum, yang saat kampanye pernah mengunjungi langsung desa mereka, menyaksikan sendiri kondisi jalan dan mendengar langsung keluh kesah warga.
“Kali ini kami tidak salah. Desa Nonbaun 100 persen berikan dukungan untuk Yosef dan Aurum. Kami percaya, mereka datang bukan hanya untuk janji, tapi untuk benar-benar membangun,” tegas Nehemia, dengan nada yang mulai membaik.
Nehemia berharap agar pengalaman pahit di masa lalu menjadi pelajaran bagi semua pemimpin ke depan. Bahwa suara rakyat bukan sekadar angka pemilu, melainkan amanah yang harus dijaga, dihormati, dan diwujudkan dalam kerja nyata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
